Anggota TPPKB Bulkani dan Wahyudie berdiskusi dengan Kepala Dinas Pertanian Kapuas Anjono Bhakti. (TPPKB FOR KALTENG POS)


KUALA KAPUAS-Kunjungan kerja tim percepatan pembangunan Kalteng BERKAH (TPPKB) ke Desa Terusan, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, Jumat lalu, menemukan kasus mengejutkan. Petani di desa itu menjerit, lantaran harga beras hasil panen mereka "dimainkan" oknum cukong dari Banjarmasin. Oknum cukong ini umumnya disebut pengijon.

Cara kerjanya, lewat kaki tangannya yang ada di desa itu. Pengijon yang juga oknum warga keturunan di Banjarmasin, membeli padi warga sebelum panen dengan hitungan per luas lahan sawah.

Ketika panen dan gabah sudah digiling, maka petani harus menyerahkan berasnya kepada pengijon lewat kaki tangannya tadi, karena padi sudah dibeli. Disinilah pengijon bisa memainkan harga seenaknya. Akibatnya, petani jadi korban bak sapi perahan.

Saat menerima kunjungan TPPKB di pabrik RMU beras, Budi Santoso yang merupakan penyuluh pertanian setempat membantah soal praktik ijon itu.

"Tidak ada pengijon di sini, Pak. Yang benarnya mereka itu mitra kami," kata Budi membantah sambil menyebut sejumlah nama pengusaha, seperti Akiong, Halim, dan lain lain.

Menurut Budi, justru para  pengusaha beras di Banjarmasin itu banyak membantu petani. Dikatakannya, apabila tidak dilakukan seperti itu, maka hasil panen petani akan dibeli oleh pembeli dari luar dengan harga yang sangat rendah. Di hadapanTPPKB, Budi mengaku sebagai orangnya Akiong. Namun, dia juga sebagai penyuluh pertanian di desa tersebut.

Sekretaris TPPKB Laksamana Susanto didampingi Bulkani, Prof Sulmin, dan HM Wahyudie F Dirun mengaku prihatin dengan adanya indikasi praktik ijon di DesaTerusan.

"Praktik seperti ini harus kita hentikan. Kasihan petani yang menjadi korban," ucap Susanto.

Sementara itu, Bulkani mempertanyakan mengapa para petani harus menjual hasil panennya kepada cukong, padahal sekarang ini sudah ada subsidi dari pemerintah. Selama para petani masih di bawah kendali cukong, mereka tak akan mendapat keuntungan dari usaha pertanian itu, demi meningkatkan taraf hidup menuju lebih baik.

Senada dengan itu, Prof Sulmin dan Wahyudie pun menyatakan keprihatin akan realita yang terjadi di desa itu. Kaki tangan cukong justru merupakan seorang penyuluh pertanian, yang notabenenya harus membela dan memihak petani. Dikatakan Susanto, temuan itu akan dibahas TPPKB dalam rapat koordinasi di Palangka Raya. Dalam rakor nanti akan diundang sejumlah instansi terkait, demi mencari solusi penyelesaian masalah itu.

Kunjungan TPPKB tersebut juga diikuti sejumlah pejabat Dinas Pertanian Provinsi Kalteng, kepala Dinas Pertanian Kapuas, Biro Pemerintahan Provinsi Kalteng, dan Perusahaan Daerah Banama Tingang. (ce/ala)

You Might Also Like