Anggota tim Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (TP2TPA) Kota Palangka Raya Agustia Paramita


KUNJUNGI:Tim TP2TPA mengunjugi salah satu korban kekerasan seksual pada anak di Kota Palangka Raya untuk melakukan bimbingan psikis. DOKUMEN TP2TPA KOTA UNTUK KALTENG POS

MEDIASI:Tim TP2TPA melakukan mediasi dan pendekatan kepada keluarga korban yang mengalami kekerasan di kediaman mereka.


PALANGKA RAYA-Kasus kekerasan pada perempuan, remaja dan anak masih saja terjadi selama ini. Diibaratkan kasus kekerasan ini seperti fenomena gunung es, tenang di permukaan namun bergejolak di dalam.

Di Kota Palangka Raya sendiri kasus kekerasan perempuan, remaja dan anakpun beragam mulai dari faktor ekonomi, sosial bahkan hal-hal yang sepele bisa menjadi terjadinya kekerasan itu. serta penanganan pendekatanpun tidaklah mudah.

Menurut anggota tim Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (TP2TPA) Kota Palangka Raya Agustia Paramita, berbicara dengan penanganan kekerasan ini tidak mudah secara kasat mata, karena berhubungan dengan kejiwaan dan psikis korban atau pelaku.

Dalam hal ini, penanganan harus dilihat kasus perkasus, apabila terjadi kekerasan pada anak maka penanganan ataupun pendekatannya akan lebih sulit, karena untuk bercerita apa yang dialami tidaklah mudah.

“Di sini kami sangat hati-hati, jangan sampai sang anak malah tertekan untuk menceritakan apa yang dialaminya,” ucapnya saat dibincangi Kalteng Pos, kemarin.

Agustia menjelaskan, perlu ada media sebagai pendekatannya artinya bisa menggunakan hal-hal yang disukai oleh sang anak sebagai korban atau pelaku dan proses pendekatan biasanya ada yang lama ada juga yang cepat.

“Kenapa itu dilakukan? Agar sang anak tidak merasa ditekan atau ketakutan ketika mengingat dan bercerita apa yang dialaminya,” terangnya.

Ungkapnya, untuk penanganan pemulihan traumatik yang dialami sang anak biasanya cenderung lebih lama, karena pikiran yang masih labil dengan usia yang masing muda, ditambah kekerasan yang dialam apakah parah atau tidaknya.

“Dalam hal ini terapi psikis sangat penting dilakukan untuk menghilangkan rasa takut ataupun mengembalikan rasa percaya diri sang anak,” ujar Agustia.

Sementara itu, kalau berbicara kekerasan yang terjadi para perempuan tentu bermacam-macam permasalahannya, di dalamnya ada KDRT, perdagangan manusia atau perempuan, maupun faktor ekonomi sampai masalah asmara.

Biasanya untuk kasus tersebut, pihaknya lebih menyakinkan kepada korban untuk menceritakan ataupun melaporkan kekerasan yang dideritanya. Dengan memberikan pengertian ataupun pendekatan berbicara dari hati ke hati.

Walaupun terkadang itu bisa dikatakan terlambat, setelah terjadi baru melapor atau terungkap terjadinya kekerasan yang dialami perempuan. Sehingga rata-rata berujung di pihak kepolisian. “Harusnya kasus kekerasan pada perempuan lebih bisa dicegah, misalnya pertengkaran dengan pasangan, artinya bisa dihindari ketika sama-sama emosi yang nantinya menjurus pada tindak kekerasan itu sendiri,” tambah Agustia.

Saat ini, terang Agustia untuk penangganan kasus kekerasan perempuan dan anak sudah sangat getol mereka lakukan, mulai dari pendekatan yang bersifat jemput bola artinya berkunjung ke rumah si korban atau pelaku.

“Bahkan memberikan terapi ataupun bimbingan rutin kami lakukan apabila dari keluarga meminta kami datang. Agar nantinya lebih memiliki rasa percaya diri dan dapat diterima di masyarakat dan hidup bersosial,” pungkasnya. (ari)

Loading...

You Might Also Like