Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menemui Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. (Miftahulhayat/Jawa Pos)


Safari politik Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto ke petinggi-petinggi partai koalisi pemerintah belum berhenti. Hal itu makin menguatkan indikasi bahwa Gerindra akan masuk dalam gerbong pemerintah.

Di satu sisi, masuknya Gerindra bisa menambah stabilitas pemerintahan jika dikelola dengan baik.

Apalagi jika nanti Partai Demokrat turut bergabung. Namun, di sisi lain, koalisi yang gemuk tersebut juga bisa memunculkan gejolak di tengah jalan.

Direktur Indonesia Political Review Ujang Komaruddin menyatakan, secara teoretis, banyaknya partai pemerintah membuat stabilitas di parlemen relatif stabil. Namun, ada risiko pada stabilitas di internal. Sebab, masing-masing membawa kepentingan. ”Yang pasti akan terjadi perang dingin, gesek-gesekan, selama lima tahun,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (15/10).

Terlebih, lanjut Ujang, basis koalisi yang diusung partai-partai di Indonesia selama ini bukan hal yang prinsip seperti ideologis. Melainkan atas dasar kepentingan. Praktis, tidak ada ikatan yang kuat.

Ujang mengatakan, di Indonesia pernah terjadi preseden yang negatif terkait koalisi yang terlampau gemuk. Itu merujuk pada kondisi periode kedua pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Koalisi yang gemuk justru menghadirkan pemerintahan yang gaduh. ”Kita ingat PKS di zaman SBY. Bagaimana PKS menjadi (baca: mendapat kursi, Red) menteri (di pemerintahan) SBY, tapi sering mengkritik SBY,” imbuhnya.

Menurut Ujang, komposisi di koalisi pemerintah yang gemuk akan membuat kedudukan oposisi tidak cukup kuat. Nah, tidak kuatnya oposisi membuat sistem check and balance tidak berjalan. Pemerintahan berpotensi melakukan penyalahgunaan kekuasaan secara berlebihan.

Kemarin Prabowo Subianto melanjutkan safari politik dengan menemui Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di kantor DPP Golkar. ”Ini sebuah kehormatan bagi Partai Golkar,” kata Airlangga.

Prabowo tiba di kantor partai beringin itu pukul 15.52. Dia didampingi Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, Wakil Ketua Umum Sufmi Dasco Ahmad, dan Wakil Ketua Umum Edhy Prabowo. Airlangga mengatakan, kunjungan Prabowo merupakan acara homecoming atau kembali ke rumah. ”Karena Pak Prabowo adalah salah satu alumni terbaik Partai Golkar,” ucapnya setelah melakukan pertemuan tertutup dengan Prabowo.

Dalam pertemuan, lanjut menteri perindustrian itu, pihaknya membicarakan banyak hal bersama Prabowo. Terutama soal kerja sama antara Golkar dan Gerindra. Salah satunya, bagaimana menciptakan stabilitas politik di parlemen.

Airlangga menegaskan bahwa stabilitas politik sangat penting. Sebab, hal itu akan memengaruhi bidang yang lain. ”Dengan stabilitas politik, kita bisa bangun stabilitas keamanan dan stabilitas ekonomi. Jadi, stabilitas politik harus terus dijaga karena sangat menentukan kondisi bangsa,” paparnya.

Soal kemungkinan Gerindra masuk kabinet pemerintahan Jokowi, Airlangga menyatakan bahwa Golkar dan Gerindra mempunyai banyak kesamaan. Salah satunya kesejarahan yang sama. Namun, jelas Airlangga, pertemuan itu hanya membahas kerja sama di parlemen. ”Konteks lain (koalisi, Red) menjadi domain Pak Presiden,” ujarnya.

Sementara itu, Prabowo mengaku tidak merasa canggung datang ke kantor Partai Golkar. Sebab, dia merupakan salah seorang lulusan partai yang berkuasa saat Orde Baru tersebut. Menurut mantan Danjen Kopassus itu, kedua partai sepakat menjaga bangsa dan negara serta bersama-sama berjuang untuk rakyat. Tentu dengan menjalin komunikasi yang baik antarpartai. ”Ini akan berdampak baik untuk stabilitas,” katanya.

Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily menyatakan, keputusan boleh tidaknya Gerindra bergabung dalam koalisi bukan kewenangan Golkar. Tapi, harus ada kesepahaman bersama dengan partai lain. Begitu juga halnya soal kabinet. Bukan kewenangan Golkar, melainkan presiden.

Anggota DPR itu menegaskan bahwa pihaknya menginginkan partai koalisi yang sudah bekerja keras lebih diprioritaskan. Selain itu, pihaknya menghendaki demokrasi betul-betul dibangun berdasar sistem politik yang sehat dan ada keseimbangan politik.

Di bagian lain, PKS kembali menegaskan diri sebagai partai oposisi. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menuturkan, semua partai penyokong Prabowo-Sandiaga Uno di pilpres lalu sebaiknya bergabung dalam barisan oposisi. Menurut dia, kebijakan pemerintah yang tidak dikawal oposisi rawan melenceng dan merugikan publik. ”Yakinlah, oposisi akan bersama-sama kekuatan civil society untuk mengawal pemerintahan,” katanya.

Bagi Mardani, bukan masalah Prabowo bertemu Presiden Jokowi serta menjalin komunikasi dengan semua ketua umum parpol pendukung pemerintah. Namun, pada saat bersamaan, seharusnya Prabowo menyatakan sikap tegas sebagai oposisi. ”Tegaskan saja kami akan jadi oposisi yang kritis konstruktif. PKS sebagai oposisi siap memberikan gagasan yang solutif,” tandas anggota DPR itu.(jpg)

 

Loading...

You Might Also Like