Jaya Suprana


PEMILIHAN umum adalah suatu proses memilih orang untuk mengisi jabatan-jabatan  politik  mulai dari  presiden , wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan,sampai  kepala desa.

Pemilihan Umum

Pemilihan umum merupakan suatu usaha untuk memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan  retorika,  hubungan publik, komunikasi massa, lobi dan lain-lain. Meskipun agitasi dan propaganda di negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak dipakai oleh para kandidat atau politikus selaku komunikator politik.

Dalam pemilihan umum, para pemilih disebut  konstituen, dan kepada mereka, para peserta pemilu menawarkan janji-janji dan program-program pada masa  kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara. Setelah  pemungutan suara  dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang pemilihan umum ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke parapemilih.

Pada prinsipnya pemilihan umum adalah pesta demokrasi yang dipersembahkan kepada bukan penguasa, tetapi rakyat.

Pilu

Pemilihan umum kerap digunakan dengan akronim yang lebih singkat yaitu pemilu. Kata dasar pemilu adalah pilu yang aslinya bermakna rasa sangat sedih, terharu (hatiku mendengar cerita perjuangan anak itu; pilu rasa hatiku, bagai diiris sembilu), memilukan = menyedihkan, mengharukan (terdengar rintih tangis yang sangat memilukan hati; penderitaan rakyat di sana benar-benar memilukan hati); kepiluan = kesedihan hati: kepiluan hati ditanggungnya dengan tabah, pemilu = sesuatu yang membuat perasaan sangat sedih.

Pesta Demokrasi

Aslinya, pemilu bermakna sesuatu yang membuat sanubari terasa pilu. Maka sebaiknya pemilu sebagai akronim pemilihan umum diselenggarakan sebagai pesta demokrasi yang menjunjung tinggi hak rakyat secara tertib, jujur, rahasia, damai dan beradab. Bukan dengan saling benci, hujat, fitnah, biadab memecah-belah bangsa secara memilukan sanubari rakyat. Jangan sampai pemilu sebagai pesta demokrasi menjadi malapetaka penuh kepiluan yang memilukan sanubari. Jangan sampai pemilu memilukan rakyat. ***

(Penulis adalah rakyat Indonesia mendambakan pemilu bukan memilukan namun membahagiakan sanubari)

You Might Also Like