JPU Een Hosana mendengarkan keterangan saksi ahli dari BKSDA Kalteng Nur Wahid Wahyudi, yang memberi penjelasan di hadapan majelis hakim dalam sidang yang digelar di PN Palangka Raya, Senin (2/11). (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)


PALANGKA RAYA-Sidang perkara penjualan satwa liar dilindungi dengan terdakwa Andi Sutopo  digelar di Pengadilan Negeri (PN) Palangka Raya, kemarin (2/12).

Terdakwa ditangkap anggota Ditreskrimsus Polda Kalteng pada 14 Juni lalu. Pada bagian depan rumah terdakwa di Jalan Tjilik Riwut Km 33, Palangka Raya dijadikan untuk usaha warung kopi. Akan tetapi, pada belakang rumahnya justru dijadikan tempat usaha jual beli satwa atau sejenis pet shop, dan memesan berbagai jenis satwa dilindungi.

Sewaktu dilakukan penggeledahan oleh petugas, ditemukan dua jenis satwa berupa kucing kuwuk dan nuri kelam. Saat diperiksa, terdakwa Andi Sutopo mengaku bahwa sebenarnya ia tidak menjual kucing kuwuk dan burung nuri kelam. Hanya saja saat itu kebetulan ada pemesan yang sedang mencari dua jenis hewan tersebut.

 “Saya sebenarnya hanya menjual kucing anggora saja,” ujar Andi Sutopo ketika ditanya oleh penasihat hukumnya, Pujo Purnomo.

Lantaran ada menginginkan, maka dicarilah orang yang menjual dua satwa tersebut. Ia mencoba mencari informasi melalui forum jual beli hewan. Di situlah ia menemukan warga Banjarmasin yang menjual dua satwa itu.

Kemudian saya bayar dengan cara transfer bank,terang Andi Sutopo.

Setelah dua satwa itu diterimanya, ia pun kembali menghubungi pemesan yang bernama Eprian.

“Apakah anda tahu siapa Eprian yang memesan satwa  tersebut?” tanya Pujo.

“Saya awalnya tidak tahu. Tapi sesudah penangkapan, barulah saya tahu kalau dia petugas dari Polda Kalteng,ujar Andi Sutopo lantang.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Alfon, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Een Hosana menghadirkan saksi ahli dari BKSDA Kalteng, Nur Wahid Wahyudi.

Menurut keterangan saksi Nur Wahid, kucing kuwuk atau sering dianggap kucing hutan. Sedangkan burung nuri kelam atau burung nuri paruh bengkok adalah jenis satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Satwa-Satwa yang Dilindungi.

“Jadi apakah satwa tersebut memang tidak dapat diperjualbelikan,” tanya Een.

Iya. Satwa tersebut tidak dapat diperjualbelikan sembarang. Untuk memperjualbelikannya itu ada aturan dan izin yang harus dipenuhi,jawab Nur Wahid.

Dijelaskan Nur, apabila ingin menangkap satwa tersebut, maka pihak yang menangkap harus memiliki izin penangkapan. Selain itu, harus memiliki izin penangkaran baru. Semuanya itu dikeluarkan oleh BKSDA.  Mesti ada laporkan ke pihak BKSDA agar dilakukan pengawasan.

“Jadi, masyarakat harus memastikan adanya dokumen sertifikat dari pihak penangkaran setiap pembelian satwa yang dilindungi,” ucap Nur yang menjabat sebagai Terang Kepala Seksi I Perlindungan Satwa BKSDA Kalteng itu.

Apakah saudara saksi tahu di mana keberadaan satwa yang diambil dari terdakwa sekarang? tanya Pujo.

Sekarang sudah dilepasliarkan, jawab Nur Wahid.

“Apa Anda yakin? Karena penjelasan saksi kontra dengan saksi terdahulu. Menurut saksi terdahulu, kucing kuwuk itu sudah meninggal,” kata Pujo seraya menatap tajam ke Nur Wahid.

“Soal itu yang saya kurang tahu, karena setelah itu saya pindah ke Seksi I,” jawab Nur Wahid. (sja/ena/ce/ram)

Loading...

You Might Also Like