Ilustrasi. (foto: net)


ADA sebuah istilah “Life is too short to keep your feelings inside.” Hidup akan berarti sangat singkat jika kita terus-terusan menyimpan sebuah rasa akan suatu masalah hidup. Kita sebagai manusia adalah hal yang wajar jika memiliki sebuah masalah.

Salah satu Psikolog dari Himpunan Psikolog (Himpsi) Jatim Atikah Dian Ariana mengatakan bahwa tingkat depresi itu tinggi, data di Indonesia depresi menjadi nomor satu untuk kasus rawat jalan. Hal ini membuktikan bahwa psikis jarang sekali diperhatikan oleh kebanyakan orang. Padahal, kesehatan mental adalah hal yang sangat penting dan menjadi tolak ukur dalam dunia kesehatan.

Dalam publikasi World Health Organization (WHO), satu dari empat orang di dunia terjangkit gangguan mental atau neurologis dalam beberapa waktu di dalam hidup mereka. Publikasi yang sama menyebutkan sekitar 450 juta orang saat ini menderita gangguan mental, dan hampir 1 juta orang melakukan bunuh diri tiap tahun. 

World Health Organizaton (WHO) mendefinisikan bahwa tubuh yang sehat itu adalah sehat secara fisik, mental, dan sosial. Selama ini, tidak sedikit orang yang fokus menjaga kesehatan tubuh hanya secara fisik saja dan melupakan cara merawat kesehatan mentalnya. Padahal keduanya saling terkait dan sama pentingnya.

Kesehatan mental merupakan status kesejahteraan dimana setiap orang dapat menyadari secara sadar terkait kemampuan dirinya, kemudian dapat mengatasi berbagai tekanan dalam kehidupannya, dan dapat bekerja secara produktif. Bagi sebagian masyarakat apalagi kaum muda, memiliki hormon yang tidak stabil, malah membuat mereka malu untuk berbagi permasalahan dan lebih memilih untuk mereka simpan sendiri. Terlebih stigma masyarakat masih menganggap orang yang pergi ke Psikolog yakni hanya orang yang memiliki penyakit kejiwaan. Hal ini tidaklah benar, kawan-kawan.

Di Indonesia sendiri, dari data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, dikombinasi dengan Data Rutin dari Pusdatin dengan waktu yang disesuaikan, prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, adalah 1,7 per 1.000 penduduk atau sekitar 400.000 orang. 

Akhir-akhir ini kasus yang marak terjadi yaitu tentang Self-Diagnose, yang berarti  mendiagnosis diri sendiri memiliki sebuah gangguan atau penyakit berdasarkan pengetahuan yang dimiliki diri sendiri tanpa pemeriksaan dan diagnosis dari ahli. Self-Diagnose sangat berbahaya selain menyebabkan salah diagnosis, membuat kepanikan yang tidak berdasar, dapat memicu stress dan depresi, bisa mengonsumsi obat yang salah, dan menyebarkan informasi yang salah ke orang lain.

Misalnya, seseorang yang belakangan ini sering merasa pusing. Kemudian ia menggunakan mesin pencari untuk menjawab rasa penasarannya. Dari hasil pencariannya ternyata membawanya pada gejala penyakit serius seperti kanker otak. Orang itu kemudian langsung merasa takut dan sudah panik karena menyangka dirinya mengalami penyakit serius. Padahal belum tentu dia memang memiliki penyakit serius, tapi dia telah menciptakan kepanikan yang tidak perlu untuk dirinya sendiri. Perilaku inilah yang harusnya dihindari.

Sama dengan penyakit fisik, hal yang sama sering dilakukan pula untuk gangguan mental. Hal ini yang kemudian menyebabkan munculnya persepsi yang salah mengenai gangguan mental. Orang yang mood nya mudah berubah dikira berkepribadian ganda. Orang yang tidak mudah berada di keramaian dikira antisosial. Orang yang sering berbohong dikira psikopat dan masih banyak mispersepsi lainnya.

Solusi terbaik yaitu, jangan mudah untuk mendiagnosa diri sendiri. Jadikan informasi yang diperoleh sebagai gejala. Berkonsultasilah dengan psikolog untuk didiagnosa dan diberikan treatment yang terbaik dan sesuai. Perlu diketahui, khusus untuk gangguan psikologis, seseorang baru bisa dinyatakan memiliki gangguan ketika pendapat itu didiagnosis oleh psikolog atau psikiater.

Apa yang kamu baca di internet mungkin membawamu pada keyakinan-keyakinan tertentu. Namun pahamilah, bahwa apa yang kamu yakini belum tentu sepenuhnya benar. Merasa mengalami satu atau dua gejala dari sebuah gangguan atau penyakit pun bukan berarti kamu memiliki penyakit atau gangguan itu.

Janganlah membiarkan dirimu larut dalam permasalahan yang seharusnya tidak kamu simpan sendirian. Psikolog hadir sebagai teman, sahabat, dan pendamping. Mereka selalu ada disaat kamu membutuhkan, dan jangan khawatir akan rahasiamu terbongkar. Mempertahankan kerahasian data adalah salah satu pasal yang wajib dipatuhi oleh seorang Psikolog. Psikolog atau Ilmuwan Psikologi wajib memegang teguh rahasia yang menyangkut klien atau pengguna layanan psikologi dalam hubungan dengan pelaksanaan kegiatannya.

Dalam kategori apa sih kita harus berkonsultasi dengan seorang Psikolog? Terkadang kita tidak sadar kalau sebenarnya kita sedang membutuhkan bantuan Psikolog untuk menyelesaikan permasalahan kita, atau bahkan kita tidak tahu bahwa sebenarnya kita sedang ‘bermasalah’

Berikut mungkin beberapa tanda yang bisa kamu waspadai, dan saatnya kamu harus perhatian kepada kesehatan mentalmu. Pertama, saat masalahmu sudah mengganggu keseharianmu. Kedua, kamu pernah atau baru saja mengalami kejadian traumatis. Ketiga, kamu berusaha memecahkannya sendiri, namun malah menemui jalan buntu. Keempat, saat merasa orang-orang di sekitarmu gak ada yang bisa membantu. Kelima, orang-orang terdekat merasa terganggu dengan sifat dan perilakumu. Keenam, kamu mencari pelampiasan dengan kebiasaan buruk.

Nah kawan-kawan, tidak ada yang salah untuk pergi ke Psikolog. Sebagian orang melakukannya untuk suatu tujuan yang baik. Setidaknya masyarakat harus mulai menghapus berbagai pandangan negatif tentang seseorang yang pergi ke Psikolog. Kita harus mengerti bahwa setiap orang diberikan permasalahan yang berbeda-beda dan sudah tugas kita untuk menghargai mereka yang berusaha untuk menjalani hidup seperti orang lain. (***)

(Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang asal Sampit, Kalimantan Tengah)

You Might Also Like