Oleh Bhayu Rhama, Ph.D


Beberapa hari lalu saya baru saja mengunjungi beberapa Negara di Eropa khususnya di Eropa Tengah yaitu Budapest, Austria dan Swiss. Saat itu, pada bulan Juli-Agustus, Negara Eropa mengalami musim panas dengan matahari bersinar lebih dari 12 jam atau terbit jam 06.00 pagi dan tenggelam pada jam 20.00. Temperatur udara berkisar antara 23-34 derajat celcius dengan kelembapan (humidity) yang rendah. Artinya, meskipun cuaca panas menyengat namun tubuh tidak mudah berkeringat. Kelembaban tinggi menyebabkan mudahnya tubuh mengeluarkan keringat seperti yang dialami oleh masyarakat Indonesia sehingga lebih sering mandi dibandingkan masyarakat di benua Eropa yang kelembapannya rendah. Sebagai informasi tambahan, kata ‘mandi’ sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris karena hanya ada dua penjelasan membersihkan diri dalam bahasa Inggris yaitu take a shower alias membersihkan diri di bawah pancuran atau take a bath alias berendam. Padahal implementasi ‘mandi’ dalam masyarakat Indonesia tidak termasuk keduanya karena mandi ala Indonesia pada umumnya menggunakan gayung untuk mengambil air dari bak mandi dan menyiramkan ke sekujur tubuh.  Jadi, budaya mandi ala Indonesia sebenarnya adalah sesuatu yang unik.

Pada bulan-bulan yang masuk dalam musim panas ini, masyarakat Eropa banyak mengambil liburan karena momen untuk dapat menikmati matahari dan berjemur hanya berlangsung pendek dalam setahun. Dengan demikian, tidak mengherankan bila sun (matahari), sand (pasir) dan sea (laut/pantai) masih menjadi faktor utama bagi berkembangnya destinasi wisata yang dicari sebagian besar masyarakat Eropa. Dengan waktu yang terbatas, maka tentu saja masyarakat Eropa pada jaman dulu tidak membuang waktu untuk pergi ke Negara-Negara di Asia dan lebih banyak memilih ke destinasi terdekat seperti di Negara Spanyol dan Yunani yang juga dikenal sebagai tempat liburan wisatawan Eropa. Secara implisit terlihat bahwa ada biaya psikologis selain biaya finansial yang dipertimbangkan oleh wisatawan seperti jarak tempuh, informasi dan pelayanan yang diberikan. Namun demikian, dengan kemajuan teknologi maka durasi perjalanan semakin cepat sehingga ada kemungkinan wisatawan Eropa menjelajah ke benua Asia untuk mencari pengalaman berbeda. Selain itu, teknologi juga membantu wisatawan mendapatkan lebih banyak informasi seperti kejelasan rute perjalanan, alternatif transportasi bahkan sampai memberikan terjemahan bahasa di negara tujuan sehingga memudahkan wisatawan menikmati perjalanan.

Oleh karena itu, perkembangan teknologi sangat memberikan andil dalam membantu berkembangnya sebuah destinasi wisata. Asalkan destinasi wisata yang ditawarkan memiliki nilai keunggulan standar yaitu sea, sun dan sand maka ada kemungkinan destinasi tersebut tetap dapat bersaing dengan destinasi wisata di luar Benua Eropa. Namun, bagaimana dengan destinasi wisata yang jauh dari benua Eropa dan tidak memiliki nilai keunggulan standar di atas? Tentu saja destinasi tersebut masih memiliki kesempatan meskipun upaya yang dikeluarkan lebih banyak. Porter (2008) mengatakan bahwa sebuah produk pasti memiliki peluang untuk digantikan dengan produk lain yang bisa menjadi ancaman bagi produk utama (substitute product). Kesempatan untuk menampilkan keunikan sebuah destinasi wisata yang memiliki keunggulan standar anti-mainstream inilah yang harus diekspos. Sebagai contoh, Pulau Kalimantan yang secara internasional dinamakan Pulau Borneo dikenal memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia dimana berdiri beberapa taman nasional yang dimiliki Indonesia antara lain yang berada di Kalimantan Tengah yaitu Taman Nasional Tanjung Puting, Taman Nasional Sebangau dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya. Keberadaan taman nasional tersebut tentunya dapat menjadi pesaing bagi destinasi wisata yang mengandalkan nilai keunggulan standar baik di Eropa maupun di destinasi wisata lain di Indonesia.

Namun sayangnya, definisi taman nasional di Indonesia berbeda dengan definisi di Negara Eropa sehingga perlu kiranya wisatawan memahami bagaimana perbedaan tersebut. Beberapa literatur menyampaikan bahwa pengelolaan taman nasional di Indonesia adalah sebagai kawasan konservasi sehingga harus jauh dari sentuhan manusia. Sebaliknya, kawasan taman nasional di Eropa (Inggris) seperti di Lake District adalah kawasan yang berpenghuni dengan suasana pedesaan yang dekat dengan danau (seperti Danau Toba di Sumatera atau Sarangan di Jawa Timur) dimana kawasan tersebut menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat perkotaan pada hari libur. Oleh karena itu, informasi tentang perbedaan taman nasional di Indonesia (yang menganut prinsip konservasi tanpa campur tangan manusia) wajib diketahui wisatawan Eropa untuk menghindari ekspektasi berlebih, meskipun, saat ini telah ada kebijakan untuk membuka sebagian wilayah di taman nasional sebagai areal pemanfaatan untuk melakukan kegiatan ekowosata. Pengalaman saya mengunjungi beberapa taman nasional menunjukkan bahwa masing-masing taman nasional berusaha mengekspos keunikan yang dimiliki seperti memperkenalkan sebagai taman nasional terluas di dunia yaitu Taman Nasional Northeast Greenland luas 972 ribu km2; taman nasional terkecil di dunia yaitu Taman Nasional Elbo Beach di Bermuda luas 200 m2; taman nasional tertinggi yaitu Puncak Everest dengan ketinggian 8.848 m; dan taman nasional terdalam di Grand Canyon dengan kedalaman 1.828 m (Rhama, 2017).

Pada intinya, sebuah destinasi wisata harus memberikan keunikan yang bernilai bagi wisatawan. Kembali pada contoh taman nasional di atas, maka apabila Taman Nasional Tanjung Puting sudah memiliki keunikan dengan orang utannya maka keunikan itu harus diekspos terus menerus secara bertanggung jawab atau dengan konsep keberlanjutan. Demikian juga nantinya dengan Taman Nasional Sebangau dan Bukit Raya Bukit Baka juga memerlukan sebuah identitas sehingga mudah dikenali. Namun melihat paradigma manajemen taman nasional di Indonesia (konservasi tanpa campur tangan manusia), maka diperlukan alternatif destinasi pariwisata bagi mass tourism (pariwisata masal) sehingga dapat menghindarkan kerusakan lingkungan langsung pad ataman nasional itu sendiri.

Alternatif destinasi pariwisata dapat diarahkan pada pembangunan kawasan sungai di tengah kota sebagai destinasi wisata unggulan dengan kemampuan story telling, ramah pejalan kaki dan menggunakan konsep slow travel, seperti di salah satu sungai di Eropa yaitu Sungai Danube di Budapest Hongaria yang sempat dikunjungi penulis saat menjadi pembicara di Konferensi Internasional Pariwisata. Dari beberapa wilayah di Kalimantan Tengah, sebenarnya ada beberapa sungai yang dapat dimaksimalkan sebagai destinasi wisata yang sesuai dengan selera wisatawan Eropa antara lain Sungai Kahayan di Kota Palangka Raya, Sungai Arut di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sungai Kapuas di Kabupaten Kapuas. Pada umumnya, kondisi daerah sungai serupa dengan destinasi wisata countryside yang tetap mengandalkan alam, kenikmatan lingkungan dan interaksi dengan masyarakat lokal.

Pembangunan kawasan sungai yang dikenal sexy dengan nama waterfront juga harus dapat mengeluarkan kemampuan impulse buying atau mampu menggoda wisatawan untuk membeli produk pendukung disekitar kawasan seperti pertokoan, restoran, penginapan, tempat spot selfie atau produk-produk lokal yang ditawarkan penduduk setempat. Oleh karena itu perlu kiranya menyediakan sarana pejalan kaki (board walk) di sepanjang sungai untuk mengakomodir konsep slow travel sehingga pengunjung memiliki kesempatan untuk menikmati atmosfer lokal. Hal ini memiliki tujuan agar kawasan dapat digunakan sebagai sarana implementasi selera wisatawan Eropa dalam menikmati proses perjalanan menuju ke destinasi utama.

Selain itu penting juga selalu memberikan inovasi ataupun menawarkan sesuatu yang baru bagi wisatawan secara kontinyu karena konsep daya tarik pariwisata adalah menawarkan sebuah pengalaman yang berbeda sehingga ‘no retain buyer unless you deliver something new’ atau tidak akan ada pembeli yang datang berulang kali kecuali ada sesuatu yang baru untuk diberikan. Yang tidak kalah pentingnya dalam era digital ini, bentuk testimoni ataupun review sangat diperlukan karena sifatnya real time untuk dapat menunjang promosi sebuah destinasi wisata. Namun demikian, kembali lagi pada konsep dasar pengembangan destinasi wisata, baik untuk konsumsi lokal maupun mancanegara bahwa akses, atraksi, ameniti (3A) ditambah dengan konsistensi dan komitmen (2K) telah menjadi roh wisata yang tidak dapat dikesampingkan.

Salam Pariwisata!...

(Praktisi dan Akademisi Pariwisata FISIP Universitas Palangka Raya)

 

You Might Also Like