Pengelolaan air bersih oleh masyarakat suku Uma’ Lung, Desa Wisata Setulang. (GIZ FORCLIME UNTUK RADAR TARAKAN)


Sempat mengikuti Equator Prize 2019 dalam ajang bergengsi United Nations Development Programs (UNDP), Kecamatan Malinau Selatan Hilir, tepatnya Desa Wisata Setulang direkomendasikan kembali unjuk kelestarian hutannya di Equator Prize 2020.

 

LISAWAN YOSEPH LOBO, Malinau

 

DI tengah maraknya pembukaan lahan baru, suku Uma’ Lung bersikeras menjaga ribuan hektare hutan di Desa Wisata Setulang, Kecamatan Malinau Selatan Hilir, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara).

Berkat kegigihan dan kekompakan warga setempat, tidak tanggung-tanggung, 2020 ini direkomendasikan kembali oleh United Nations Development Programs (UNDP) atau Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, untuk mengikuti ajang bergengsi antarkomunitas suku adat di belahan dunia.

Pada 2019 lalu, Desa Wisata Setulang ini sempat mengikuti Equator Prize 2019. Meski belum membuahkan hasil yang manis, justru kabar membanggakan kembali datang pada 2020 ini. Provinsi Kaltara patut berbangga dengan Desa Wisata Setulang, Malinau yang direkomendasikan langsung oleh UNDP untuk kembali berpartisipasi dalam ajang Equator Prize 2020.

Bukan tanpa alasan. Tak hanya kondisi alamnya yang mendukung. Flora dan fauna di dalam hutannya ini juga dipagari ketat oleh hukum adat. Dinilai sangat cocok dengan tema Equator Prize 2020, yakni tentang ekosistem alam.

“Tentunya ini kabar baik bagi kami, karena direkomendasikan untuk ikut kegiatan tersebut pada 2020 ini. Karena tema kali ini lebih cocok dengan Desa Setulang, karena benar-benar kembali ke alam,” kata Eka Setiawan selaku Camat Malinau Selatan Hilir kepada Radar Tarakan (Grup Kalteng Pos), Kamis (9/1).

 

Lantas, apa keistimewaan Desa Setulang ini? Konon, Kabupaten Malinau termasuk salah satu kabupaten konservasi di Indonesia yang dideklarasikan pada 14 tahun silam, tepatnya 5 Juli 2005. Wilayah itu ditetapkan sebagai kawasan Hearth of Borneo alias Jantung Borneo.

Nah, salah satu wilayahnya yang memiliki kawasan hutan lindung atau Tane’ Olen adalah Desa Wisata Setulang ini. Hutan ini juga disebut hutan larangan, karena dilindungi hukum adat suku setempat. Luasnya sekitar 5.314 hektare. Di wilayah ini mayoritas didiami oleh suku Dayak Kenyah subsuku Uma’ Long.

Konon di hutan ini terdapat flora dan fauna yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Yang menariknya adalah bentuk kepedulian dan upaya yang dilakukan suku Dayak Uma’ Long untuk melindungi dan melestarikan hutan itu.

Padahal sekarang ini banyak tawaran untuk pembukaan lahan baru. Namun, suku Uma’ Long teguh pada pendirian mereka sejak leluhurnya. Tidak ingin mengorbankan hutan.

Konon dari hutan itulah yang menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Tidak tanggung-tanggung, suku Uma’ Long memberlakukan hukum adat pada Tane’ Olen demi menjunjung tinggi kelestarian flora dan fauna di dalam hutan itu. Menebang sebatang pohon pun tidak diperkenankan oleh masyarakat setempat melalui hukum adat. Alhasil, hingga sekarang ini Tane’ Olen masih menjadi hutan yang asri. Beragam flora dan fauna ada di dalamnya.

“Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Malinau sangat mendukung Desa Wisata Setulang ikut lomba tersebut. Bentuk perhatian lainnya dari Bupati Malinau, komitmen dan mendukung inisiatif inovatif dari masyarakat suku Uma’ Long. Misalnya, membangun fasilitas serta sarana dan prasarana untuk mendukung Desa Wisata Setulang,” bebernya.

Selain Pemerintah Kabupaten Malinau, tentu masyarakat Malinau Selatan Hilir juga mengharapkan dukungan dari seluruh masyarakat Kalimantan Utara dalam ajang Equator Prize 2020 ini.

“Kegaitan ini juga difasilitasi oleh GIZ Forclime. Harapan kami, Desa Wisata Setulang bisa mendapatkan penghargaan. Karena ini penghargaan tingkat dunia. Karena ini penganugerahan per benua,” tutupnya. (*/ce/eza)

1 2

Editor :
Reporter :

You Might Also Like