XL Axiata menguji coba 5G dengan aplikasi teknologi hologram. Menkominfo Rudiantara (tengah) dan Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini (kanan). (Rian Alfianto/JawaPos.com)


Selain menjanjikan kecepatan tinggi, teknologi jaringan seluler generasi kelim alias 5G juga diklaim akan banyak memudahkan berbagai hal. Segmen industri, kesehatan, manufaktur, perkebunan, dan banyak bidang lainnya termasuk yang akan menerima manfaat 5G. Tentunya juga untuk konsumen biasa dengan penggunaan smartphone dan perangkat Internet of Things (IoT).

Baru-baru ini, operator seluler XL Axiata melakukan pengujian 5G untuk aplikasi teknologi hologram yang nantinya akan menyasar kalangan Business to Business (B2B). Menariknya, teknologi hologram menurut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara akan menjadi hype di masa depan, mungkin pada 2024 mendatang.

“Teknologi hologram ini adalah salah satu contoh aplikasi 5G untuk B2B. Ini pada tahun 2024 akan menjadi bisnis. Hologram akan jadi salah satu contoh aplikasi 5G yang akan jadi hype ke depan. Nanti, bisa saja kampanye pemilihan presiden (pilpres) pada 2024 cukup pakai hologram,” ujar Rudiantara saat acara uji coba 5G XL Axiata di Jakarta, Rabu (21/8).

Pada tahun tersebut, pria yang karib disapa Chief RA itu menyakini bahwa teknologi 5G sudah makin dikenal oleh masyarakat secara luas. Artinya, 5G selain menyasar B2B juga akan banyak digunakan oleh level consumer.

Berdasarkan pengalamannya, Rudiantara bercerita bahwa hologram yang ada saat ini masih terbilang sebagai perangkat yang rumit dan mahal. Ke depan, seiring berjalannya waktu, teknologi yang kian membumi, hologram diyakini akan semakin dikenal masyarakat sebagai sarana komunikasi jarak jauh yang menghilangkan batas jarak dan waktu secara real-time.

“Saya mengalami tahun 2019. Untuk apa? Untuk kampanye presiden. Saya di mana, Pak Jokowi di mana, hologram kita di mana dan disaksikan masyarakat. Bayangkan ini kalau dipakai kampanye 2024, calon presidennya cukup di satu tempat, hologramnya jalan-jalan, muter-muter ke kampung-kampung. Efisien kan,” ungkapnya.

Pria asal Bogor, Jawa Barat, itu juga menyebut bahwa hologram ini akan jadi salah satu aplikasi yang mungkin jadi ‘killer application’ untuk calon presiden 2024. Rudiantara mengungkapkan, calon presiden RI masa mendatang tak perlu lagi menyambangi berbagai daerah untuk melakukan kampanye. Dengan struktur geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan dan sangat luas, perjalanan tersebut memakan waktu dan biaya.

5G di Indonesia Kapan?

Pertanyaan tersebut mungkin kerap terdengar belakangan. Terlebih, beberapa negara maju sudah mulai menggelar layanan 5G kepada konsumen. Smartphone 5G pun juga sudah mulai bermunculan.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Direktur XL Axiata Dian Siswarini memprediksi, Indonesia baru bisa mengimplementasikan teknologi 5G dalam waktu tiga tahun lagi. Pemerintah sendiri juga sampai saat ini belum menentukan spektrum yang akan digunakan untuk jaringan 5G di Indonesia.

“Untuk sampai pada implementasi 5G, banyak sekali persiapan, termasuk fiberisasi. Selain dari sisi infrastruktur, bisnis model, dan investasinya, terutama untuk spektrum dan peralatannya,” kata Dian.

Dalam upaya implementasi 5G, XL Axiata saat ini fokus pada infrastruktur fiber optik atau fiberisasi. Dengan fiberisasi, kecepatan data tentu akan semakin tinggi, jumlah pemakai lebih banyak, serta latensi atau yang rendah. Keunggulan teknologi 5G tersebut hanya bisa didapatkan jika site atau Base Transceiver Station (BTS) terhubung dengan fiber.

Persiapan lainnya yang perlu disiapkan adalah bisnis model dan spektrum yang tepat. Dalam hal ini termasuk investasi biaya untuk spektrum. Sejauh ini ada tiga kandidat pita frekuensi yang kerap disebut akan menjadi pilihan di Indonesia, yakni 3,5 GHz; 2,6 GHz; dan 2,8 GHz.

Seperti sudah disinggung di atas, Dian mengungkapkan, tekologi jaringan seluler kelima ini ideal untuk berbagai industri, termasuk kesehatan, kontruksi, transportasi, dan pendidikan. Selain itu juga cocok untuk pemerintah seperti penerapan smart city.

“Kebutuhan terbesar untuk 5G itu, kita lihat untuk B2B. Ada banyak use case untuk B2B karena dibutuhkan berbagai industri termasuk kesehatan dan transportasi. Di luar B2B, komersialisasi 5G saat ini kebanyakan baru untuk mengoptimalkan pengalaman bermain game online dan Virtual Reality (VR),” tutup Dian.(jpg)

 

You Might Also Like