Tersangka FT digiring penyidik Satreskrim Polres Pulang Pisau di kantor Kejari Pulang Pisau, kemarin (13/8). (JOHN UNTUK KALTENG POS)


PULANG PISAU- Unit tindak pidana korupsi (tipikor) satreskrim polres Pulang Pisau menuntaskan penyidikan kasus dugaan tipikor pembangunan pasar Handep Hapakat tahun anggaran 2016. Dalam kasus tersebut polisi menjerat lima tersangka.

Masing-masing Fery Niagara (FN) selaku sub kontraktor atau pelaksana proyek pembangunan pasar, Fitriadie (F) selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), Maulydia Aryas (MA) selaku direktur PT Talawang Nampara Perkasa yang memenangkan tender, Fauzi Tambang (FT) selaku kuasa pengguna anggaaran, dan H Yasmun (HY) selaku komisaris utama PT Talawang Nampara Perkasa.

Tiga tersangka yakni; FN, F dan MA telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Pulang Pisau pada 10 Juli lali. Sedangkan FT dan HY dilimpahkan ke Kejari Pulang Pisau, kemarin (13/8).

“Pelimpahan kami lakukan hari ini (kemarin), mengingat sebelumnya tersangka FT sempat sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit Palangka Raya,” kata Kapolres Pulang Pisau, AKBP Siswo Yuwono BPM melalui Kasatreskrim Iptu John Digul Manra, kemarin.

 Kapolres mengungkapkan, penyimpangan proyek yang dilakukan pada tahun anggaran 2016 dengan nilai kontrak Rp4,8 miliar lebih itu yakni kesalahan pada struktur atap. “Baik besi maupun bangunannya itu tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan,” kata Siswo.

Dia mengaku, pihaknya juga melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan dengan melibatkan ahli dari asosiasi tenaga ahli pemborong Indonesia. “Hasilnya, pengujian volume pekerjaan diketahui terdapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan volume yang tercantum dalam kontrak. Yaitu pada pekerjaan pembesian, beton, bekisting dan pekerjaan taman,” ungkapnya.

Selanjutnya, pemeriksaan hasil pekerjaan oleh ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Hasil uji laboratorium dan keterangan ahli ITB, bangunan Blok A memiliki risiko kegagalan struktur akibat kurangnya kapasitas struktur ring balk.

“Jika terjadi kegagalan struktur ring balk, maka struktur atau beban yang dipikul ring balk akan ikut runtuh. Sehingga membahayakan pengguna bangunan tersebut, ” tegas Siswo.

Siswo mengungkapkan, setelah dilakukan audit oleh BPK-RI, kerugian untuk blok A yakni total los. “Total kerugian secara keseluruhan dari proyek tersebut yakni Rp 2.733.947.552,97. Dalam kasus ini, kami mengamankan barang bukti berupa dokumen, laptop, satu buah mobil Honda HRV dan uang tunai Rp123.000.000,” ujarnya.

Terpisah, Plh Kepala Kejaksaan Negeri Pulang Pisau melalui Kasi Tindak Pidana Khusus Amir Giri, SH mengatakan, setelah dilakukan pemeriksaan tersangka dan barang bukti, penuntut umum melakukan penahanan terhadap tersangka HY untuk 20 hari ke depan. 

Sementara tersangka FT dilakukan penahanan kota dengan beberapa pertimbangan. "Tersangka FT saat ini dalam kondisi sakit namun tidak mempengaruhi pemeriksaan. Artinya sakitnya tidak mempengaruhi tanya jawab dalam hal pemeriksaan tersangka," kata Amir. 

Dia menambahkan, berdasarkan surat dari RSUD, tersangka FT sehat dengan catatan saat ini mengidap penyakit diabetes (gula darah 276) dan hipertensi (tekanan darah terakhir 150/90). Tersangka juga harus dilakukan suntik insulin 4 kali sehari dan wajib didampingi dokter.

"Atas pertimbangan tersebut, kami penuntut umum melakukan penahanan kota terhadap tersangka FT selama 20 hari terhitung sejak hari ini. Supaya dapat mempermudah tersangka kontrol kondisi kesehatannya," tandasnya. (art/abe) 

You Might Also Like