BAHAGIA : Sri Sundhari SMKN 3 Palangka Raya bersama anak perempuannya yang mengambil jurusan kedokteran dan suami tercintanya, ketika berwisata. SRI SUNDHARI UNTUK KALTENG POS


BAHAGIA : Sri Sundhari SMKN 3 Palangka Raya bersama anak perempuannya yang mengambil jurusan kedokteran dan suami tercintanya, ketika berwisata. SRI SUNDHARI UNTUK KALTENG POS

Pengertian dan Komunikasi, Kunci Keharmonisan 

MENJADI seorang wanita karier, sekaligus istri dan ibu, tidak lah mudah. Perlu perjuangan. Apalagi pekerjaan yang dilakoni adalah kepala sekolah. Tapi, ini lah hebatnya wanita. Bisa bekerja, tapi tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Baik mengurus suami, mendidik anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga.

Seperti Sri Sundhari. Kepala SMKN 3 Palangka Raya ini, selalu mengatur waktu dengan baik. Demi menjalankan tiga fungsi tersebut.  Selain itu, yang tak kalah penting lagi, agar pekerjaan sebagai pemimpin di SMKN 3 tetap berjalan mulus, adalah saling pengertian.

“Yang penting, pintar-pintar saja mengatur waktu dan harus saling pengertian, antara suami dan istri, ini kunci keharmonisan,” kata wanita kelahiran 9 Desember 1969 ini.

Meskipun  ia tak sempat makan siang bersama suami. Tapi setiap pagi selalu menyiapkan sarapan bagi sang suami. Mulai pukul  04.00 dini hari, ia sudah bangun untuk menyiapkan keperluan suami. Lalu sebelum 06.30 ia harus pergi ke sekolah. Sore harinya sekitar pukul 16.00, barulah ia bisa pulang ke rumah. Tapi seminggu sekali, ia bersama suami menyempatkan makan siang bersama di luar. Hal ini dilakukan agar hubungan bersama suami tetap romantis. 

Selain itu, ibu dari satu anak ini, juga selalu selalu memberikan saran kepada guru-guru yang sudah bersuami di sekolah. Misal, ketika ia memberi tugas keluar daerah, ia meminta guru itu untuk bertanya dulu kepada suami di rumah, diberi izin atau tidak.  

“Jika saya kasih tugas, saya suruh dulu guru itu, bertanya sama suami. Siapa tahu tidak diizinkan,”katanya.

Agar hubungan tetap harmonis, ia juga selalu menjalin komunikasi, misalnya ketika telat pulang ke rumah. Ia juga berusaha untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah.

“Cuali jika sangat mendesak, barulah dibawa ke rumah. Nah kalau saya ada kegiatan di luar daerah. Saya selalu beri perhatian dengan suami saya. Melalu WA saya tanya, sudah makan belum. Jadi utamakan keluarga kita,”ucap ibu dari satu anak ini. 

Nah dalam mendidik siswa. Menurut Sri Sundhari yang sudah menjadi guru sejak tahun 1994, ia mendidik siswa seperti anaknya sendiri. Jika siswa melakukan kesalahan, mereka akan menasehati.

“Perempuan itu main perasaan, kami mendidik seperti anak sendiri, karena delapan jam ketemu di sekolah,”tuturnya.

Meski begitu, ia berharap orangtua menyadari, bahwa orangtua dan lingkungan, juga  wajib memberikan pendidikan karakter dan memantau si anak. Karena, selama orang tua memberikan perhatian kepada anak, maka anak itu akan berprilaku baik di sekolah, begitu sebaliknya.

Kini, kata dia, agar siswa menjadi lebih baik, setiap guru memiliki nomor telepon orangtua atau wali siswa, agar ada komunikasi.  Begitu juga, jika kalau ada pembagian rapot, orangtua yang datang mengambil rapot.

“Jika ada siswa yang bandel, saya sedih, padahal sudah ditegur. Kalau ada siswa meraih juara, saya juga ikut bangga sekali. Saya bangga menjadi guru dan suka jadi guru, karena bisa ketemu siswa yang unik,”terangnya. 

Perempuan yang sudah sepuluh tahun lagi pensiun ini menceritakan, pernah ada orangtua yang komplen ke sekolah, karena tata tertib sekolah. Karena di sekolah tidak diperkenankan mengaktifkan hp.

“Jadi hp siswa disita, orangtua tidak terima. Jadi saat itu saya hanya sabar. Ya jadi guru memang harus sabar,”ucap Sri Sundhari yang pernah menjadi guru di SMKN 2 Teweh. (aza)

 

You Might Also Like