Ilustrasi


SEIRING perkembangan zaman, kopi Wonogiri semakin diminati. Hanya saja, stok kopi sangat terbatas, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan pasar.

Anggota Komunitas Kopi Wonogiri Yosep Bagus Adi menyebut, jenis kopi arabika dan robusta tersebar di Bulukerto, Girimarto, Jatiroto, Tirtomoyo, dan Karangtengah.

"Jumlah produksi, belum ada angka pasti. Tapi dari yang terbanyak panennya yang arabika Pak Sular itu (petani kopi Desa Conto, Kecamatan Bulukerto,Red) antara 400-500 kilogram per musim panen belum disortir. Lalu, untuk yang robusta di Brenggolo, Jatiroto sekitar lima ton dari gabungan beberapa petani,” urainya.

Sedangkan kopi robusta di Semagar, Girimarto, lanjut Yosep, cukup banyak dipanen. Tapi, mayoritas petani belum mau petik merah. ”Untuk potensi pasarnya besar permintaan daripada persediaan. Terutama yang sudah petik merah," terang Yosep Bagus.

Senada dikatakan Hariyanto, salah seorang prosesor kopi di Wonogiri. Untuk menyiasati terbatasnya stok, dirinya hanya menjual kopi roast bean atau yang sudah disangrai. Bukan dalam bentuk green bean atau biji. Dia juga harus pandai mengatur penjualan hingga panen tiba.

"Misalnya saat ini masih punya 30 kilogram, padahal panen masih lama. Nah, ini kita harus pandai-pandai mengatur penjualannya. Supaya stok selalu ada," jelasnya.

Cara lain untuk memenuhi permintaan pasar, Hariyanto menanam sendiri kopi. Dia telah menyemai lebih 200 batang tanaman kopi. "Tapi pada mati. Saat menanam awal kemarau. Kemudian menanam lagi, tapi kena serangan hama," terang dia.

Sementara itu, mengacu data Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri, total lahan untuk menanam kopi jenis arabika seluas 152 hektare. Tersebar di Batuwarno, Tirtomoyo, Kismantoro, Bulukerto, Slogohimo, Jatipurno, Girimarto, Karangtengah dan Puhpelem.

Pada akhir 2017, total produksi sekitar 34.550 kilogram (kg). Naik menjadi 42.095 kg pada 2018. Sedangkan kopi jenis robusta, total luas lahan 146 hektare. Mayoritas berada di Batuwarno, Tirtomoyo, Nguntoronadi, Eromoko, Wuryantoro, Sidoharjo, Kismantoro, Purwantoro, Bulukerto, Slogohimo, Jatisrono, Jatipurno, Girimarto, Karangtengah dan Puhpelem.

“Hasil panen robusta pada akhir 2017 sebanyak 26.730 kg dan meningkat pada 2018 menjadi 42.550 kg," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Wonogiri Safuan melalui Kasi Perkebunan Parno.

Menurut Parno, pihaknya sudah berupaya meningkatkan produksi komoditas kopi. Hanya saja, petani masih menggangap kopi adalah tanaman sela, bukan tanaman utama.

“Bantuan bibit sudah kita berikan dan pendampingan tentunya. Tapi, petani kita yang masih menjadikan kopi sebagai samben. Kopi hanya ditanam di sela-sela tanaman lain, atau ditanam di pinggir-pinggir kebun untuk pelindung,” pungkasnya. (rs/kwl/per/JPR)

You Might Also Like