Koleksi NuSZantara karya Itang Yunasz dalam ISEF 2019. (Istimewa)


Desainer busana Itang Yunasz terus menunjukkan eksistensinya dalam berkarya. Pria yang memulai karir di tahun 1980an, itu sudah berkiprah dengan berbagai koleksinya seperti Allea, Kamilaa, Preview, dan Itang Yunasz Collection. Baru-baru ini dalam ajang Indonesia Sharia Economic Fashion (ISEF), Itang Yunasz menegaskan perjalanan karirnya yang sudah hampir 40 tahun.

Dia mengangkat tema ‘NuSZantara Untuk Dunia’. Tema itu sengaja menebalkan huruf S dan Z sebagai pertegas nama besar Itang Yunasz di dunia fashion. Dia bercerita tentang keelokan bumi Indonesia yang beragam.

“Mulai kampanye dari sekarang sebagai langkah awal dalam memperingati 40 tahun Itang Yunasz berkarya,” katanya kepada JawaPos.com baru-baru ini.

Dimulai dari pulau Andalas yang kaya akan kain dan sulaman, dia mengangkat 8 look dari tenun songket Sumatera Barat. Itang juga kolaborasi dengan perajin tenun songket Sumatera Barat dengan benang sutera yang ditenun dengan metode baru yang lembut dan halus.

Warna-warna lembut seperti powder pink, lime, cream dengan sdikit campuran copper gold sebagai aksen tenun songket Minang menjadi detail. Dia juga tak menghilangkan pakem lamanya.

Itang juga mengusung konsep sustainable fashion sesuai benang merah acara tersebut. Salah satunya dengan memanfaatkan benang yang didaur ulang kembaki.

“Beberapa benang cabutan dari songket lama yang di tenun ulang. Tidak cukup banyak sebab waktunya tidak cukup untuk mengolah bahan-bahan yang bisa didaur ulang,” katanya.

Menurut Itang, siluet dan style koleksinya mengutamakan gaya androgin dan romantic. Dengan potongan-potongan songket di-patch dengan bahan polos dan sulaman-sulaman bunga sebagai aksen romantic.

“Semua koleksi itu menjadi langkah awal 40 tahun saya berkarya, Insya Allah (nanti ada show tunggalnya), makanya kampanye mulai dari sekarang,” katanya.(jpc)

 

Loading...

You Might Also Like