Wartawan dari berbagai media di Kalimantan melihat pabrik Lubricant Pertamina Gresik, Jumat (8/11). Tampak ibu-ibu binaan RT 1 RW 1 bersama pihak Pertamina ketika memperlihatkan botol kemasan minuman markisa siap minum di Kampung Markisa. (AZA/KALTENG POS)


Rasa segar memenuhi mulut penulis ketika meneguk air berwarna kekuningan yang dikemas botolan. Minuman markisa ini memang cocok untuk melepaskan dahaga. Tak hanya masam yang terasa, tapi ada manis-manisnya. Apalagi saat itu penulis melakukan perjalanan cukup panjang. Mengikuti media ghatering bersama Pertamina.

 

AZUBA, Palangka Raya

 

PENULIS tiba di Bandara Juanda Surabaya pukul 08.05 WIB. Disambut hangat oleh EO Pertamina. Beberapa menit kemudian langsung menuju PT Pertamina Lubricants PU di Gresik. Untuk sampai ke lokasi tersebut memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih satu jam setengah.


Tiba di sana, puluhan wartawan dari berbagai media wilayah Kalteng ini diberi kesempatan untuk melihat proses produksi pelumas dalam bentuk lithos dan curah.

Saat itu, Manajer Produksi Unit Gresik (PUG), Dody Arief Aditya menjelaskan, kualitas menjadi faktor nomor satu dalam setiap pembuatan pelumas Pertamina, yang sudah memenuhi standar dan mutu internasional dan telah diakui oleh institusi dan pabrikan mobil dunia.

"Seluruh fasilitas produksi yang digunakan berteknologi modern dan full automation. Teknolgi terbaru yang didukung dengan research and development yang mumpuni," tuturnya.

PUG yang beroperasi sejak 2008 dan memiliki kapasitas sebesar 140.000 KL/tahun untuk lube oil base plant (LOBP) dan 9.000 MT/tahun untuk visco modifier plant (VMP). PUG didukung dengan teknologi modern, antara lain automatic batch blending, in-line blending pigging system, automatic piggable manifold, serta didukung oleh full automated filling machine untuk lithos, drum, dan bulk filling. Selain itu, juga didukung oleh fasilitas seperti piggable marine loading (tanker facilities), storage facilities sebanyak 12 base oil tanks, 12 additive tanks, 10 mini bulk talks dan LAWS, kerosene tanks, dan lubcel process control room yang menggabungkan kemampuan memantau batch pelumas secara real-time.

"Saat itu, PUG mendistribusikan produk ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur," bebernya.

Finished produk, tegasnya, akan dites kembali di laboratorium pengujian oli. Sampel akan diambil dan diuji seluruh komponen dan performanya. PUG dan pabrik lainnya dilengkapi dengan laboratorium produk, yang digunakan untuk menguji pelumas Pertamina yang akan dipasarkan. Menjadi satu-satunya perusahaan pelumas di Indonesia yang memiliki laboratorium uji oli tersendiri.

Sebelum produk dapat diolah dan di produksi dalam pabrik, Pertamina Lubricants telebih dahulu meracik formula pelumas. Hal tersebut dilakukan oleh tim product development.

Dalam meracik formula, terdapat sedikitnya belasan macam pengujian laboratorium, termasuk analisis struktur, molekul, sifat fisika dan kimia, serta kemurnian bahan baku. Setelah menemukan formula, selanjutnya memasuki tahan pengujian. Tahapan pengujian meliputi bench test, uji mesin, dan uji lapangan. Uji mesin dilakukan di Jepang, Eropa, dan Amerika. Juga dilakukan secara internal di Pertamina Lubricants. Pengujian internal ini disesuaikan dengan populasi mesin dan kondisi riil di Indonesia. Uji mesin merupakan pengujian oli secara riil menggunakan mesin-mesin bervariasi, yang dapat dioperasikan secara normal atau dalam kondisi ekstrem.

"Pertamina Lubricants mengoperasikan tiga unit produksi, yakni di Gresik, Cilacap, dan Jakarta, serta 1 unit produksi di Thailand, dengan total kapasitas lebih dari 535 juta liter per tahun," ungkapnya.

Usai melihat cara kerja pabrik lubricants, barulah rombongan mengunjungi Kampung Markisa, Desa Sukorame Kabupaten Gresik Jawa Timur. Di sinilah penulis bisa mengobati dahaga dengan menenggak minuman markisa yang diolah penduduk setempat.

Yang mengesankan dari kunjungan tersebut, warga di tempat itu memanfaatkan gang yang hanya bisa dimasuki kendaraan roda dua untuk menanam buah markisa. Buah-buah ini tumbuh subur berjuntai di atas besi yang diletakkan antara rumah warga, sehingga membuat gang itu tampak rimbun dan terhindar dari panas terik matahari.

Budi daya markisa ini dilakukan masyarakat setempat sejak 2014. Lalu, pada 2017, CSR Pertamina Lubricants Gresik Jawa Timur memberikan modal usaha untuk koperasi warga yang dipegang oleh ibu-ibu RT 1 RW 1. Koperasi itu mengolah markisa menjadi minuman yang segar, dengan harga Rp5 ribu per botol. Rata-rata produksi dalam sebulan mencapai 40 botol. Saat ini, omzet yang didapat mencapai jutaan rupiah per bulan.

"Mulai dari penanaman, panen, hingga pengolahan minuman, Pertamina memberikan pendampingan. Bahkan membantu mengenalkan produk ini pada event-event yang diselenggarakan pemerintah daerah maupun pusat," ucap Dody Arief Aditya. (*/ce)

Loading...

You Might Also Like