ILUSTRASI/NET


KONDISI asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng khususnya di Kota Palangka Raya dan Sampit semakin mengkhawatirkan. Helikopter bomber air atau yang sering disebut water bombing (WB) lumpuh total pada Minggu (15/9).

Koordinator helikopter WB di Bandara Tjilik Riwut Kapten Irvan menyebut, kondisi asap yang semakin tebal melumpuhkan pengoperasian helikopter WB ini. Pasalnya, meski WB bertugas memadamkan karhutla, tapi dalam kondisi kabut asap semakin tebal tak dapat dipaksakan beroperasi.

“Minggu itu (15/9) kondisi kabut asap sangat tebal, bahkan pagi itu sekitar 200 meter saja jarak pandangnya. Tentu ini membahayakan WB apabila dipaksakan terbang,” katanya saat dikonfirmasi Kalteng Pos, kemarin.

Dijelaskannya, jarak pandang minimal untuk WB dapat terbang harus di atas satu kilometer. Meski pada dasarnya syarat terbang sama dengan minimal jarak pandang pesawat pada umumnya, yakni minimal 800 meter. Namun pada pengoperasian WB mempunyai pertimbangan khusus.

“WB biasanya melintas di atas perkotaan atau permukiman warga. Dikhawatirkan dengan jarak pandang yang sangat rendah akan mengganggu kerja pilot,” jelas Irvan.

Terakhir kali WB beroperasi pada Sabtu (14/9). Apabila kondisi ketebalan asap mulai berkurang dan minimal jarak pandang sudah memenuhi syarat terbang, maka pihaknya akan kembali beroperasi melakukan pemadaman. Pemprov telah mengusulkan tambahan helikopter WB. Dan saat ini sudah datang satu WB bantuan dari pemerintah pusat.

“Benar, pemprov memang telah mengusulkan penambahan WB. Disetujui sebanyak dua unit. saat ini baru satu WB yang telah tiba di Palangka Raya. Sementara satu unit masih dalam proses pengiriman. Diperkirakan akan tiba dalam 2-3 hari,” bebernya.

Dengan penambahan dua unit WB ini maka jumlah helikoter yang ada di Pemprov Kalteng sebanyak delapan unit WB dan dua unit heli patroli.(nue/abw/ari/ce/ala) 

You Might Also Like