Ilustrasi. (foto: net)


PEMILIHAN umum 2019 dalam beberapa hari ke depan akan dilaksanakan. Pesta demokrasi lima tahunan ini memberikan kesempatan kepada semua warga negara yang punya hak pilih untuk mencoblos pilihannya meliputi anggota DPRD, DPR, DPD dan Presiden.

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia mengungkapkan bahwa pengalaman pada pelaksaan pemilu pada 2004 dan 2014 nilai tukar rupiah mengalami melemah, sedangkan di 2009 rupiah masih menguat.

Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan menyampaikan, jika dicermati lebih dalam, di 2004 dan 2005, harga minyak naik tinggi, sehingga memicu inflasi sangat tinggi, sampai 17 persen waktu itu.

Sementara, yang terjadi di 2014, pada waktu itu The Fed menghentikan quantitative easing. Jadi dua faktor itu sangat menekan nilai tukar rupiah.

“Tapi kondisi sangat berbeda dengan saat ini. Kalau 2004 dan 2005 inflasi tinggi, sekarang inflasi sangat rendah, dibawah 3 persen. Dan juga 2014 The Fed mengetatkan moneter, sekarang The Fed malah sangat akomodatif, malah menghentikan pengetatan moneter. Kondisi sangat berbeda. Itu dengan nilai tukar rupiah,” ujarnya seperti diberitakan, Sabtu (13/4).

Katarina juga mengungkapkan, bahwa pihaknya tidak melihat korelasi yang jelas antara arus dana investor asing dengan pemilu, baik di 2004, 2009 maupun 2014. Kalau dilihat di tiga pemilu sebelumnya, cenderung pasar saham malah naik di tahun pemilu.

Menurutnya, kalau pemilu aman, pasar saham malah meningkat. Jadi sebetulnya dari pengalaman yang lalu, pemilu bukan suatu faktor untuk ditakuti. Jangan takut untuk terus berinvestasi. Apalagi kita melihat dengan berhentinya pengetatan moneter oleh The Fed, terbuka ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga.

“Jadi sebaiknya jangan takut, jangan khawatir, teruslah berinvestasi sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing,” tandasnya. (JPC/KPC)

You Might Also Like