Proses bahan baku purun yang sudah kering saat digiling menggunakan alat tradisional sebelum dianyam menjadi tikar di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, Rabu (15/5).( BAHTIAR/KALTENG POS)


Meski sedikit kesulitan untuk pemasarannya, namun tidak menyurutkan semangat ibu-ibu di Desa Pematang Panjang, Kecamatan Seruyan Hilir Timur untuk menganyam tikar dengan bahan baku purun. Karena kerajinan tangan tradisional itu sudah dilakukan turun temurun untuk melestarikan tradisi keluarga.

BAHTIAR EDY FAISAL, Kuala Pembuang

SUDAH puluhan tahun warga Desa Pematang Panjang di Kabupaten Seruyan menggeluti profesinya sebagai perajin anyaman tikar purun. Aktivitas itu merupakan tradisi keluarga yang terus dilestarikan hingga saat ini.

 Salah satunya adalah Rusnawiyah alias Irus. Ibu empat anak ini mengaku dari kecil sudah bisa menganyam tikar dengan bahan dasar purun. Saat ditemui Rabu pagi (15/5), perempuan 43 tahun itu sedang melakukan aktivitas kesehariannya bersama ibu-ibu lainnya. Yaitu menganyam tikar purun.

Sebelum menganyam, langkah awal menyiapkan purun untuk diolah menjadi tikar. Juga ada pohon kelapa yang akan digunakan sebagai alat penggiling purun. Fungsinya untuk menghaluskan purun yang awalnya masih bulat. Sehingga purun yang beli dengan harga Rp 6.000 perikat dari masyarakat itu bisa dibuat lebih halus. Setelah itu didiamkan selama dua hari hingga bisa digunakan untuk bahan baku anyaman tikar.

Ibu yang kerap dipanggil Irus itu bercerita sambil tangan kanannya memegang besi pegangan penggiling dan mengayunkan penggiling dari kanan ke kiri, dan sebaliknya tangan kiri mendorong purun yang digiling.

"Purun dibeli sama warga Rp 6.000 satu ikat. Setelah kering digiling dulu sampai halus. Nanti setelah halus didiamkan sampai satu dua hari baru bisa anyam untuk membuat tikar," kata Irus kepada Kalteng Pos.

Untuk jenis kerajinan yang dibuat biasanya tikar purun dengan harga Rp 15 ribu satu lembar yang panjangnya sekitar 1,8 meter. Juga tas ramah lingkungan yang biasa untuk memuat barang belanjaan dari pasar sekitar Rp 5.000 untuk yang besar. Yang kecil Rp 4.000.

Dalam sehari, lanjut Irus, hanya bisa menghasilkan dua lembar tikar. Karena aktivitas itu dia lakukan sambil mengurus anak-anaknya. Menurut dia, dalam dua jam bis amembuat satu tikar purun. "Satu lembar tikar purun 15 ribu rupiah biasa dijual ke pasar. Tapi ada juga yang beli ke sini," ujarnya.

Irus mengaku, keahlian menganyam tikar itu dia pelajari dari orang tua, dan sudah turun terumurun dilakukan oleh orang tua sebelumnya. "Sudah turun-temurun dari orang tua kami. Dari kecil dulu pulang sekolah, tikar ini aja yang kami mainkan," akuinya. (*)

You Might Also Like