Salah satu kegiatan out door class yang dipandu Catrine di Desa Tumbang Baraoi, Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan, belum lama ini


BAGI sebagian besar masyarakat, membaca teks memang sangat mudah. Namun, rendahnya minat baca membuat wawasan sulit berkembang. Untuk itu, perlu cara khusus agar tetap semangat membaca.

Pengelola perpustakaan harus berani berpikir "out of the box" untuk mencapai fungsi perpustakaan yang paling sering terabaikan yaitu fungsi rekreasi. Hal tersebut disampaikan oleh Muhammad Jumani, Pendiri Taman Baca Baraoi yang juga berprofesi sebagai tenaga Pendidik di SMAN 1 Petak Malai, Kabupaten Katingan. 

Menurut Jumani, ada enam fungsi sebuah perpustakaan; penyimpanan, edukatif, penelitian, informatif, kultural, dan rekreasi atau hiburan. Fungsi rekreasi ini merupakan kunci untuk menggaet para calon pembaca khususnya di Indonesia yang masih menempati posisi juru kunci dalam hal literasi.

“Siapa yang tidak suka hiburan? Semua orang pasti menyukainya. Oleh karena itu jika fungsi ini benar-benar dijalankan, niscaya tidak ada lagi perpustakaan ataupun taman baca yang sepi pengunjung,” terangnya sebagaimana rilis yang dikirim ke Kalteng Pos.

Solusi alternatif lainnya yang juga dapat digunakan oleh pengelola perpustakaan milik pemerintah maupun masyarakat agar tidak lesu adalah dengan menerapkan prinsip "jemput bola". Perpustakaan keliling adalah aplikasi kongkret dari prinsip ini. Hanya saja, di era milineal berkeliling menyodorkan buku saja bisa jadi masih belum cukup terutama untuk daerah yang calon pembacanya sudah mengenal gawai. Perpustakaan keliling harus dikemas dalam bentuk yang lebih menarik dan menghibur sehingga memiliki daya pikat.

Teknik "jemput bola" mengeliminasi tabir pembatas antara buku dan calon pembaca. Dengan cara ini pula jejaring relawan Pustaka Bergerak yang mulai menggema sejak tahun 2017 berhasil mencatatkan sebuah fakta baru.

“Kenyataan di lapangan, khususnya di beberapa daerah pelosok membuktikan berbagai data rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yang telah dirilis beberapa pihak ternyata tidaklah sepenuhnya tepat,” terang Jumani.

Menurutnya, sebagian besar dari masyarakat Indonesia bukan tidak mau tetapi tidak ada akses buku yang bisa mereka baca. Sehingga ketika para relawan simpul pustaka bergerak menghadirkan buku, mereka begitu antusias melahap lembar-demi lembar halamannya.

“Ide-ide dengan strategi jemput bola ini juga menjadi pilihan Taman Baca Baraoi Yayasan Baraoi Mutiara Borneo (Bambo Foundation), yang saat ini telah lima tahun berbagi semangat literasi di tengah anak-anak masyarakat suku Dayak tepatnya di Kecamatan Petak Malai, Kabupaten Katingan Kalteng,” urainya.

Taman Baca yang berdiri sejak tahun 2014 silam ini kini setidaknya memiliki lima variasi kegiatan yang diharapkan dapat membentuk generasi-generasi yang siap menghadapi tantangan jaman. Sebab menurut Jumani, meskipun berasal dari pedalaman, hak pendidikan anak-anak tidak boleh terabaikan. Lima variasi kegiatan yang di maksud adalah Manalih Lewu, Kantong Buku, Out Door Class, Storytelling, dan Edukasi Lingkungan.

“Manalih Lewu yang berarti menyapa desa. Ini adalah perpustakaan kelilingnya Taman Baca Baraoi yang tidak hanya sudah menghadirkan ribuan akses buku bacaan bagi anak-anak di Kecamatan Petak Malai tetapi juga beragam aktivitas literasi dan edukasi di dalamnya,” terangnya.

Sementara kantong buku pola prinsipnya sederhana, tim mencari warga setempat yang bersedia dititipi beberapa puluh eksemplar buku. Nantinya, secara suka rela pemilik tempat akan mengelola koleksi bacaan tersebut untuk dibaca dan dipinjam oleh anak-anak sekitar. “Buku-buku yang tidak seberapa tersebut akan diperbarui dengan cara merotasinya dengan koleksi dari kantong buku dari desa lain saat kunjungan Manalih Lewu,” tuturnya.

Kemudian, Out Door Class (ODC) atau kegiatan belajar di luar kelas, yang populer dengan istilah sekolah alam. “Kelasnya beragam misalnya English For Fun untuk kegiatan belajar Bahasa Inggris tingkat dasar, atau matematika untuk kelas matematika pemula, serta "sains di sekitar kita" untuk kelas yang membahas aplikasi sains dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Selanjutnya, storytelling (mendongeng) juga kegiatan yang rutin digeloar Taman Baca Baroi. “Mendongeng ini biasanya lebih dominan diikuti anak-anak prasekolah atau usia sekolah dasar yang kemampuan membacanya masih terbatas,” katanya.

Terakhir, edukasi lingkungan. Program ini banyak membawa anak-anak terlibat dalam kegiatan pro lingkungan seperti menanam pohon, aksi sosial pungut sampah, pembibitan atau persemaian tanaman buah langka serta berbagai kegiatan lainnya yang bertujuan mendukung kelestarian lingkungan. Dengan terlibat langsung diharapkan akan tumbuh empati dan kepedulian terhadap alam dalam diri mereka.

“Lima strategi menggaungkan semangat literasi ini sebenarnya sudah cukup efektif dalam menebarkan virus membaca di kalangan anak-anak di pedalaman Katingan, hanya saja karena keterbatasan dana, impact-nya masih belum maksimal,” tuturnya.

Oleh karena itu, untuk menciptakan imbas yang lebih besar Bambo Foundation melalui Taman Baca Baraoi berencana mengadakan kegiatan Kemah Bakti Literasi pertama di Katingan.  Melalui event ini, anak-anak dari 7 desa dan 1 dusun di Kecamatan Petak Malai akan dipertemukan dan mengikuti rangkaian kegiatan di antaranya, Bakti Sosial dan Tanam Pohon, Lomba Cerdas Cermat, Mendongeng, Nonton Bareng Film Edukatif, Sosialisasi Kesehatan, dan Unjuk Bakat Kesenian Daerah.

Jumani berharap, kegiatan ini akan mendapat dukungan semua pihak terutama pemerintah daerah dan instansi terkait.

“Ini adalah event terbesar kami, untuk kegiatan sekelas ini dana dari kantong pribadi pengurus dan relawan pastinya tidak akan cukup. Kami berharap banyak pada penggalangan donasi online dan proposal yang telah kami ajukan”, ujarnya.

Dia menjelaskan dalam mengumpulkan dana tim panitia menggunakan dua opsi yaitu donasi online, www.kitabisa.com/kemahliterasi dan pengajuan proposal ke beberapa instansi pemerintah dan pihak swasta. Namun demikian juga tidak menutup diri kepada individu perorangan atau pribadi yang ingin ikut berperan menjadi bagian dari “pejuang” literasi dengan menyisihkan sebagian rezekinya melalui rek BRI 7128-01-013147-53-3 an Yayasan Baraoi Mutiara Borneo. (hms/uni/ctk/nto)

Loading...

You Might Also Like