Dari kanan, Kasatreskrim Iptu Jhon Digul Manra, Kapolres Pulpis AKBP Siswo Yuwono BPM, Kajari Pulpis Triono Rahyudi, dan Wakapolres Pulpis Kompol Imam Riadi menunjukkan barang bukti dan tersangka dugaan tipikor, Rabu (10/7). (ART/KALTENG POS)


PULANG PISAU-Penanganan kasus dugaan tindak pidana korupsi (tipikor) proyek pembangunan Pasar Patanak Pulang Pisau (Pulpis) memasuki babak baru. Penyidik Satreskrim Polres Pulang Pisau telah menjerat lima tersangka dalam kasus ini.

Kelima tersangka itu yakni Feri Niagara (FN) selaku subkontraktor atau pelaksana proyek pembangunan pasar, Fauzi Tambang (FT) selaku kuasa pengguna anggaran, Fitriadie (FI) selaku pejabat pembuat komitmen (PPK), serta Maulydia Aryas (MA) dan Yasmun (YA) selaku direktur dan komisaris utama PT Talawang Nampara Perkasa yang memenangkan tender.

Kemarin (10/7), Polres Pulpis melaksanakan tahap dua atau pelimpahan tersangka dan barang bukti kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Pulang Pisau.

“Ada tiga tersangka yang kami limpahkan, yakni FN, MA, dan FI,” kata Kapolres Pulpis AKBP Siswo Yuwono BPM kepada awak media, kemarin.

Siswo mengungkapkan, penyimpangan proyek dilakukan pada tahun anggaran (TA) 2016, dengan nilai kontrak Rp4,8 miliar lebih. Setelah diaudit oleh BPK-RI, total kerugian dari bancakan proyek Pasar Patanak ini mencapai Rp2.733.947.552,97. Berdasarkan aliran dana yang dibeberkan, tersangka FN beberapa kali memberikan uang kepada tersangka lain.

Diduga terdapat kesalahan pada struktur atap, baik terkait besi maupun bangunannya, karena dinilai tak sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Pemeriksaan hasil pengerjaan melibatkan ahli dari Asosiasi Tenaga Ahli Pemborong Indonesia. Berdasarkan pengujian terhadap volume pekerjaan, akhirnya diketahui bahwa terdapat pengerjaan yang tidak sesuai dengan volume sebagaimana tercantum dalam kontrak, yakni pada pembesian, beton, bekisting, dan pengerjaan taman.

Pemeriksaan atas hasil pengerjaan proyek juga dilakukan oleh ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Berdasarkan hasil uji laboratorium dan keterangan ahli ITB, bangunan blok A memiliki risiko kegagalan struktur, akibat kurangnya kapasitas struktur ring balk (balok ring).

“Jika terjadi kegagalan struktur ring balk, maka struktur atau beban yang dipikul ring balk akan ikut runtuh. Itu sangat membahayakan bagi pengguna bangunan,” tegas Siswo.

Lebih lanjut dikatakannya, blok C juga memiliki kegagalan struktur yang besar, akibat adanya pemutusan tulangan pada tulangan atas struktur ring balk.

“Keruntuhan blok C dapat diprediksi ketika ada beban gravitasi bekerja pada ring balk tersebut. Beban gravitasi bisa berupa orang (manusia) atau barang yang tepat berada pada bentang ring balk tersebut,” bebernya.

Dia menambahkan, dalam kasus ini penyidik menyita barang bukti dokumen, laptop, mobil Honda HRV, dan uang tunai Rp123 juta.

Tersangka dijerat Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor yang telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 18 ayat (1) huruf b UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor yang telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (91) ke-1 KUHP.

“Merujuk pada pasal 2, maka ancaman hukuman paling singkat empat tahun penjara. Sementara pada pasal 3, ancaman hukuman paling singkat satu tahun penjara,” tegasnya seraya menambahkan pihaknya akan segera menyelesaikan penyidikan untuk dua tersangka lainnya, yakni FT dan YA.

Sementara itu, Kajari Pulpis Triono Rahyudi melalui Kasipidsus Amir Giri mengatakan, penuntut umum Kejari Pulpis telah menerima pelimpahan tersangka dan barang bukti perkara tipikor dari penyidik Polres Pulang Pisau. Dari lima tersangka (lima berkas perkara), penyidik baru menyerahkan tiga tersangka, yakni FN, MA, dan FI. Dua tersangka lainnya belum dilimpahkan, karena satu tersangka sedang mengalami sakit dan satunya lagi masih dalam penelitian berkas perkara.

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan barang bukti, penuntut umum melakukan penahanan dan dititipkan selama 20 hari di Rutan Kelas IIB Kuala Kapuas. ”Terhitung sejak hari ini (kemarin),” ujarnya.

Penahanan tersebut dilakukan sesuai Pasal 21 ayat (4) huruf a KUHAP, karena dikhawatirkan para tersangka melarikan diri, menghilangkan barang bukti, dan mengulangi perbuatannya. Perbuatan para tersangka juga telah memenuhi syarat objektif dan syarat formil sesuai ketentuan Pasal 21 ayat (1) KUHAP.

“Setelah ini para penuntut umum akan segera melimpahkan berkas dan barang bukti perkara ke Pengadilan Tipikor Palangka Raya. Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan sidang pengadilan,” tutupnya. (art/ce/ram)

Loading...

You Might Also Like