Terdakwa Matius Sanam meminta maaf kepada anaknya, di sidang yang digelar beberapa hari lalu.


Matius Sanam (34) harus duduk di kursi pesakitan karena menganiaya anak kandungnya sendiri. Bahkan kasusnya masuk pada mendengarkan keterangan para saksi di PN Nanga Bulik, beberapa hari lalu.

CHOIRUL FUADI, Lamandau

ADA empat orang saksi yang dihadirkan dalam sidang. Yakni anak perempuan berinisial DJ (13) yang juga sekaligus korban, orang tua terdakwa, paman korban dan tetangga. Para saksi menceritakan kronologi kejadian. Korban sendiri selama ini hanya tinggal bertiga bersama nenek dan ayahnya.

Saat kejadian, nenek mengaku melihat langsung Matius Sanam memukul anaknya, yang sempat turut melerai. Tapi apalah daya, nenek yang sudah renta tersebut tak kuasa membendung amarah Sanam yang di bawah pengaruh alkohol. Hingga korban berlari ke rumah tetangga.

"Anak ini lari ke rumah saya dalam keadaan berdarah dan benjol," kata tetangganya saat itu.

Meski telah dipukul dan diparang ayahnya, dalam persidangan tersebut si anak mengaku telah memaafkan ayahnya. Ia juga mengaku merindukan ayahnya yang sudah lama tidak pulang karena ditahan polisi.

Saat ditanya hakim, terdakwa mengaku sangat menyesal telah menganiaya anaknya. Ia berjanji untuk bisa lebih mengendalikan amarahnya dan tidak akan mengulangi kesalahannya.

"Menyesal pak," ucap terdakwa.

Suasana menjadi haru saat hakim menyuruh terdakwa meminta maaf langsung kepada keluarga dan anaknya. Si anak langsung menangis memeluk ayahnya. Ia berharap ayahnya bisa dihukum ringan sehingga mereka bisa berkumpul bersama.

Dalam persidangan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Saiful Uyyun Sujati dalam dakwaannya membeberkan bahwa penganiayaan korban terjadi pada Senin, 21 Januari 2019 sekitar pukul 18.00 WIB bertempat di kediaman terdakwa yang terletak di Kelurahan Kudangan, Kecamatan Delang. Terdakwa didakwa telah melakukan kekerasan terhadap anaknya.

"Saat terdakwa pulang dalam keadaan mabuk, ia meminta kepada anaknya tersebut untuk mengambilkan segelas air. Namun, DJ tak kunjung mengambilkan air untuk terdakwa kemudian membuat terdakwa emosi sehingga terdakwa mengepalkan tangan kanannya. Kemudian memukul anaknya empat kali ke bagian wajah dan ke bagian belakang kepala yang mengakibatkan hidung anaknya berdarah," ujar Sujati.

Setelah itu terdakwa mengambil parang yang berada di sudut rumah kemudian kembali mendekati anaknya dan memukul bagian pangkal parang tersebut ke kepala anaknya hingga luka robek pada kepala korban.

Hasil visum et repertum di Puskesmas Delang, korban menderita luka sayat pada kepala bagian kiri atas akibat kekerasan benda tajam, luka memar ada tulang hidung atas, dahi kanan, dan pipi kanan akibat kekerasan benda tumpul.

Perbuatan terdakwa tersebut melanggar dan diancam pidana berdasarkan Pasal 76c jo Pasal 80 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (ram/ctk/nto)

You Might Also Like