Suhu Arktik meningkat diduga menjadi penyebab kematian puluhan ekor Paus Abu-abu


PULUHAN paus abu-abu ditemukan mati di sepanjang West Coast, AS dalam beberapa pekan belakangan. Sebagian ilmuwan percaya, penyebabnya berada jauh di utara di perairan Kutub Utara yang menghangat.

National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengatakan, 58 paus abu-abu ditemukan terdampar dan mati sepanjang tahun ini di beberapa tempat mulai dari Kalifornia sampai Alaska.

Temuan paling akhir yang diumumkan pada Rabu (16/5) oleh NOAA ialah, satu paus abu-abu yang mati di Turnagain Arm, saluran air kecil yang berhubungan dengan gletser di lepas pantai Anchorage.

“Di lokasi ini paus abu-abu jarang menjelajah. Mereka bergerak ke utara dari lahan musim dingin mereka di Mexico dan tampaknya kehabisan udara,” kata Juru Bicara Fisheries Service di NOAA, Michael Milstein, Jumat (17/5).

Paus mati yang diperiksa sejauh ini kekurangan gizi. Hipotesis saat ini ialah hewan tersebut gagal makan cukup tahun lalu di lahan musim panas mereka di Laut Bering dan Chukchi di lepas pantai Alaska.

“Di sanalah mereka melakukan sebagian besar kegiatan makan tahunan mereka dan tempat mereka mengumpulkan lemak yang mencukupi sampai musim panas tahun depan,” terangnya

“Orang mengira sesuatu yang jelas terjadi di sana yang membuat ikan paus tidak memperoleh cukup banyak makanan. Mengingat mereka menimbun bobot,” sambungnya.

Namun, perairan Kutub Utara yang menghangat bukan satu-satunya teori mengenai kematian paus tersebut. Populasi paus abu-abu Eastern North Pacific telah tumbuh sangat banyak, jadi sebanyak 27 ribu hewan.

“Mereka mungkin bersaing memperoleh makanan. Saat bertambah banyak populasi ikan paus, makin banyak pula ikan paus akan mati dari waktu ke waktu,” kata Milstein.

Banyak bukti menunjuk, kepada masalah makanan di lahan musim panas ikan paus di Acrtic Circle. Laut Bering dan Chukchi telah sangat hangat sejak 2016, dengan temperatur permukaan air laut mencapai rekor atau mendekati rekor tinggi dan sangat kurangnya es, kondisi yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Es musim dingin pada 2018 di Laut Bering adalah paling rendah dalam catatan yang membentang lebih dari 150 tahun. Lapisan es pada musim dingin lalu hampir sama rendahnya.

Kekurangan lapisan es laut dan sangat hangatnya temperatur berkaitan dengan beberapa gangguan di Laut Bering dan Chukchi, termasuk kematian burung dan anjing laut. “Itu mempengaruhi jaringan makanan dari ganggang sampai udang kecil,” kata Rick Thoman, ilmuwan iklim di Alaska Center for Climate Assessment and Policy. (der/cna/fin/kpc)

Loading...

You Might Also Like