Muhammad Noor Fazri dan Norhalisa usai menerima selempang menjadi Terbaik I Duta Bahasa Kalteng 2019 pada malam penobatan, Sabtu (12/5). (BALAI BAHASA KALTENG FOR KALTENG POS)


Malam penobatan Duta Bahasa Kalteng 2019, Sabtu (12/5), menjadi malam yang tak bisa dilupakan bagi Muhammad Noor Fazri dan Norhalisa. Dimulai malam itulah, mereka menerima selempang menjadi Duta Bahasa Kalteng 2019. Lantas apa yang memotivasi mereka ikut dalam ajang bergengsi bagi generasi muda ini?

 

GILANG RAHMAWATI, Palangka Raya

 

TEPUK tangan terdengar riuh saat disebutkan nama mereka berdua menjadi Terbaik I Duta Bahasa Kalteng 2019. Sekelebat rasa gembira dan bangga membuncah, meski setelah itu mereka terpikir akan menerima tugas baru ke depannya.

Menyandang gelar Duta Bahasa Kalteng bukan perkara mudah. Keduanya harus menyisihkan puluhan peserta dari kabupaten dan kota yang ada di Bumi Tambun Bungai (julukan bagi Kalteng, red) ini, dengan melewati proses seleksi oleh dewan juri.

Untuk diketahui, pasangan Duta Bahasa Kalteng tahun ini sama-sama berasal dari Kabupaten Barito Selatan (Barsel). Kepada Kalteng Pos, keduanya berbagi cerita mengenai perjuangan hingga motivasi mengikuti ajang ini.

Muhammad Noor Fazri atau yang biasa disapa Fazri bercerita, ia mengikuti ajang ini karena memiliki ketertarikan di bidang kebahasaan. Ia merasa prihatin dengan rendahnya kebanggaan berbahasa Indonesia di kalangan generasi milenial karena pengaruh media massa.

Cowok yang hobi desain grafis ini pun merasa yakin bisa menjalankan amanah dengan baik, memartabatkan bahasa Indonesia tersebut. Duta Bahasa, ujarnya, punya tugas sama seperti slogan ‘utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Dalam mengutamakan bahasa Indonesia, tidak mesti juga saya harus berbahasa Indonesia secara baku. Akan tetapi, dituntut untuk berbahasa Indonesia secara baik dan benar, dalam artian harus sesuai dengan lawan bicara,” tutur anak dari Edison dan Siti Fatimah ini.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangka Raya ini, di malam penobatan itu mendapat pertanyaan mengenai cara menerapkan pengembangan dan pembinaan dalam peningkatan bahasa daerah di Kalteng.

Jawaban yang diberikan Fazri pun sangat sederhana, yakni menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia.

Saya mengatakan akan bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi kepemudaan untuk melaksanakan program pelestarian bahasa daerah,” ucap Fazri.

Hal yang sama diamini oleh Norhalisa. Sebagai Duta Bahasa, katanya, mereka akan menyebarkan pengutamaan bahasa Indonesia dan memartabatkannya di kalangan masyarakat Kalteng.  

Sebagai Duta Bahasa mereka tak hanya fokus pada Bahasa Indonesia, tetapi juga melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing. Soal keahlian tiga bahasa itu juga yang menjadi penilaian di malam penobatan.

Apalagi kebetulan Norhalisa, anak dari Abdul Rahman dan Jumirah ini, mendapatkan pertanyaan dari dewan juri mengenai arti dari “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Saya mengatakan makna dari hal tersebut yaitu di mana kita berada, kita harus menjunjung dan menghargai serta melestarikan bahasa atau budaya yang ada. Misalnya, seperti saat ini saya berada di Kalteng, maka saya harus menjunjung, menghargai, dan melestarikan bahasa dan budaya Kalteng,” ucap mahasiswi Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya ini.

Selama mengikuti ajang ini, keduanya mendapatkan dukungan penuh dari orang tua. Fazri yang kini menjadi pribadi lebih percaya diri, bercerita soal dukungan yang diberikan orang tuanya. Dikatakannya, dukungan itu terlihat jelas saat ia dibantu ayahnya memikirkan ide untuk unjuk bakat. Sementara Norhalisa, perempuan yang memiliki segudang prestasi ini, terus berkirim pesan dengan ibunya yang berada jauh di Kota Buntok, Barsel.

Ketika ditanya mengenai saingan terberat dalam ajang ini, keduanya kompak menjawab. Semua adalah saingan berat. Proficiat dan selamat mengemban tugas sebagai Duta Bahasa Kalteng. Setelah malam penobatan itu, Muhammad Noor Fazri dan Norhalisa mempersiapkan diri menuju pemilihan Duta Bahasa tingkat nasional di Jakarta pada Agustus mendatang. (*/ce)

You Might Also Like