Seluruh peserta dan pihak Telkomsel ketika berada di GWK Cultural Park, Kamis (4/4). (TELKOMSEL UNTUK KALTENG POS)


Tak melulu berbicara soal sinyal. Tak melulu membahas pilihan paket data dan harga. Di luar itu, Telkomsel juga berperan dalam mengenalkan wajah seni dan budaya Indonesia.

 

AGUS PRAMONO, Bali

SELAMA tiga hari dua malam, 60 awak media hadir dalam acara Media Gathering Telkomsel 2019. Kali ini digelar di Bali. Tahun lalu di Raja Ampat. 60 wartawan itu berasal dari sejumlah media. Dari area Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan (Pamasuka). Seru banget. Beruntung banget.

Serunya,di setiap momen selalu ramai. Banyak tawa. Canda. Lebih beruntungnya, dapat teman baru. Mendengar cerita pengalaman menjadi wartawan di ujung timur Indonesia. Atau cerita di balik pedalaman Maluku dan Sulawesi.

Penulis sendiri baru pertama menginjak Pulau Dewata. Sudah bisa ditebak dong, bagaimana perasaannya. Hehehe.

Bersama Supervisor Youth and Community Branch Telkomsel Palangka Raya, Cietra, dan wartawan media lokal, Jayasari, terbang dari Bandara Tjilik Riwut, Kamis pagi (4/4). Setelah transit di Surabaya, pesawat tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar pukul 12.14 waktu setempat.

Tak lama keluar dari bandara, mata pun dibuat segar. Eitss, bukan lantaran lalu lalang wisatawan, tapi kami dijamu makan siang. Menunya ayam Betutu. Pedas. Baru pertama mencoba. Sebelumnya hanya bisa menelan ludah saat menonton acara travelling di televisi swasta nasional.

Belum hilang rasa pedas di lidah, rombongan dengan tiga unit bus berangkat menuju Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park. Patung Dewa Wisnu berukuran raksasa. Wisata budaya ini berada di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Di dalam bus, ada pemandu wisata yang memberi sedikit pencerahan tentang lokasi wisata yang akan dituju. Namanya Made. Usianya sudah hampir 60 tahun. Dia menjelaskan bahwa GWK diresmikan Presiden Ir Joko Widodo, 22 September 2018. Lokasi berada di ketinggian 263 meter dari permukaan laut. Luas sekitar 60 hektare.

"Patung yang ada di GWK merupakan karya dari pematung terkenal Bali, I Nyoman Nuarta," ucapnya melalui pengeras suara.

40 menit berlalu. Rombongan tiba di GWK Cultural Park. Menakjubkan. Patung GWK itu tampak megah. Penulis dan rombongan pun tak sabar untuk mendekat ke GWK, yang tingginya mencapai 121 meter dari permukaan tanah dengan lebar 64 meter tersebut. Karena ketinggian itu, patung GWK menjadi patung tertinggi ketiga setelah Statue of Unity di India (182 meter) dan Spring Temple Buddha di Tiongkok (128 meter).

"Untuk masuk dan naik ke patung belum dibuka untuk umum. Cuma bisa dari luar saja," kata Made.

Sebelum mendekat ke GWK, ada patung kepala Dewa Wisnu. Sang Dewa Pemelihara menurut kepercayaan umat Hindu. Berjalan 50 meter, ada patung kepala garuda.

"Ada dewa yang enggak pulang-pulang ke Bali," celetuk Made. Kami terdiam. "Dewa Bujana," seloroh Made. Kami pun tertawa.

Dua patung itu juga menjadi spot menarik bagi wisatawan untuk berfoto ria. Lagi-lagi, GWK membuat takjub ketika dilihat dari dekat. Patung Dewa Wisnu mengenakan mahkota berlapis emas. Terlihat menunggang burung garuda. Menghadap ke arah utara.

Tertulis di prasasti itu, lebar bentang sayap garuda 64 meter. Material kulit patung dibuat dari campuran kuningan dan tembaga. Berat kulit patung 900 ton. Menggunakan 21.000 batang baja. Berat struktur baja 2.000 ton.

Tak salah jika mahakarya anak bangsa yang mulai dikerjakan tahun 1990 itu, menjadi destinasi favorit di Bali dan Indonesia pada umumnya. Tak salah juga Telkomsel mengenalkan pada kami (awak media) destinasi budaya itu. Karena Bali tak melulu soal pantai.

Di GWK Cultural Park juga ada kesenian tradisional yang dipertotonkan. Di antaranya, tarian Barong Keris, tarian Kecak, sejumlah parade, serta alunan musik tradisional menggunakan alat musik tradisional, Rindik. Dari pagi sampai malam. Bergantian. Sesuai jadwal.

Penulis pun hanya bisa menjumpai iring-iringan belasan pria dan wanita yang memakai pakaian adat. Yang perempuan tampak cantik dengan kebaya putih, selendang, dan kamen berwarna kuning keemasan. Makin menarik dengan warna-warni gebogan bunga di atas kepala. Sedangkan kaum pria membawa ogoh-ogoh dan sejumlah alat musik, yang tak berhenti dimainkan seiring kaki melangkah.

Puas mengelilingi area GWK Cultural Park, rombongan menuju Klapa Resort. Dua jam dihabiskan untuk perjalanan. Lokasinya memanjakan mata. Berada tak jauh dari pesisir Pantai Dreamland. Spot menarik untuk melihat sunset. Sayang, petang itu tak beruntung. Awan keburu gelap, lantaran rombongan terjebak macet di jalan.

Di lokasi inilah, 60 wartawan dan petinggi Telkomsel Area Pamasuka menjalin keakraban. Pertemuan itu bertemakan; Leading Digital Transformation Trought Solid Collabration. Telkomsel sendiri terus melakukan transformasi bisnis ke arah digital. Mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen milenial.

Tarian Penyembrama yang dibawakan tiga gadis Bali menjadi pembuka. Lirik mata. Senyum. Gemulai tangan. Goyangan pinggul. Seirama dengan alunan musik. Benar-benar tarian penyambutan yang memesona.

Penyembrama berasal dari bahasa Bali “sambrama” yang artinya selamat datang. Panyembrama didesain oleh I Wayan Bratha (alm). Pertama kali ditampilkan di perayaan Pandan pada tahun 1971.

Hadir dalam kesempatan itu, Executive Vice President Telkomsel Area Pamasuka Ronny Arnaz, Vice President Business Support Telkomsel Area Pamasuka Ari Besar Pribumi, Vice President ICT Network Management Telkomsel Area Pamasuka Samuel Pasaribu, Vice President Sales and Marketing Telkomsel Area Pamasuka Herry Setiawan, dan GM Legal and Stakeholder Telkomsel Area Pamasuka Intan Nagari.

"Saya sangat bahagia dapat berkumpul di sini bersama teman-teman media," ucap Ronny Arnaz mengawali pertemuan yang diisi dengan update aktivitas dan program Telkomsel ke depan, sesi tanya jawab, kuis, dan hiburan.

Telkomsel, sebut Ronny, mengalami permasalahan yang sama dengan media cetak. Yakni menghadapi kemajuan teknologi yang tak bisa lagi dibendung. Jika tak bertransformasi ke arah digital, tentu akan mengalami dampaknya. Dalam bisnis penyedia jasa telekomunikasi, voice, dan short message service (SMS) sudah mulai ditinggalkan.

Tahun 2018, di area Pamasuka, persentase untuk voice dan SMS masih 55 persen. Tapi di tahun 2019, turun menjadi 25 persen. Rincian SMS turun 23 persen (1,8 miliar SMS) dan voice 2 persen (11 miliar menit). Sementara, porsi data naik signifikan dari 40 persen menjadi 60 persen.

Layanan yang banyak digunakan adalah sosial media 32 persen, video streaming 30 persen, komunikasi 13 persen, google service 7 persen, dan media 3 persen. Sedangkan aplikasi terbanyak yang digunakan adalah Youtube 25 persen, Facebook 19 persen, Instagram 12 persen, WhatsApp 11 persen, dan Viu 1 persen.

"Saat ini Telkomsel mem-profiling hobi masing-masing pelanggan terhadap konten yang disukai. Terutama generasi muda. Dari profiling itu, Telkomsel dapat mengetahui pelanggan yang menyukai konten, baik itu olahraga, musik, game, maupun konten lainnya.

“Kami terus berusaha bagaimana meningkatkan revenue digital untuk mengganti revenue yang hilang dari voice dan SMS," ungkapnya.

Sementara, Telkomsel juga menjalankan kewajiban CSR-nya. Ada beberapa program. Di antaranya, IndonesiaNext, NextDev, InternetBaik, dan Bhaktiku Negeriku.

Vice President ICT Network Management Telkomsel Area Pamasuka, Samuel Pasaribu menjelaskan, program InternetBaik memiliki maknanya. Baik dalam artian bertanggung jawab, aman, inspiratif, dan kreatif. Memberikan edukasi bagi pengguna media sosial, agar dalam penggunaan dan pemanfaatan internet, berjalan ke norma yang positif.

"Kami (Telkomsel) berusaha menjadi teladan bagi pelanggan. Menggiring pengguna media sosial untuk tidak menyalahgunakan internet. Membiasakan menggunakan media sosial untuk bersosialisasi dan menggambil manfaatnya," katanya.

Telkomsel juga mendukung dan berkomitmen andil bagian mencegah berita-berita bohong (hoaks). Hal yang dilakukan adalah memastikan data pelanggan sudah sahih. Keputusan Kemenkominfo perihal kewajiban registrasi ulang bagi pelanggan telekomunikasi seluler, pihak Telkomsel menjadi perusahaan yang pertama memberikan dukungan.

"Kami selalu memastikan data pelanggan yang teregister valid. Kedua, kami selalu aktif menyosialisasikan larangan menyebar hoaks. Pelanggan pun kami minta untuk memastikan kebenaran berita yang berseliweran di dunia maya," ungkapnya.(ce/bersambung)

You Might Also Like