PROKALTIM CONTOH : Ini adalah salah satu hasil jepretan foto dari Golden Jade Photography.


LYDIA Gautama dengan telaten menggendong bayi klien. Sedemikian rupa dia membalut kain ke tubuh si mungil. Sesekali, pihak keluarga membantu jika sang bayi mulai gelisah atau tak nyaman. Beberapa pose tersimpan. Sesi foto pun selesai.

Tepatnya 10 tahun lalu, Lydy hobi edit foto. Dia pun dipertemukan dengan Franky Wijaya yang berprofesi sebagai fotografer. Dari situ, keduanya sepakat mendirikan brand forografi bernama Golden Jade Photography.

Seiring berjalannya waktu, Lydy mulai memegang kamera. Dia belajar autodidak. Hingga detik ini, bisnis fotografi yang mereka bangun semakin dikenal. Apalagi ditambah new baby born photography. Membuat usahanya dan Franky semakin dicari.

Menjalani bisnis bersama teman, membuat Lydy harus menjaga kekompakan. Paling penting, harus saling menerima kelebihan pun kekurangan. Menjalani bisnis jasa fotografi sejak awal tak membuat Lydy fokus pada keuntungan. Semua murni karena hobi yang dia sukai. Dia mengaku selalu optimis.

“Fotografi itu memang sudah jadi hobi buat saya. Yang awalnya suka edit foto, lama-lama juga senang foto. Saat masih jadi editor foto saya memang sudah mulai coba pegang kamera. Menjalani bisnis ini enggak ada alasan lain selain karena memang suka,” ungkap perempuan kelahiran 1987 itu.

Tiga tahun lalu menjadi awal karier Lydy di dunia new born baby photography. Dia tertarik dengan jenis fotografi tersebut karena melihat tren yang ramai beredar di Instagram. Dari situ, dia berpikir jika fotografi tersebut sangat jarang di Samarinda. Akan menjadi kesempatan bagus untuk diperkenalkan.

Telah memiliki dua buah hati pun membuatnya tak begitu kesulitan ketika harus mengatur bayi-bayi yang mesti dipotret. Cara memasang kain-kain pada tubuh bayi dia pelajari lewat YouTube, kemudian Lydy praktikkan pada anaknya. Tak puas sampai di situ, dia mengikuti workshop khusus new born baby photography dengan fotografer asal Australia. Walhasil, semakin paham mengenai cara dan teknik yang tepat.

Meski masyarakat di Kota Tepian sempat tak begitu familier dengan new born baby photography, Lydy mencoba untuk terus memperkenalkan dan kini telah mendapatkan hasil manis dari jerih payahnya. Terbukti dengan semakin banyaknya permintaan klien. Tak cepat berpuas diri, dia mengaku jika semakin banyak klien yang dia hadapi justru menjadi tantangan untuk lebih meningkatkan kualitas.

Beberapa orang masih tak memahami bagaimana konsep new born baby photography. Lydia Gautama atau Lydy sering menjumpai klien yang protes dan takut melihat pose yang dilakukan si bayi. Mereka berpendapat jika hal itu membahayakan.

“Banyak yang takut. Katanya, tunggu sudah agak besar saja. Nah, dari situ akhirnya saya membangun pola pikir bahwa justru semakin muda usia bayi, semakin mudah diaturnya. Apalagi yang masih usia harian. Mereka enggak banyak nangis. Kalau sudah usia satu atau dua bulan, belum tentu bisa diatur karena sudah terlalu sering digendong,” jelas ibu beranak dua itu.

Oleh sebab itu, new born baby photography lebih dianjurkan untuk bayi yang usianya masih sangat muda. “Pokoknya yang paling penting kalau mau foto bayi itu pastikan dia kenyang. Nanti kan pasti tidur, nah, itu akan memudahkan proses pemotretan banget. Ketika posisinya lagi diatur saat mau difoto, bayi enggak akan terganggu,” lanjut Lydy.

Biasanya, orangtua mulai khawatir ketika pose yang mereka anggap rawan harus dilakukan. Kemungkinan seperti keseleo menjadi ketakutan. Lydy pasti akan memberikan alasan yang jelas dan menjamin itu aman untuk bayi mereka. (*/ysm*/rdm2)

 

You Might Also Like