Ilustrasi


Menjelang pengumuman rekapitulasi suara Pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei nanti, sejumlah negara mengeluarkan imbauan penting keamanan (Travel Advice) bagi warganya yang berkunjung atau berada di Indonesia. Pengumuman Travel Advice didasari karena kekhawatiran aksi protes atau unjuk rasa yang ramai mewarnai rekapitulasi suara nanti.

Inggris adalah negara pertama yang mengeluarkan peringatan tersebut, disusul oleh Amerika Serikat. Dalam laman resmi Pemerintah AS dan Inggris, diumumkan imbauan agar para warganya waspada saat tanggal 22 Mei nanti. Begitu juga dengan arus lalu lintas atau pengalihan arus yang harus diperhatikan.

Dalam laman Pemerintah Inggris, warganya yang berada di Indonesia diminta untuk menghindari senua protes dan aksi demonstrasi. Ada imbauan juga agar menghindari sejumlah ruas jalan yang berisiko terjadinya bentrok dengan massa.

“Pemilihan umum yang diadakan di Indonesia pada 17 April dengan hasil resmi akan ditetapkan dan diumumkan pada 22 Mei; Anda harus menghindari semua protes, demonstrasi politik karena ada risiko kekerasan,” seperti dikutip dari laman Gov.UK, Sabtu (18/5).

Senada diungkapkan Pemerintah AS yang mengimbau warganya agar menghindari area di mana demonstrasi atau aksi politik terjadi dan berhati-hati jika berada di kerumunan massa. Pemerintah AS juga mengimbau warganya agar tetap memantau isu terkini dari liputan media tentang peristiwa segala peristiwa, tetap mewaspadai lingkungan dan tingkatkan keamanan diri setiap saat.

“Pada 22 Mei 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil resmi pemilihan presiden dan parlemen Indonesia. Pejabat kepolisian Indonesia secara terbuka menyebutkan risiko terorisme meningkat sehubungan dengan finalisasi hasil pemilu,” seperti ditulis dalam laman US Embassy.

Warga AS diminta untuk waspada jika berada di situs publik di Jakarta Pusat, termasuk kompleks KPU di Menteng, dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jalan Thamrin. Demonstrasi juga dapat terjadi di kantor terkait pemilihan di kota-kota lain, termasuk Surabaya dan Medan. Maka warga AS diminta untuk selalu memperbarui informasi seputar pengalihan arus lalu lintas saat 22 Mei nanti.

Sementara itu, kepada JawaPos.com, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo menghimbau agar masyarakat senantiasa bekerjasama untuk mewujudkan situasi aman. Salah satunya dengan tidak melakukan aksi massa dalam jumlah besar pada 22 Mei mendatang.

“Ya sama-sama kita menghimbau kepada masyarakt untuk tidak usah berkumpul dengan jumlah yang banyak,” ujar Dedi.

Menurutnya, penyampaian aspirasi lebih baik dilakukan sesuai jalur konstitusi yang telah disediakan. Dengan tidak melakukan perkumpulan massa dengan jumlah besar sama dengan membantu aparat mencegah kerusuhan maupun aksi terorisme terjadi.

Pasalnya dari pemeriksaan terhadap 29 tersangka teroris yang belum lama ini ditangkap, baik itu yang tergabung dalam Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Lampung, JAD Bekasi dan JAD Jawa Tengah semuanya sudah merencanakan aksi amaliyah saat terjadi aksi massa pada 22 Mei mendatang.

Mereka memang manfaatkan kondisi itu untuk melancarkan aksinya. Sasarannya pun bisa siapa saja termasuk aparat penegak hukum. “Tadi sudah disampaikan bahwa ancaman nyata saat ini yang ada di depan mata adalah ancaman serangan terorisme,” imbuhnya.

Meski begitu, penyandan bintang satu polri ini memastikan aparat terus bekerja keras melakukan berbagai upaya untuk menjamin keamanan seluruh rakyat. Berbagai penegakkan hukum terhadap terduga teroris pun terus dilakukan.

“Polri sudah melakukan langkah preventif strike, sudah melakukan upaya penegakkan hukum, penangkapan. Kemudian melakukan tindakam hukum lainnya,” pungkas Dedi.(jpc)

 

 

You Might Also Like