Wartawan Kalteng Pos Anisa B Wahdah (berkerudung) saat menyambangi yatim piatu tiga bersaudara di Kompleks Flamboyan, Rabu (12/6). (HENI/KALTENG POS)


Dillah bersaudara yang sudah lama kehilangan orangtua. Untung saja, pemerintah secepatnya hadir memberikan kedamaian. Begini kehidupan Dillah dan ketiga adiknya usai disambangi Gubernur Kalteng, beberapa waktu lalu.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

NAMANYA sempat membuat hati beberapa orang terenyuh, mereka adalah Dillah, Nur Aida dan Muhammad Ramadhani. Berawal dari Kalteng Pos mengisahkan kehidupan mereka yang sudah lama ditinggal kedua orang tuanya. Ibunya, meninggal 2016 lalu dan di susul ayahnya yang belum genap satu tahun itu.

Di hari yang sama, saat Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran membaca tulisan di koran Kalteng Pos beberapa waktu lalu, ia beserta jajaran Perangkat Daerah (PD) di lingkup Pemerintah Provinsi (pemprov) Kalteng turun tangan. Hadir bagi ketiganya. Gubernur akui terenyuh melihatnya, dan memberikan perlindungan dengan bantuan dan jaminan rumah hingga sekolah untuk Dillah, yang sempat terhenti beberapa tahun lalu.

Kalteng Pos mencoba mengintip kembali kehidupan Dillah dan adik-adiknya di permukiman padat penduduk kompleks flamboyan, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Rabu (12/6). Rumah yang sempat kami datangi sebelumnya sepi bahkan tertutup rapat. Seperti tak berpenghuni.

Ternyata benar, setelah beberapa kali mengetuk pintu kayu tak berwarna itu tak seorang pun menyahut suara. Sempat berfikir mereka sudah pindah. Tetapi, tidak lama kemudian laki-laki dengan wajah yang tak asing bagi saya (penulis,red) menyapa, senyumnya mengingatkan pertemuan kali pertama dengan Dillah, yang sempat membuat penulis prihatin.

“Mbak, kami pindah ke sebelah. Silahkan masuk,” katanya menyapa saya.

Barak (kos,red) kayu yang menjadi tempat ia berteduh sebelumnya sudah tidak layak dipakai hingga membuat ketiga anak ini takut jika sewaktu-waktu roboh. Mereka pindah ke barak sebelahnya. Kondisi rumah pun berbeda dengan sebelumnya. Kini, rumah kayu tak berwarna itu sudah terlihat beberapa perabotan rumah, baju yang dikenakan Dillah juga tampak baru.

“Perabotan itu dibeli dengan uang dari pak gubernur beberapa waktu lalu, kami waktu itu juga dibawakan makanan dan bahan pokok lainnya,” kata Dillah.

Meski tak ada perubahan yang signifikan, tetapi mendengar Dillah bercerita tentang kehidupannya pascakedatangan orang nomor satu di Bumi Tambun Bungai ke baraknya membuat saya senang mendengarnya. Lebaran ini ia membeli baju baru sekaligus kedua adiknya.

“Alhamdulillah, lebaran kemarin saya bisa beli baju untuk Aida dan Adhan di pasar, menggunakan uang yang diberikan pak gubernur juga,” ucapnya.

Beberapa orang yang Dillah tak mengerti siapa mereka juga menyambangi ketiganya. Ia juga sudah melakukan penandatangan rekening tabungan yang diberikan gubernur. Proses ia untuk menempuh pendidikan jalur paket juga akan diikutinya.

Selain itu, Dillah cukup lega lantaran barak yang ditempatinya sudah dibayar hingga tiga bulan ke depan, juga menggunakan uang dari gubernur. Selanjutnya, adiknya, Nur Aida yang dulunya kerap tak membawa uang saku saat berangkat sekolah kini sudah bisa membawa saku seperti teman-teman lainnya.

“Dulu jarang membawa uang saku, terkadang hanya menerima pemberian orang. Alhamdulillah kak, setelah pak gubernur ke sini saya bisa memberikan Aida uang saku,” kisahnya dengan senyum malu-malu.

Pandangan mengharukan juga saat saya melihat ayunan menggantung dan berbunyi musik di dalamnya. Yang tergantung di kain berwarna hijau botol itu tak lain adalah Adhan, si bungsu dari tiga bersaudara ini. Sendirian, tanpa belaian ataupun pelukan. Hanya tergantung sendirian oleh tali yang diikat ke kayu di rumah. (*/ala) 

You Might Also Like