Oleh: Fadia Aqilla Haya*


Puluhan tahun yang lalu, masih mudah bagi kita untuk menyaksikan fenomena bentangan bima sakti di kubah langit dengan taburan bintang yang sangat cantik. Bahkan dulu kita sangat mudah menemukan kunang-kunang yang berterbangan di taman. Tapi untuk saat ini apakah kita masih bisa menikmati fenomena tersebut.

Kisah puluhan tahun lalu itu kini hanya menjadi bagian cerita bagi orang tua untuk anaknya menjelang tidur

Akhir –akhir ini sudah banyak sekali bermunculan kata polusi udara, polusi air, polusi tanah dan Limbah Pelastik. Tapi apakah kita memahami sebenarnya ada kata polusi cahaya yang mungkin jarang sekali di bahas di beberapa media atau terdengar di telinga kita. Mungkin beberapa orang tahu apa itu polusi cahaya, namun sebagian dari mereka tidak peduli dan tidak melakukan apa-apa untuk menanggulanginya. Polusi cahaya merupakan salah satu bentuk pencemaran lingkungan yang masih kurang mendapat perhatian lebih dari masyarakat.

Setiap cahaya yang dipancarkan sebuah lampu memiliki efek polusi yang tinggi terhadap makhluk hidup. Tingginya efek polusi itulah yang disebut polusi cahaya. Polusi cahaya adalah tingginya intensitas cahaya buatan akibat adanya cahaya artificial pada malam hari, dimana cahaya tersebut semakin tidak terkendali baik dari segi jumlah atau pemakaiannya yang berakibatkan cahaya di kubah langit sangat terang akibat pantulan cahaya buatan. Polusi cahaya bisa berasal dari mana saja, contohnya lampu taman, papan iklan, lampu pabrik, lampu gedung dan lain-lain. Menurut kita sebagai manusia menganggap bahwa cahaya adalah kemewahan dan kemegahan, bahkan sebuah symbol peradaban kemajuan. Tetapi hal tersebut tidak untuk makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan.

Kawasan Observatorium Bosscha yang didirikan sebagai pusat stasiun peneropongan bintang terbesar dan tertua di Indonesia yang berada dikawasan Bandung awalnya sangat sesuai sebagai tempat pengamatan objek astronomi karna kondisi langit malamnya yang ideal dan mencakup sebagian besar area langit utara dan selatan, namun mulai akhir tahun 1980an, kualitas langit malam di sekitar Observatorium Bosscha mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya pemukiman penduduk yang menggunakan cahaya buatan sebagai penerang jalan. Oleh karena itu, Observatorium mulai sulit untuk mengamati objek luar angkasa

Hu dkk. (2018) menyatakan bahwa polusi cahaya di definisikan sebagai cahaya artificial yang meningkatkan kecerahan langit sebesar 10 persen dari kecerahan langit natural diatas ketinggian 45 derajat. menurut International Dark Sky Association (IDSA) dalam penelitian Prastyo A.H dan Herdiwijaya D. (2018) polusi cahaya memiliki beberapa tipe yaitu : Sky glow ; terang nya langit didaerah tempat tinggal, Glare  : terang yang berlebihan yang membuat mata tidak nyaman, Light Trespass : cahaya yang tersorot tidak pada tempatnya atau tidak dibutuhkan, Clutter : penempatan sumber cahaya yang tidak beraturan.

Polusi cahaya ini biasanya terdapat di beberapa kota atau negara yang sangat ramai penduduknya. Menurut mereka, dengan adanya cahaya buatan tersebut, mereka akan lebih aman untuk berpergian kesana-kemari dan akan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Faktanya banyak beberapa media yang menggunakan pencahayaan khusus pada malam hari yang tidak efisien yang mengakibatkan cahaya yang berlebihan, seperti penerangan lampu yang cahayanya tidak mengarah ke arah yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya energi listrik yang digunakan untuk itu semua akan terbuang percuma karena system pencahayaannya tidak fokus pada sasaran (daerah yang ingin diterangi).

Pada akhirnya hal ini akan menjadikan pemborosan energy dan biaya besar untuk membayar listrik yang terbuang sia-sia.

Dampak dari polusi cahaya itu sendiri tidak hanya berdampak pada pemborosan energy yang kita gunakan sehari-hari. Dampak tersebut bisa mengancam kesehatan manusia. Seperti kita ketahui bahwa lampu LED yang kita gunakan sehari-hari misalnya televisi, laptop, atau sejenisnya. Jika tidak digunakan secara efektif maka bisa menimbulkan penyakit kardiovaskular (penyakit jantung) , depresi, kesulitan tidur dll.

Selain itu, cahaya yang terlalu terang juga mengakibatkan indra penglihatan tidak dapat beradaptasi untuk melihat jalan dan arah saat mengemudi. Memang benar manusia membutuhkan pencahayaan artificial untuk membantu penglihatan di malam hari, tapi terang tidak berarti aman. Dampak kesehatan ini mungkin belum tampak sekarang namun perlahan-lahan dapat kita rasakan.

Selain dampak bagi kesehatan, dampak polusi cahaya itu sendiri bisa menyebabkan keseimbangan ekosistem tidak berjalan lancar. Hewan-hewan akan kesulitan untuk mencari makan di malam hari dan sulit untuk mencari tempat tingal karena terlalu terangnya pemukiman yang ia huni sekarang menjadi milik manusia seutuhnya. 

Penyu yang hendak bertelur biasanya mencari pantai gelap semakin sulit mencari tempat yang tepat akibat pemukiman di pinggir pantai, selain itu burung-burung yang bermigrasi mengikuti cahaya bintang kebingungan dan mati sebab menghantam gedung raksasa yang sangat terang.

Sebagai makhluk yang paling sempurna, tentu kita bisa mengurangi dampak itu semua, tentunya dengan cara kita kembalikan pola pikir kita, perilaku kita dalam memanfaatkan energy cahaya, mari kita sama-sama menggunakan energy saat dibutuhkan saja dengan mematikan lampu sekurang-kurangnya pukul 01.00 atau mematikan lampu selama satu jam (earth hour).

Cukuplah dengan memanfaatkan kelestarian alam dengan menikmati taburan bintang dan keindahan bulan, matikan segala jenis lampu yang tidak terpakai, seperti papan iklan, lampu gedung dll, karena aktivitas di malam hari semakin menurun. Selain itu buatlah tudung lampu di rumah kalian masing-masing agar cahaya lampu tidak menyebar kemana-mana dan hanya fokus untuk yang seharusnya diterangi saja,

Aksi menanam pohon bisa dilakukan agar cahaya yang langsung terkena ke arah langit bisa terhalang oleh dedaunan, dan memberikan denda bagi yang menyalakan lampu diatas jam 01.00.

Paradigma masyarakat terhadap penerangan berlebihan yang digunakan di jalan atau rumah penduduk ternyata berdampak negative pada lingkungan hidup. Sebagaimana yang telah dipaparkan, LED memiliki sisi negatif. Dengan cara mengurangi penggunaan LED, kita juga dapat membantu mempertahankan ekosistem yang ada di bumi.

 

Sebuah analisis akhir; dengan tidak bermaksud mengabaikan simbol kemegahan yang diwarnai dengan gemerlapnya cahaya lampu taman.

Jadi rindu dengan cerita-cerita dulu dimana masyarakat masih hidup dengan lampu lentera dan obor dari bamboo. Kondisi yang tidak merusak ekosistem bumi.

Mencintai bumi menjadi tanggung jawab kita bersama. Sekecil apapun bentuk pekerduli itu pasti akan memberi arti.*Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

You Might Also Like