Khairil Anwar (kiri) menerima jabatan dari rektor sebelumnya Ibnu Elmi, di Aula IAIN Palangka Raya, Selasa (16/4). (DOK PRIBADI UNTUK KALTENG POS)


Setiap daerah tentu memiliki sejarah. Akan tetapi, tidak semua masyarakatnya memahami atau sekadar mengetahui. Perlu sosok yang peduli untuk memperkenalkan kearifan lokal itu. Apalagi jika ingin mengangkat sejarah itu ke kancah internasional. Itulah yang menjadi salah satu visi Khairil Anwar dalam mengemban tugas dan jabatan sebagai rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya.


ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

TIDAK ter
pikir sebelumnya oleh Khairil Anwar, bahwa dirinya bakal terpilih menjadi rektor IAIN Palangka Raya. Awalnya tak ada keinginannya untuk berlaga dalam ajang pemilihan rektor IAIN periode 2019-2023 itu. Tetapi, Tuhan bekehendak lain. Kini, amanah dan beban baru berada di pundaknya.

Khairil Anwar dilantik
, Kamis (8/4), di Kemenag RI, Jakarta. Selanjutnya, Selasa (16/4), Khairil mengikuti serah terima jabatan dari rektor sebelumnya, Ibnu Elmi, di aula IAIN Palangka Raya.

Selasa (17/4)
, Kalteng Pos mencoba berbincang-bincang dengan Khairil, untuk sedikit mengupas visi misinya dalam mengikuti pemilihan rektor IAIN. Dikatakannya, pada dasarnya persyaratan berlaku sama untuk semua peserta. Hanya saja, visi misi setiap kontestan berbeda. Dalam pencalonannya menjadi rektor, ia mengangkat terkait kearifan lokal dan keberagaman budaya di Kalteng ini.

Salah satu hal yang menjadi fokusnya adalah mengangkat kearifan lokal Kalteng, khususnya kesultanan di Kotawaringin Barat (Kobar), agar dikenal di kancah internasional. Pasalnya, selama ini kesultanan yang ada di Kotawaringin itu masih belum banyak diketahui. Bukan hanya oleh masyarakat luas, bahkan masyarakat Kalteng sendiri.

“Kami ingin mengadakan seminar internasional tentang kesultanan Kotawaringin,”
ucapnya.

Dikatakannya, kesultanan itu merupakan yang pertama ada di Kalteng, yang masuk pada abad XVI. Ia pun pernah membuat tulisan penelitiannya tentang sejarah kerajaan itu, sekaligus masuknya Islam di Kalteng. Akan tetapi tulisan itu hanya untuk tingkat nasional.

“Dulu sudah pernah
saya tulis dan juga diterbitkan sebuah buku. Kami juga sudah mengadakan seminar pada 2003 lalu. Ke depannya kami ingin mengangkat kembali hal itu, tapi fokus tujuan ke level internasional,” ucapnya kepada Kalteng Pos.

Untuk merealisasikan keinginan tersebut, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri. Mesti ada kerja sama dengan sejumlah pihak, seperti Universitas Palangka Raya (UPR), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng, atau juga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng.

“Termasuk juga
kami akan berkoordinasi dengan bupati setempat untuk merealisasikan program ini,” kata pria kelahiran Martapura 18 Januari 1963 ini.

Khairil meny
esalkan akan kesalahpahaman sejumlah orang akan keberadaan kerajaan-kerajaan Kalimantan, yang diangap berada di luar Kalimantan. Sebagai contoh, kerajaan terkenal di Kalimantan seperti Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Kutai.

“Padahal di Kalteng juga ada kerajaan
, tetapi tidak begitu dipahami. Bahkan dalam dunia pendidikan dan pelejaran yang diberikan di sekolah, kerajaan-kerajaan ini belum dijelaskan,” sebut Khairil.

Sebab, lanjut dia, banyak peninggalan-peninggalan kerajaan masa lampau di wilayah itu yang belum diketahui oleh masyarakat Kalteng. Ia berharap bahwa dengan mengenalkan kerajaan ini, maka peninggalan-peninggalan itu bisa dikenal secara luas, apalagi jika bisa dijadikan objek wisata religius.

“Salah satu contoh
, Masjid Ki Gede yang terletak di Kotawaringin Lama (Kolam). Di situlah tempat pertama Islam masuk di Kalteng. Lokasi itu bisa diangkat menjadi objek wisata, sebagai wujud penghargaan masyarakat Kalteng terhadap sejarah,” bebernya.

Pihaknya berencana untuk bermitra sekaligus meminta dukungan pemerintah kabupaten maupun Pemprov Kalteng.
“Ya jika sudah jadi tempat wisata
, maka harus diperbaiki akses masuknya,” singkatnya.

 
Selain mengangkat sejarah, Khairil pun ingin mengembangkan multikultural yang ada di Kalteng. Menurutnya, Kalteng merupakan daerah yang dihuni oleh berbagai suku dan agama. Perbedaan dalam keragaman itu mesti dapat memperkuat daerah ini.

“Berbeda suku dan agama boleh, tetapi persatuan lebih penting
. Ini yang harus dikembangkan,” tegas pria 56 tahun itu.

Selanjutnya,
ia pun ingin mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan kebersihan. Saat ini, sambung dia, ketika turun hujan selalu terjadi banjir. Sudah menjadi tren. Inilah yang menjadi persoalan, bagaimana masyarakat bisa sadar akan lingkungan sekitarnya.

“Ini
adalah tantangan. Bagaimana mengubah mindset masyarakat akan kebersihan,” imbuhnya.

Meski tidak terlalu yakin, dari visi misi itulah yang me
mbawa dirinya menduduki jabatan tertinggi di IAIN Palangka Raya saat ini. Tetapi, terlepas dari itu semua, dikatakannya, yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. (*/ce)

You Might Also Like