Diana Mulawarmaningsih


BEBERAPA minggu ini wilayah Kalteng nyaris tidak lagi turun hujan, udara pun mulai terasa lembab. Sebuah pertanda sudah memasuki musim kemarau. Seperti menjadi sebuah rutinitas kabut asap pun sudah mulai terasa. Tak diragukan lagi penyebabnya adalah adanya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Kalimantan terjadi hampir setiap tahun  menimbulkan efek domino yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, berupa bencana kabut asap. Bencana kabut asap ini bukan hanya telah merugikan lingkungan hidup (ekologi), namun telah berdampak  langsung pada sektor transportasi, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Siapa pun bisa menjadi korbannya orang tua hingga bayi yang baru lahir. Penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) pun meningkat di berbagai layanan kesehatan, terutama dari kalangan Lansia (Lanjut usia) dan anak-anak yang daya tahan tubuhnya relatif rentan. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kabut asap.

Kabut Asap

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kabut asap memiliki arti campuran antara kabut dan asap. Pengertian kabut asap menurut Cambridge Dictionary  adalah campuran antara gas, dan bahan kimia terutama di kota-kota, yang menyebabkan kesulitan bernafas dan berbahaya bagi kesehatan (http://dosengeografi.com)

Sedangkan yang dimaksud dalam tulisan ini kabut asap adalah kasus pencemaran udara berat akibat kebakaran lahan dan hutan, yang berhari-hari hingga hitungan bulan.

Menurut dr Mulin Simangunsong MKes, sebaran asap apalagi yang pekat sangat membahayakan. Asap yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut terdiri dari polutan berupa partikel dan gas. Partikel itu adalah silika, oksida besi dan alumunium, gas yang dihasilkan ada CO, CO2, SO2, NO2, Aldehida, Hidrokarbon dan fluorida. Semua polutan ini berpotensi sebagai pencetus fibriosis (kekakuan jaringan paru), pneumoconiosis, sesak napas, alergi sampai menyebabkan  kanker.

Dampak Kabut Asap

Dampak yang dihasilkan oleh kabut asap sangat luas, secara langsung kabut asap merusak infrastruktur seperti hilangnya aset pertanian, perkebunan dan kehutanan. Dampak ekologi berupa hilangnya spesies langka, tumbuhan pun mengalami kerusakan sehingga hutan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya. Dampak ekonomi seperti hilangnya keuntungan akibat deforestasi, petani rugi karena tumbuhannya tidak bisa tumbuh maksimal akibat terpapar kabut asap, dan transportasi juga terhambat bahkan beberapa bandara tidak bisa beroperasi.

Dampak kesehatan secara nyata pada manusia, berupa gangguan pernapasan, dengan penderita terbanyak dari kalangan manula, bayi, dan pengidap penyakit paru. Dampak dalam sektor pendidikan pun juga menjadi perhatian, beberapa sekolah terpaksa diliburkan selama dua minggu. Kebijakan ini sesuai dengan instruksi Mendikbud dalam Surat Edaran (SE) Nomor : 90623/MPK/LL/2015 tertanggal 23 Oktober 2015 yang ditujukan kepala daerah untuk meliburkan siswanya jika kabut asap sudah mencapai angka ISPU 199ppm.

Menurut  Rajib Shaw dkk, pendidikan merupakan kunci pengurangan risiko dampak bencana. Edukasi tanggap bencana sejak dini akan melatih masyarakat siap menghadapi bencana. Pengalaman menunjukkan bahwa tingginya korban atau kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana adalah karena masyarakat tidak siaga.

Upaya pemerintah untuk melindungi warga negaranya terhadap bencana melalui disusunnya Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana  yang memuat tentang paradigma baru bahwa penanggulangan bencana harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan terkoordinasi. Dan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam penanggulangan bencana saat tidak terjadi bencana adalah upaya preventif untuk mengurangi risiko bencana, salah satunya dengan memberikan edukasi kesiapsiagaan bencana kepada peserta didik.

Sudah saatnya dalam mitigasi bencana anak bisa dijadikan sosial marketer. Artinya mengajarkan anak sedini mungkin belajar pengetahuan tentang kebencanaan. Mereka bisa diberdayakan sebagai agen perubahan agar mempunyai  kemampuan melindungi diri dan orang-orang di sekitarnya.

Melihat dampak kabut asap yang sangat berbahaya, edukasi tanggap darurat kabut asap menjadi pilihan rasional dan mendesak bagi masyarakat di wilayah rawan bencana kabut asap dan harus menjadi program sekolah. Sekolah dituntut untuk bisa menciptakan Sekolah Aman Asap, agar bisa menekan risiko korban bila bencana kabut asap tersebut kembali terjadi.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan tempat penyemaian berbagai ilmu dan keterampilan bagi siswanya sudah saatnya mulai mampu menunjukkan kemandirian dalam kesiapsiagaan bencana asap. Keterbatasan pemerintah seharusnya disikapi oleh inisiatif sekolah melaksanakan kesiapsiagaan bencana secara mandiri dengan mencari inovasi terbaru dalam melakukannya. Meski demikian program ini tidak akan berhasil bila tidak ada kerja sama yang baik dari seluruh warga sekolah maupun instansi terkait.

Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah

Kesiapsiagaan menurut UU RI No. 24 Tahun 2007 adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

Paradigma baru dalam penanggulangan bencana lebih diprioritaskan untuk mengurangi risiko bencana. Kegiatan kesiapsiagaan meliputi : 1. kemampuan menilai risiko, 2. perencanaan siaga, 3. mobilisasi sumber daya, 4. pendidikan dan pelatihan, 5. koordinasi, 6. mekanisme respons, 7. manajemen informasi, 8. simulasi.

Kesiapsiagaan merupakan suatu hal yang penting dan harus dibangun di setiap level masyarakat, terutama di lingkungan sekolah. Karena kita tidak bisa menghindar dari paparan kabut asap. Sekolah adalah pusat pendidikan selain siswa menuntut ilmu pengetahuan, siswa perlu diberi keterampilan dalam menjaga kelangsungan hidupnya (life skill). Selain itu sekolah bisa menjadi penghubung pemerintah dan masyarakat yang efektif. Siswa umumnya lebih cepat menyerap informasi yang disampaikan kepadanya, dan mereka dapat memadukan antara ilmu dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemampuan itu siswa bisa berfungsi menjadi sumber pengetahuan bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya. Dan yang tak kalah penting sekolah juga memiliki peran  membentuk siswa dalam berperilaku sehat dan aman. 

Pencegahan terhadap bencana menjadi salah satu focus di sekolah dengan memberdayakan siswa untuk memahami tanda-tanda datangnya bencana serta langkah-langkah yang harus diambil untuk mengurangi risiko dan mencegah jatuhnya korban bencana. Jadi kesiapsiagaan di lingkungan sekolah dalam menciptakan sekolah aman asap hendaknya bisa dimasukkan dalam pembelajaran, termasuk program Bimbingan dan Konseling. Melalui layanan informasi  dapat disampaikan dalam berbagai format, contohnya: dalam bentuk ceramah dan dialog, stiker, simulasi, papan bimbingan, leaflet, dan sebagainya.

Sekolah Aman Asap

Sekolah Aman Asap adalah sebuah kondisi sekolah yang ruang kelasnya dikondisikan tetap aman dan nyaman selama terjadinya bencana kabut asap. Menurut Zelly Nurachman  salah seorang pakar dari ITB mengatakan, bahwa tujuan Sekolah Aman Asap adalah untuk menyiapkan sekolah dengan kualitas udara yang aman sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan normal pada saat terjadi kabut asap  (2015).

Sekolah Aman Asap ini sudah diujicobakan  pada tahun 2015 di SDN N0 181/IV Kelurahan Lebak Bandung, Jelutung, Jambi. Ruang kelas yang sudah dipasangi penyaring udara berhasil menekan dampak bahaya asap bagi pelajar. Dari hasil uji coba tersebut menunjukkan ISPU di luar ruangan yang tadinya 280ppm dengan sistem ini bisa menurunkan tingkat pencemaran hingga menjadi 70ppm.

Sistem ini digagas oleh Zeilly Nurachman, seorang Penggiat minyak laut dari mikroalga biokimia Institut Teknologi Bandung (ITB). Konsep dasarnya adalah menyaring udara yang masuk ke dalam ruangan dengan menggunakan dakron atau kain yang selalu harus dalam kondisi basah. Akuarium (bisa diganti dengan baskom) yang diberi alga dan filter akan menyerap partikel yang tidak tersaring oleh dakron, kipas angin harus tetap ada (2016). Sistem Sekolah Aman Asap ini sangat terjangkau dan bisa diterapkan di sekolah maupun di rumah.

Sebagai langkah lanjutan sekolah perlu membentuk Tim Siaga Bencana di sekolah agar program kesiapsiagaan yang telah disusun mampu berdayaguna dan berhasil guna. (*)

(Penulis adalah Guru BK SMA Negeri 2 Katingan Hilir, Pengurus Daerah IGI Katingan)

You Might Also Like