Titi Wati menghibur diri dengan berkaraoke ria sambil olahraga ringan. (AGUS PRAMONO/KALTENG POS)


Sebulan sekali tim dokter memantau perkembangan pasien obesitas Titi Wati. Pemeriksaan perlu dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan program diet perempuan yang akrab disapa Titin tersebut. Bagaimana hasilnya? Berikut ulasannya.  

 

AGUS PRAMONO-DANANG, Palangka Raya


UNTUK kali keduanya, tim medis memeriksa berat badan Titi Wati setelah operasi beberapa waktu lalu. Hasilnya, turun empat kilogram dari hasil pengecekan berat badan pertama pada 15 Februari lalu. Jika sebelumnya 211 kilogram, maka kini beratnya berkurang menjadi 207 kilogram.


Empat kilogram bukanlah berat yang diharapkan oleh tim medis. Pasalnya, target tim medis dalam sebulan berat badan Titi berkurang 10 kilogram. Total, dari 220 kilogram, berat ibu dari Herlina ini berat badannya susut 13 kilogram.

Wakil Direktur RSUD dr Doris Sylvanus, dr Theodorus Sapta Admadja pun dibuat bertanya-tanya. Mengapa hasilnya demikian? Tak seperti penurunan berat badan bulan sebelumnya.


"Ibu Titi masih menjalani program diet? Tidak melanggar pantangan?" tanya Theo, sapaan dr Theodorus Sapta Admadja kepada Titi Wati.


Belum menjawab, Titi Wati senyum-senyum. Meringis sesaat. Matanya mengisyaratkan rasa bersalah.

"Ada pak (melanggar pantangan, red)," jawabnya. Tersipu malu.


"Makan kerupuk semingguan. Sehari bisa dua bungkus," sambungnya.


"Nah, itu," sesal Theo, sembari menjelaskan bahwa kerupuk yang digoreng mengandung minyak dan tak baik untuk bagi yang tengah menjalani diet.


Titi Wati pun mengaku telah mengonsumsi ikan asin sebagai lauk ketika makan. Hanya satu hari. Lima ekor ikan sepat asin. Padahal, dokter juga melarang makanan tersebut untuk dikonsumsi selama menjalani program diet sehat saat ini.

Ibu satu anak ini pun mengakui kekhilafannya. Dikatakannya, air liurnya tak bisa menahan godaan kriuk-kriuk kerupuk dan aroma ikan sepat asin.


Untuk proses penimbangan berat badan, tim medis dibantu puluhan personel yang bertuliskan Tagana pada baju biru yang dikenakan mereka.Papan kayu dijadikan alas untuk membopong tubuh titi. Diangkat menuju timbangan duduk yang diletakkan empat langkah orang dewasa dari ranjang tempat tidurnya. Tak ada halangan dalam proses pengecekan berat badan itu.


Meskipun hasilnya belum signifikan, para dokter terus memberikan dukungan morel, agar Titi tetap semangat menjalani dietnya. Wakil Direktur RSUD Doris Sylvanus Theodorus Sapta Atmadja mengatakan, tim dokter dari RSUD dr Doris Sylvanus bersama dokter dari Bali telah melakukan penimbangan ulang. Penurunan berat badannya belum signifikan.


Para dokter menyarankan Titi untuk tetap mematuhi aturan diet yang sudah diberikan tim dokter. Kabar gembira bagi Titi, gula darahnya sudah stabil dibandingkan dengan sebelum operasi bariatrik.


"Jangan berkecil hati, kita harus hargai usaha dia. Sebelumnya, waktu baru masuk ke rumah sakit dia harus menggunakan insulin yang disuntik setiap hari. Saat ini insulin sudah lepas dan tekanan darahnya stabil," ucapnya kepada Kalteng Pos di kediaman Titi Wati, Jalan G Obos XXV Palangka Raya, Jumat siang (15/3).


Perlu diketahui, kata dia, operasi bariatrik itu bukan hanya untuk menurunkan berat badan saja. Akan tetapi juga memperbaiki metabolisme tubuh. Sekarang lebih fokus kepada penurunan berat badan, dan menganjurkan Titi untuk berolahraga.

"Kemarin saya berikan barbel. Selain untuk melatih otot-otot tangannya, juga untuk memecah lemak, sehingga penurunan berat badannya lebih signifikan lagi," sebut dr Theo.


Dia menambahkan, kenyataan Titi Wati masih mengonsumsi makanan tambahan selain yang sudah diatur oleh tim dokter, diaktakannya, mungkin karena Titi merasa bosan dengan menu diet yang ada.


"Masih suka curi-curi makanan lain. Dia mengaku kalau sehari makan kerupuk 2 bungkus dan ikan asin 5 potong. Itu yang diakuinya. Akan tetapi kami memakluminya," tambahnya.


Titi Wati mengaku bahwa dirinya merasa bosan dengan menu diet dari tim dokter. Itulah yang membuat dirinya tak tahan untuk mengonsumsi makanan yang sebenaranya dilarang untuk dikonsumsi selama masa diet. Dampaknya, penurunan berat badan tak sesuai target. Namun Titi mengaku tetap bersyukur, karena masih ada penurunan berat badan.


"Suruh makan ikan basah, lama-lama merasa eneg. Meskipun berat badan turun sedikit, tetap senang," ucapnya memberi penjelasan kepada tim dokter.


Meskipun demikian, Titi Wati sangat berterima kasih kepada tim dokter yang selalu mendukungnya dalam menjalani program diet penurunan berat badan. Apalagi sekarang ini dirinya sudah diperbolehkan mengonsumsi bubur.


"Sekarang sudah boleh makan bubur. Kalau dulu, jam 8 makan gandum. Kemudian jam 10 makan pepaya, nutrijel, dan yakult. Lalu, jam 12 baru makan nasi,” pungkasnya. (*/ce/ala)

You Might Also Like