Warga Tewah Pupuh, Kecamatan Benua Lima, Bartim memanfaatkan Sungai Tewah sepanjang kemarau untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. (WARGA BENUA LIMA UNTUK KALTENG POS)


KEMARAU panjang yang terjadi tidak hanya berdampak pada rawannya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetapi juga menyebabkan kekeringan khususnya disejumlah wilayah di Kabupaten Bartim. Air bersih terutama untuk kebutuhan sehari-hari sulit dicari.

Hal tersebut yang dirasakan sejumlah warga di dataran lebih tinggi. Diantaranya, di seputaran Pasar Panas, Kecamatan Benua Lima. 

Masyarakat di wilayah yang perbatasan dengan Provinsi Kalsel tersebut mesti merogoh kocek lumayan besar setiap harinya hanya untuk memenuhi kebutuhan MCK dan konsumsi.

Warga Kelurahan Taniran Pasar Panas, Kiki (28) menyebutkan, rata-rata warga yang memiliki sumur tidak dapat digunakan. Menurut dia, sumber mata air kering sehingga membeli air dari para penggiat usaha pemilik sumur bor.

"Sudah dua minggu membeli air dan harga juga makin naik," ucap Kiki kepada Kalteng Pos, Selasa (13/8).

Dia menjelaskan, kebutuhan air untuk aktivitas rumah tangganya menghabiskan uang Rp70 ribu per dua hari. Berdeda untuk konsumsi senilai Rp75 ribu. "Airnya sebanyak seribu dua ratus liter atau satu tandon," terangnya.

Lebih lanjut disampaikan, jika harga air tersebut naik dari harga biasa berkisar Rp60 ribu. Menurut dia, kenaikan harga disebabkan semakin sulitnya untuk mendapatkan air bersih.

Hal sama dirasakan warga Tewah Pupuh yang masih dalam lingkup satu kecamatan di Benua Lima. Mereka memilih memanfaatkan sungai untuk memenuhi aktivitas rumah tangga.

Para warga berduyun ke sungai untuk MCK. Sedangkan konsumsi terpaksa beralih ke air pengisian ulang.

"Sumur kering jadi ke sungai, untuk memasak dan minum beli isi ulang," sebut seorang warga setempat. (log/abe)

You Might Also Like