Sosialisasi advokasi dan KIE program pembangunan KKBPK bersama Mitra Kerja tahun 2019 di Desa Purbasari Kecamatan Pangkalan Lada Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu (27/3/2019).


PANGKALAN BUN - Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu pilar utama bagi pembangunan. Untuk terciptanya SDM yang berkualitas tersebut, salah satu prasyaratnya adalah peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

“Peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga itu indikatornya seperti yang disebutkan pada PP No 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga tergambar dalam delapan fungsi keluarga,” kata Plt Kepala Perwakilan BKKBN Kalteng Satyawati Kusumawijaya melalui Kepala Bidang Kepala Bidang Advokasi, Pergerakan dan informasi (ADPIN) BKKBN Kalteng, Dison, saat membuka sosialisasi advokasi dan KIE program pembangunan KKBPK bersama Mitra Kerja tahun 2019 di Desa Purbasari Kecamatan Pangkalan Lada Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu (27/3/2019).

Delapan fungsi keluarga itu, jelas Dison, meliputi fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan.

Sementara itu, pemateri utama sosialisasi tersebut anggota Komisi IX DPR RI yang menjadi mitra kerja BKKBN, Hang Ali Saputra Syah Pahan juga menegaskan, prinsip kependudukan keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK) adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera dengan melaksanakan fungsi-fungsi keluarga secara optimal.

“Penerapan fungsi keluarga ini membantu keluarga lebih bahagia dan sejahtera, terbebas dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Keberhasilan program KKBPK dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya aspek pengendalian kuantitas penduduk, peningkatan kualitas penduduk yang dalam hal ini diukur dengan peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarganya,” beber Hang Ali.

Pada kesempatan itu, Hang Ali juga mengimbang agar masyarakat dapat menghindari 4T dalam berkeluarga, yakni melahirkan terlalu muda, terlalu banyak (anak), terlalu rapat (jarak kelahiran), dan terlalu tua.

“Jika empat T itu sudah dilaksanakan, maka itu setidaknya salah satu tanda bahwa program KB sudah bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Selain itu, dia mengimbau masyarakat yang belum menikah untuk merencakan usia pernikahan secara matang. “Bagi perempuan, usia pernikahan yang ideal adalah 21 tahun, sementara laki-laki 25 tahun,” sebut dia.

Sosialisasi yang diikuti sekitar 250 orang peserta dari desa setempat, juga dihadiri Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Kotawaringin Barat, perwakilan kecamatan, polsek dan danramil Kecamatan Pangkalan Lada. (hms/nto)

You Might Also Like