Russella Narpan M Apoi saat menampilkan tari Kinyah Mandau Bawi berkolaborasi dengan tari Hyang Dadas di Istana Negara, Jakarta, 17 Agustus 2019 lalu.(FOTO TIM UNTUK KALTENG POS)


Russella Narpan M Apoi merupakan salah satu aktor penting di balik kesuksesan tim kolaborasi tari Hyang Dadas di Istana Negara, Sabtu (17/8). Kendati dalam usia senjanya, ia tetap semangat berkiprah dalam dunia pertunjukan tari.

 

EMANUEL LIU, Jakarta

======================--

SATU per satu gerakan mulai diperagakan oleh para penari yang tergabung dalam kolaborasi tari Hyang Dadas, saat peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus 2019, di Istana Negara, Jakarta. Tamu undangan dibuat kagum. Terpukau dengan penampilan yang diperagakan 257 penari Kalteng saat itu. Melangkah dan berayun sembari melenggak-lenggok. Tarian berdurasi 15 menit tersebut menyampaikan banyak pesan.

Yang paling menyita perhatian adalah sosok penari senior berusia 80 tahun. Meski telah uzur usia, tapi tak menjadi penghalang baginya untuk bergerak anggun saat menari. Maestro tari Kalteng, Russella Narpan M Apoi, bergerak seolah tak terhalang tulang dan kulit yang semakin mengeriput. Tetap semangat menunjukkan gerakan tari yang indah dipandang.

“Saya memperagakan tari Kinyah Mandau Bawi, satu sajian atau kolaborasi dengan tari Hyang Dadas,” katanya ketika berbincang-bincang dengan Kalteng Pos usai penampilan itu.

Sebagai seorang maestro tari wanita Kalteng, yang terus ingin memberikan contoh dan melestarikan budaya Bumi Tambun Bungai, Rusella merupakan penari dengan spesifikasi tari Kinyah Mandau Bawi. Bahkan ia sudah menari saat peletakan batu pertama di Palangka Raya oleh Presiden Soekarno pada 1957 silam.

“Tahun 2007 juga pernah ikut dalam penampilan indoor di Istana Negara, Bogor, dalam acara Jamuan Coffee Morning bersama Presiden SBY dan mendiang Ani Yudhoyono serta seluruh duta besar,” celetuk salah satu putra Russella Narpan M Apoi, Erliansyah.

Rusella mengantongi segudang pengalaman. Sederet kisah ibu kelahiran Kuala Kapuas, 8 November 1939 tersebut, di antaranya menjadi penari dalam ajang Pekan Pemuda di Surabaya (event nasional pertama yang diikuti Kalteng pada 1957). Selain itu, menjadi penari dalam acara penyambutan duta besar, presiden, menteri-menteri, serta tamu-tamu penting negara saat berkunjung ke Kabupaten Kapuas. Ia pun sering mengikuti festival-festival tarian nasional.

Kesetiaannya pada dunia tari mengantarnya bisa menerima berbagai penghargaan. Di antaranya, Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi, Penghargaan 10 Inspirasi Permata In dan Women Inspiration Seni Tradisi.

Ibu tujuh anak tersebut juga mengisahkan, dirinya dilahirkan dari orang tua yang juga mendedikasikan diri untuk seni budaya Dayak Ngaju. Ayahnya merupakan Basir Upu pelaksana inti ritual Balian. Suaminya (alm) Narpan M Apoi mengabdi sebagai damang kepala adat dan perintis pelopor kesenian Kabupaten Kapuas yang menjadi cikal bakal kesenian Kalteng.

Kecintaannya terhadap seni budaya tidak semata karena keturunan dan darah seni yang mengalir dalam dirinya. Akan tetapi lebih pada panggilan jiwa dan kesadarannya untuk menjaga dan melestarikan seni budaya sebagai kearifan lokal, yang patut dipertahankan sebagai jati diri budaya Dayak.

Ia meminta generasi muda Kalteng terus melestarikan kesenian daerah dengan hati yang tulus dan ikhlas, beretika dalam berkesenian dengan tetap menjaga nilai-nilai keaslian (originalities), serta tidak malu dengan budaya sendiri.

“Orientasi berkesenian jangan untuk materi atau uang, tapi sebagai sebuah tuntutan jiwa. Hidup untuk berkesenian, bukan berkesenian untuk hidup. Selalu rendah hati dan jangan merasa hebat dengan ilmu serta pengalaman yang sudah didapat. Terus gali potensi diri dan kembangkan dalam karya yang tetap berpijak pada ragam asli, karena itulah pakemnya,” tuturnya.

Menurutnya, kendala-kendala yang dihadapi dalam berkesenian merupakan tantangan mental yang harus dihadapi dengan kepala dingin dan sabar. Jangan pernah menyerah.

Kegigihannya melestarikan tari Kalteng, mengantarkan Russella sebagai koreografer tari Hyang Dadas (Abib Igal) untuk tampil di Istana Negara saat peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan RI tahun ini.

“Saat penampilan di Istana Negara 17 Agustus lalu, menggunakan tameng atau talawang (perisai) yang sama saat peletakan batu pertama di Palangka Raya pada 1957. Kemudian menggunakan busana Sangkarut Blusuh berusia 157 tahun yang merupakan warisan ayah,” terangnya.

Sebelum mengakhiri perbincangannya, Rusella kembali menegaskan, dedikasi di dunia tari yang terus dijalaninya hingga kini, merupakan caranya menyebarkan semangat kepada generasi muda untuk melestarikan budaya dan menjaga warisan leluhur. (*/ce)

You Might Also Like