Ilustrasi lukisan Zhuge Liang. (foto: net)


BEBERAPA hari lalu secara tidak sengaja saya melihat lukisan Zhuge Liang di Facebook. Hal ini mengingatkan saya kembali pada sejarah tahun 220-280 di zaman Tiga Negara (Samkok).

Saya juga jadi teringat hubungan sosok Zhuge Liang dan Jesus.

Zhuge Liang (181-234) adalah seorang penganut Khonghucu salah satu ahli strategi terbaik dari Tiongkok pada jaman Samkok, Ia juga merupakan seorang Perdana Menteri, insinyur, ilmuwan, dan penemu yang handal.

Di zaman Samkok pernah terjadi pemberontakan besar-besaran di daerah selatan Tiongkok. Perdana Menteri negara Shu Han pada saat itu, Zhuge Liang meminta izin kepada kaisarnya, Liu Bei untuk menumpas pemberontakan oleh Suku Selatan, terkenal dengan sebutan ‘The Southern Campaign’.

Suku Selatan itu disebut juga Nanman atau orang dari Selatan (sekarang Burma/Myanmar).

Pemimpin di daerah Selatan yang memberontak itu bernama Meng Huo. Zhuge Liang karena kepandaiaannya sudah mengalahkan Meng Huo tujuh kali dan membebaskannya sampai tujuh kali juga, di mana saat pembebasan ketujuhnya Meng Huo akhirnya menyerah dan berjanji tidak akan memberontak lagi kepada negara Shu Han.

Saat itu belum ada sebutan Tiongkok karena Tiongkok masih terpecah menjadi tiga negara: Shu, Wu dan Wei.

Sewaktu membebaskan Meng Huo, Zhuge Liang selalu ditentang oleh jendral-jendralnya: Kenapa dia dibebaskan lagi? Bagaimana jika dia memberontak lagi?, Zhuge Liang dengan tenang menjawab: Aku dengan mudah dapat menangkapnya kembali semudah membalikan tanganku. Kini aku sedang mengalahkan hatinya.

Zhuge Liang tahu persis kalau Meng Huo ditangkap lalu dibunuh, akan ada pengganti Meng Huo lainnya yang akan memimpin pemberontakan ke Shu. Karena itu ia pikir lebih baik membuat pemimpin daerah Selatan yang berpengaruh ini berpihak kepadanya supaya Meng Huo bisa memimpin daerah Selatan untuk setia kepada negara Shu.

Pada pertempuran yang terakhir, yang ketujuh kalinya; Zhuge Liang membuat Meng Huo masuk ke lembah yang dikelilingi pegunungan. Di lembah itu Zhuge Liang membuat jebakan dengan menaruh banyak kereta pengangkut makanan.

Ketika melihat kereta itu, Meng Huo langsung tertarik dan memimpin pasukannya masuk ke lembah itu.

Setelah pasukan Meng Huo mendekati kereta pengangkut makanan itu, ternyata kereta itu tidak berisi makanan melainkan bubuk mesiu!

Langsung saja pasukan Shu yang sudah menunggu di kaki gunung memanah kereta-kereta yang penuh bubuk mesiu itu dengan panah api.

Terjadi ledakan besar-besaran di lembah itu, dan dalam sekejap lembah itu menjadi lautan api yang menewaskan hampir semua pasukan Meng Huo.

Kemenangan ini tidak membuat Zhuge Liang senang begitu saja, ia hanya agak menyesali dan berkata: Jasaku memang besar kepada negara, namun dosaku juga sangat besar kepada Thian (Tuhan YME); semoga Thian berkenan mengampuniku karena aku hanya menjalankan kewajiban menjaga keamanan negara.

Setelah kejadian ini, Meng Huo kembali ditangkap pasukan Zhuge Liang. Ketika Zhuge Liang menemui Meng Huo, ia langsung melepaskan ikatan tali Meng Huo dan berkata: Silahkan anda pergi lagi dan mempersiapkan pasukan baru anda untuk bertarung kembali, mendengar itu Meng Huo terharu dan berkata: Tujuh kali tertangkap, tujuh kali juga dibebaskan!

Kejadian seperti ini seharusnya tidak pernah dan tidak akan terjadi! Meskipun aku orang yang kurang beradab, namun aku masih punya prinsip moral yang masih menjunjung etika.

Tidak, aku tidak sehina itu kata Meng Huo! Setelah kejadian ini, suku Selatan menakluk tidak pernah memberontak lagi kepada negara Shu.

Dalam buku Tan Pei Ying, The Building of The Burma Road terbitan New York, McGraw-Hill, 1945. Ketika sebelum pecah perang antara Jepang dan Tiongkok tahun 1937, semua akses ke lautan negara Tiongkok telah diblokade oleh Jepang. Untuk mengatasi hal tersebut maka Tiongkok membuat jalan akses baru di daerah Burma/Myanmar sekarang.

Pekerjaan ini dipimpin oleh seorang insinyur yg bernama Tan Pei Ying. Di Burma Tan Pei Ying menemukan fenomena tidak biasa yang menjadi sebuah akulturasi budaya. Di mana ia melihat pemujaan Altar pada Zhuge Liang, namun ada di sebelahnya Patung Bunda Maria.

Usut punya usut ternyata pengaruh Zhuge Liang di Burma masih sangat terasa di sana. Kenyataannya ketika Tan Pai Ing memulai pekerjaannya, ia mendapatkan banyak bantuan dari orang-orang Burma.

Di dalam rumah orang Burma di wilayah zamannya Meng Huo itu banyak terdapat pemujaan dan altar bagi patung-patung Zhuge Liang.

Sehingga ketika misionaris Katolik datang ke Burma untuk menyebarkan agamanya mula-mula mereka menghadapi penolakan yang sangat berarti, maka akhirnya mereka memiliki ide dengan mengatakan bahwa ”Jesus Kristus adalah merupakan saudara muda dari Zhuge Liang”

Barulah setelah meyakini hal itu orang-orang Burma lambat laun akhirnya mau menjadi penganut Katolik, dengan catatan mereka tetap menyandingkan patung Maria dengan Patung Kong Ming pada altar yang sama.

Ternyata pada saat tahun 1930-an. Jesus beserta Bunda Maria sudah berjumpa dengan Zhuge Liang di Burma/Myanmar sana.

Seperti kata Sunzi : “Filosofi seni tertinggi dari berperang ialah menaklukan musuh tanpa melakukan pertempuran”. (rmol/kpc)

(Penulis adalah Intelektual muda Khonghucu)

Loading...

You Might Also Like