Oleh: Destano Anugrahnu


 

            Menuju hari pelaksanaan pemungutan suara pesta demokrasi republik Indonesia semua orang penuh harap dan cemas, bagi para kontestan pesta demokrasi utamanya tentu dilanda dilema yang luar biasa. Mungkin bagi kaum petahana legislatif sebagian sudah berdiri dengan tenang dan sangat percaya diri karena tahu konstituen dan basis pemilih di dapilnya sudah aman tidak akan terganggu dan siap-siap melenggang menuju periode selanjutnya.

Bagi para kontestan baru tentu waktu yang tersisa semakin sempit untuk bisa merampas basis pemilih para lawan politik dan terus masuk ke kantong-kantong suara lawan untuk bisa mencuri perolehan suara dengan terus mengkonsolidasi berharap rasa bosan karena selama ini banyak politisi yang duduk di kursi legislatif hanya datang dan meminta dukungan saat masa pesta demokrasi saja. Sementara aspirasi dan kerinduan para konstituennya tidak terakomodasi.

            Sebagian besar masyarakat memang memiliki pengalaman buruk dalam perjalanan pesta demokrasi, berangkat dari sanalah kualitas sistem demokrasi kita pun terus menurun. Biaya politik pun semakin mahal, sehingga kaum-kaum yang punya gagasan dan rekam jejak kualitas tidak cukup jika tidak memiliki pembiayaan logistik politik yang memadai. Lantas bagaimana mungkin kita berharap adanya perbaikan dan perubahan kualitas kebijakan dan regulasi Negara ini jika orang-orang yang laik menduduki kursi-kursi penentu kebijakan ditersingkirkan pada proses awal. Pengalaman kelam dalam perjalanan pesta demokrasi telah membuat banyak oknum berpikir untuk tidak memilih atau kaum golongan putih yang lebih dikenal (golput).

            Pada dasarnya tidak salah pula kita tidak memilih atau golput, karena itu juga merupakan hak asasi setiap orang,  Akan tetapi, jika kita berpikir kembali dan sedikit lebih rasional mungkinkah perubahan atas kekecewaan kita selama ini terjadi jika kita saja sebagai kaum yang punya peran besar dalam menentukan perubahan tersebut memilih diam dan tidak mau berpartisipasi?

Kemungkinan kita akan dikecewakan kembali tentu masih menghantui, tapi setidaknya kelak kita bisa bersuara dan berhak lebih keras mengkritisinya. Jika yang kita pilih tenyata tidak amanah sebagaimana yang dikomitmenkan saat pertama kita memilih. Nah di sisi lain jika kita tidak menentukan sikap apa-apa (golput), maka rasanya tidak adil pula kita hanya bersuara keras mengkritisi siapa pun nanti yang terpilih, tetapi pada masa seharusnya menentukan dan memberikan hak pilih kita diam.

Dari sini penulis mengajak kepada kita yang masih berada pada ruang abu-abu kegalauan dalam memilih atau golput agar adanya keseimbangan dalam hak dan kewajiban tidak keliru rasanya jika penulis mengajak mari kita bersama beramai-ramai pada tanggal 17 april nanti memberikan hak pilih kita dengan riang gembira.

Tanpa tekanan dan pekasaan. Semata-mata ambil bagian memenuhi kewajiban kita sebagai warga Negara yang baik dan terus berharap bahwa keberadaan politik, regulasi dan kebijakan di negeri ini terus membaik oleh mereka siapapun nanti yang mendapat kesempatan dan amanah. Tetap menjaga persatuan dan kesatuan ibu pertiwi, kita harus dewasa dalam berdemokrasi dan terus memperbaiki kualitas sistem dan keberlangsungan demokrasi kita. Perbedaan pilihan adalah bagian dari konsekuansi, dan bukankah jatuhnya orde baru lalu adalah bagian dari keinginan kita untuk bebas memilih dan menentukan pilihan tanpa tekanan dan paksaan.

Lantas saat kita memasuki keadaan yang berdemokrasi sekarang kenapa kita harus gaduh saat terjadi perbedaan pilihan, pandangan dan pendapat? Bukankah inti dari demokrasi adalah memberikan ruang kebenaran bagi orang lain.

Semoga pesta demokrasi serentak kita pada 17 april 2019 nanti memberikan hasil yang terbaik, menempatkan orang-orang yang laik mendudukinya. Tanpa mengancam persatuan dan kesatuan Negeri ini. Sekian dan terima kasih.*Penulis adalah Legal Staff Yayasan Borneo Institute Kalimantan Tengah      

You Might Also Like