Presiden AS, Donald Trump


PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump Rabu (15/5) mendeklarasikan status darurat nasional mengenai keamanan komunikasi. Diapun melarang penggunaan perangkat komunikasi asing untuk mencegah kebocoran informasi rahasia.

Trump meminta semua perusahaan Paman Sam tidak menggunakan teknologi dan suku cadang piranti komunikasi dari luar negeri. Langkah ini diduga sebagai upaya menekan perusahaan komunikasi raksasa China, Huawei.

Meski demikian, Trump berkilah bahwa putusannya untuk memastikan tidak ada informasi vital negara yang bocor ke pihak asing dan merugikan AS.

Berbagai negara, termasuk AS, telah mengungkapkan kerisauan mereka bahwa produk-produk perusahaan tersebut dapat dipakai pemerintah China untuk memata-matai. Huawei berkeras produk mereka tidak menimbulkan ancaman.

Berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih, kemarin, dijelaskan bahwa perintah Trump bertujuan “melindungi Amerika dari musuh-musuh asing yang secara aktif terus menciptakan dan mengeksploitasi kerentanan dalam infrastruktur dan layanan informasi serta komunikasi.”

Perintah itu memberi kewenangan kepada menteri perdagangan untuk “melarang transaksi yang menimbulkan risiko terhadap keamanan nasional yang tidak bisa diterima”.

Langkah Trump disambut baik Ketua Komisi Komunikasi Federal Ajit Pai, yang menyebut tindakan tersebut “sebuah langkah signifikan menuju pengamanan jejaring Amerika.”

Sebelum Trump mengumumkan darurat nasional, pemerintah AS telah melarang lembaga-lembaga federal menggunakan semua produk Huawei sekaligus mendorong para negara sekutu untuk menolak perusahaan itu.

Sejauh ini Australia dan Selandia Baru telah memblokir peranti Huawei dalam penggunaan jaringan 5G.

Akan tetapi, Huawei menolak tuduhan itu mentah-mentah. Dalam pertemuan di London, Selasa (14/5), Direktur Huawei, Liang Hua, menyatakan pihaknya “bersedia menandatangani kesepakatan larangan memata-matai dengan pemerintah- pemerintah.”

Langkah Trump terkini amat mungkin memperkeruh hubungan dengan China, yang sudah memburuk akibat perang dagang.

Jumat pekan lalu (10/5), AS menambah bea masuk lebih dari dua kali lipat untuk produk-produk China senilai 200 miliar dolar AS. China kemudian membalas dengan langkah serupa.

Di tengah aksi saling balas ini, pasar saham cukup stabil pada Rabu (15/5) lantaran ada harapan kedua negara melanjutkan perundingan bulan depan. Trump berkata dia bakal bertemu Presiden China, Xi Jinping, pada pertemuan G20 di Jepang.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, menyatakan kedua pemimpin “melangsungkan kontak melalui berbagai cara.” (Reuters/AP/DAY/RM/KPC)

You Might Also Like