Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Hendra Rochmawan


PALANGKA RAYA - Kapolda Kalteng melalui Kabid Humas Polda Kalteng, Kombes Pol Hendra Rochmawan menghimbau masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) yang memiliki keluarga terkena kasus bibir sumbing maupun celah langit-langit mulut untuk segera dibawa berobat.

"Hal ini sesuai keterangan dari dokter yang kami dapatkan," kata Hendra, Senin (17/6/2019).

Lebih lanjut, Hendra mengungkapkan berdasarkan keterangan dokter jika pengobatan paling baik yakni usia yang masih dini, maksimal berusia 2 tahun. Oleh sebab itu, ia mengharapkan jika usia sudah mencapai 2 tahun, secepatnya dibawa untuk berobat.

Hendra juga mengatakan hal ini bertujuan agar fungsi dari bibir sumbing dan celah langit-langit mulut bisa kembali dengan normal. Selain itu, estetika yang bersangkutan juga berpengaruh.

"Begitu juga dari segi psikologi berdampak positif dan fungsi indra juga kembali normal. Sekali lagi kami harapkan berobatlah sedini mungkin," tuturnya.

Dikutip dari laman alodokter, bibir sumbing adalah kondisi kelainan bawaan yang ditandai dengan adanya celah atau belahan pada bibir bagian atas. Celah tersebut bisa terdapat di tengah, kanan, atau bagian kiri bibir. Selain di bibir atas, sumbing juga bisa terjadi pada langit-langit mulut. Kondisi ini biasa disebut dengan langit-langit sumbing.

Bibir sumbing dan langit-langit sumbing terjadi karena jaringan di bibir bayi atau di langit-langit mulut bayi saat di dalam rahim tidak menyatu, sehingga meninggalkan celah. Normalnya proses penyatuan tersebut terjadi pada bulan kedua dan ketiga di masa kehamilan.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan bibir sumbing dan langit-langit sumbing. Namun para ahli percaya bahwa kondisi ini terjadi akibat kombinasi faktor genetik dan lingkungan.

Beberapa faktor berikut ini mungkin bisa meningkatkan risiko pasangan memiliki bayi yang terlahir sumbing. Di antaranya adalah:

·         Genetik. Bayi yang lahir dari orang tua dengan kondisi bibir sumbing dan langit-langit sumbing atau memiliki saudara dengan keadaan tersebut lebih berisiko mengalami kondisi yang sama.

·         Gender. Bayi laki-laki dua kali lebih berisiko mengalami cacat lahir ini dibanding bayi perempuan. Pada bayi laki-laki, kondisi bibir sumbing bisa terjadi dengan atau tanpa disertai langit-langit sumbing. Sedangkan langit-langit sumbing tanpa disertai bibir sumbing lebih umum terjadi pada bayi perempuan.

·         Diabetes. Ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa wanita yang didiagnosa menderita diabetes sebelum masa kehamilan berisiko tinggi melahirkan bayi dengan bibir sumbing.

·         Obesitas selama masa kehamilan. Bayi dari ibu penderita obesitas berisiko terlahir dengan bibir sumbing atau langit-langit sumbing.

·         Paparan zat tertentu selama masa kehamilan. Ibu yang merokok dan mengonsumsi alkohol selama masa kehamilan berisiko melahirkan bayi dengan kondisi bibir sumbing dan langit-langit sumbing. Selain itu, konsumsi tablet kortikosteroid dan obat-obatan antikejang pada masa awal kehamilan juga dihubungkan dengan beberapa kasus bibir sumbing.

·         Kekurangan asam folat di masa kehamilan.

Pada beberapa kasus, bibir sumbing merupakan bagian dari kondisi-kondisi yang juga dapat menyebabkan cacat lahir, seperti sindrom DiGeorge, sindrom Pierre Robin, dan sindrom Van der Woude.

Bayi dan anak yang mengalami bibir sumbing berpotensi mengalami beberapa komplikasi seperti:

·         Gangguan pendengaran. Penumpukkan cairan dalam telinga dan infeksi telinga berulang berisiko untuk menimbulkan gangguan pendengaran.

·         Masalah pertumbuhan gigi. Jika belahan meluas hingga ke bagian gusi atas, pertumbuhan gigi bayi akan terganggu.

·         Kesulitan dalam menghisap ASI.

·         Kesulitan dalam berkomunikasi. Bibir sumbing dapat membuat perkembangan suara anak terganggu dan akan terdengar sengau.

Untuk mengatasi komplikasi yang terjadi, dapat diberikan pengobatan tambahan, di antaranya adalah:

Pengobatan infeksi telinga. Pengobatan ortodontik, seperti pemasangan kawat gigi. Terapi bicara untuk memperbaiki kesulitan dalam berbicara. Alat bantu dengar untuk anak yang kehilangan pendengaran dan menggunakan botol khusus atau alat lainnya untuk memberi makan pada anak.

Anak dengan bibir sumbing mungkin mengalami masalah dalam emosi, perilaku, dan kehidupan sosialnya karena penampilannya yang berbeda dan stres menjalani berbagai macam prosedur medis. Konsultasi dengan psikolog dapat membantu anak untuk menghadapi keadaan ini. (atm/nto)

Loading...

You Might Also Like