Suasana saat ILUNI UI melakukan pertemuan dengan Rektor UPR Andrie Elia Embang membahas persoalan Karhutla. (FOTO : ARJONI/KPC)


PALANGKA RAYA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan, khususnya Kalteng yang berlangsung selama berbulan-bulan, menjadi perhatian Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI). Walau hujan mulai basahi Kalteng, tetapi ILUNI UI menilai persoalan kabut asap di Kalteng belum berakhir.


Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Endang Mariani menyatakan, persoalan karhutla dan kabut asap di Kalimantan, khususnya Kalteng belum selesai. "Persoalan asap sama sekali belum selesai. Meskipun sudah membaik, di beberapa tempat, NAB PM 2.5 masih fluktuatif dan udara pada waktu-waktu tertentu masih masuk dalam kategori tidak sehat. Selain itu, asap yang muncul akibat terjadinya kebakaran hutan dan lahan adalah bencana buatan manusia, yang sudah terjadi berulang kali. Hampir setiap tahun. Artinya, ada permasalahan yang belum diselesaikan, yaitu penyebabnya,” ucapnya usai berdiskusi dengan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Andrie Elia Embang.

Menurut Doktor Psikologi Lulusan UI ini, banyak penelitian dan kajian dilakukan oleh perguruan tinggi, maupun para pakar. Dengan segala kompleksitasnya, akar permasalahan pun sudah diketahui dengan pasti.

"Banyak cara pencegahan dan rekomendasi sudah diberikan. Persoalannya adalah sudah cukup kuatkah kemauan untuk mengatasinya?” Ini persoalan yang sesungguhnya," ujarnya.

Ditegaskannya, dampak dari asap kebakaran hutan dan lahan, bukan hanya dirasakan saat kejadian, tapi panjang. Bukan saja dengan munculnya keluhan-keluhan penyakit yang muncul, tapi akibat yang akan dirasakan sampai puluhan tahun ke depan, khususnya oleh anak-anak dan balita, bisa cukup serius dan dapat mengancam jiwa.

"Belum lagi kerugian secara ekonomis, terkait biaya yang dikeluarkan untuk memadamkan api dan menanggulangi kondisi darurat. Itupun masih ada biaya-biaya lain yang tidak terlihat dan tidak terhitung. Secara psikologis, kondisi lingkungan yang dipenuhi asap sepanjang waktu, juga sangat berpengaruh terhadap emosi, kesehatan jiwa dan produktivitas kerja,” tegasnya.

Sementara itu, Rektor UPR, Andrie Elia mengatakan, setiap terjadi kebakaran hutan, biaya yang dikeluarkan sangat besar. Sekarang persoalannya, bukan bagaimana mengantisipasi jika terjadi lagi kebakaran hutan.

"Lebih penting dari itu adalah bagaimana kita bisa mencegahnya, supaya tidak perlu lagi keluar biaya triliunan untuk memadamkan api," ucapnya.

Ellia menyebutkan, UPR harus masuk dalam kelompok Perguruan Tinggi yang memasukkan kurikulum kebencanaan, karena walaupun tidak berada di daerah rawan bencana, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan sebagainya, tapi kebakaran hutan termasuk bencana besar. "Akan tetapi anggaran untuk itu belum ada posnya. Tanpa dukungan pemerintah pusat, tidak akan mampu pemerintah daerah mengatasinya sendiri," ujarnya.

Menurut Ellia, sampai dengan saat ini UPR punya puluhan ahli gambut, baik yang berpendidikan dalam negeri, maupun luar negeri. Tanpa harus menyalahkan siapapun, baik masyarakat dan korporasi, semua upaya yang dilakukan harus tepat dan berkelanjutan.

“Contohnya dengan program penanaman sejuta pohon. Niatan itu sudah betul. Tapi dari sejuta itu, tidak pernah ada monitoring, berapa yang benar-benar hidup. Usulan saya, pohon yang ditanam haruslah tananaman produktif. Berikan tanggungjawab ke masyarakat untuk memeliharanya sampai tumbuh betul dan bisa menghasilkan. Tapi jangan lupa, berikan juga biaya penanaman dan pemeliharaannya. Misalnya seperti yang diberlakukan kepada para transmigran,” pungkasnya. (arj/OL)

You Might Also Like