Gavin (tengah) dibimbing mamanya, Novia (kiri), dan guru Baby Smile School Surabaya, Lina, menyusun balok. (RIANA SETIAWAN/JAWA POS)


KOMUNIKASI tidak sebatas dilakukan dengan kata-kata. Sebelum mampu berbicara, seseorang mulai mengungkapkan keinginannya lewat ekspresi.

’’Di usia bayi, anak berekspresi lewat nangis, senyum, atau tertawa. Agar mereka diperhatikan orang tuanya,” ungkap psikolog Ersa Lanang Sanjaya SPsi MPsi. Karena itu, komunikasi sangat penting dikenalkan pada anak.

Menurut Ersa, komunikasi anak-orang tua merupakan sarana belajar anak. Ibaratnya, anak adalah laptop baru. ”Mereka sudah dibekali kemampuan dan organ bicara, tapi belum bisa menggunakan. Nah, tugas orang tua adalah memberi stimulasi dengan mengajak ngobrol,” paparnya.

Meski belum mampu bicara, anak memahami maksud orang tua. ’’Contohnya, saat orang tua bilang no, anak biasanya langsung berhenti dan enggak melakukan,’’ imbuh dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya itu.

Lewat komunikasi, anak belajar menghadapi banyak hal. Mulai memahami mimik wajah, kapan harus bicara, hingga bagaimana intonasi saat berbicara. Misalnya, ketika orang tua dan anak bermain. Menang dan kalah bisa jadi sarana belajar anak. Ersa melanjutkan, anak bisa diajari bersikap sportif dan lapang dada.

”Kecerdasan emosi anak ikut diasah. Mereka belajar, kalau kalah atau menang, tidak boleh meluapkan emosi berlebihan,” terang psikolog kelahiran Batu tersebut.

Obrolan kecil dapat menanamkan value secara tidak langsung. Pemahaman itu bahkan mampu bertahan hingga anak dewasa. Dr Mira Irmawati SpA(K) beranggapan bahwa komunikasi, terutama yang dilakukan orang tua dan orang-orang di lingkungan terdekat anak, adalah pendukung perkembangan si kecil. Tanpa hal itu, tumbuh kembang anak tidak akan optimal. Sebab, komunikasi merupakan stimulasi agar kemampuan anak berkembang.

”Orang tua adalah ’sekolah’ pertama anak. Kalau genetik dari orang tua baik, tapi anak tidak diperhatikan, percuma,” jelas spesialis anak yang berpraktik di RSUD dr Soetomo, Surabaya, itu.

Konsultan tumbuh kembang tersebut mengibaratkan anak sebagai rumah. Nutrisi berfungsi sebagai pembangun, sedangkan stimulasi adalah listrik. Bila nutrisi baik, namun si kecil tidak mendapat perhatian, kemampuan anak tidak akan terasah. Kurangnya komunikasi rawan memicu speech delay. Keterlambatan bicara juga dipicu penggunaan gawai yang berlebihan. Walaupun berisi konten edukatif, gawai tidak bisa menggantikan komunikasi langsung.

”Komunikasinya cuma searah. Makanya, anak yang sudah terpapar gadget kalau diajak ngobrol kelihatan bingung atau pakai bahasa kaku,” tuturnya.

Mira mengungkapkan, bentuk speech delay berbeda-beda. Ada yang sulit mengucapkan kalimat secara runtut, ada pula yang hanya mampu menggumam. Dokter yang juga berpraktik di RS Darmo Surabaya itu menegaskan, orang tua harus segera memeriksakan anak. ”Jangan sepelekan dan mikir ’nanti juga bisa sendiri’,” tegasnya. Ingat ya, sesal kemudian tak berguna. (fam/c18/nda)

==

Bagaimana Mengawalinya?

Bagi beberapa orang tua, memulai ngobrol dengan anak mungkin terasa canggung. Apalagi, bila anak belum mampu menanggapi. Berikut tipnya.

PELAFALAN JELAS

Parentese ditandai dengan intonasi lebih tinggi, huruf vokal dipanjangkan, dan pelafalan konsonan yang dibuat jelas. Umumnya, kata juga diulang-ulang. Parentese idealnya digunakan saat bayi berusia 0–6 bulan. Setelah itu, orang tua bisa berbicara seperti biasa, namun dengan kecepatan lebih pelan.

AJARKAN KATA UMUM

Semakin sering kata digunakan, makin cepat pula bayi mengingatnya. Misalnya, kata ”ibu”, ”ayah”, atau ”makan”. Atau, bila anak suka bermain bola, ajarkan kata ”bola”.

MAKSIMALKAN MEMORI SENSORIK

Ajarkan kata sambil mengenalkan objek. Misalnya, saat menunjukkan tangan, orang tua bisa mengangkat tangan anak (”ini tangan adik”). Atau, menyentuhkan objek pada anak (”ini hidung ibu”, sambil menyentuhkan tangan anak ke hidung ibu).

ASAH INDRA

Orang tua perlu menjelaskan apa yang diterima pancaindra anak. Misalnya, ketika anak makan buah pepaya, kata yang terkait adalah manis (indra perasa), oranye (indra penglihatan), dan lunak (indra peraba).

BELAJAR SAMBIL BERMAIN

Jalan-jalan atau berbelanja bisa jadi saat belajar buat anak. Sebab, banyak objek baru yang akan dilihatnya. Misalnya, saat ke pasar, akan ada beragam jenis sayur maupun ikan.

LIBATKAN ANAK

Agar terjadi percakapan dua arah, orang tua bisa melibatkan anak. Contohnya, mengajak anak menyambung kata yang belum selesai. Atau, ajak si kecil mengingat kembali cerita atau hal yang dilalui dalam sehari lewat tanya jawab.

You Might Also Like