Suasana di Desa Watubonang, Badegan, Ponorogo, Jawa Timur


ISU kiamat di Ponorogo Jawa Timur menyebar luas di media sosial. Akibatnya, puluhan warga tinggalkan Ponorogo dan hijrah ke Malang. Mereka menjual murah rumah dan tanah mereka di Ponorogo sebagai bekal pindah ke Malang.

Warga yang berjumlah 16 kepala keluarga (KK) dengan jumlah jiwa 52 orang itu mengungsi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadiin (MFM) Kabupaten Malang.

Munculnya isu kiamat sudah dekat diduga berawal dari ceramah pengasuh sekaligus pimpinan Ponpes MFM, KH Mohamad Romli Soleh Syaifuddin.

Kiyai Romli disebut-sebut pernah menyampaikan ceramah tentang tanda-tanda hari kiamat, salah satunya kemunculan meteor.

Jika pada bulan suci Ramadhan muncul meteor, maka akan terjadi huru-hara dan kemarau selama 3 tahun. Setelah itu, akan muncul dajjal.

Ceramah inilah yang diduga membuat masyarakat Ponorogo meyakini bahwa kiamat akan terjadi setelah Ramadhan 2019. Mereka percaya bahwa Ponorogo akan menjadi lokasi pertama yang dilanda kiamat.

Pimpinan Ponpes MFM, KH Mohamad Romli Soleh Syaifuddin membantah isu tersebut. Kiyai Romli menegaskan tidak pernah menyampaikan bahwa hari kiamat sudah dekat.

“Semua isu yang muncul di media sosial itu berita bohong. Fitnah yang sangat merugikan kami,” jelas Romli Soleh atau biasa disapa dengan Gus Romli.

Romli menuturkan, pihaknya hanya mengajarkan bahwa tidak ada orang yang tahu kapan pastinya hari kiamat itu datang.

“Yang saya ajarkan adalah persiapan sebelum hari itu datang,” tambahnya.

Romli menegaskan, Ponpes MFM tidak pernah memberitahukan bahwa akan ada kiamat setelah Ramadan 2019.

Ia hanya memberikan pengajaran mengenai 10 tanda besar kiamat, salah satunya adanya meteor.

“Tidak ada yang menyatakan setelah Ramadan terjadi kiamat. Itu hoax semua,” imbuh Romli.

Kendati demikian, Romli tak menampik bahwa dia pernah mengulas tentang meteor, musim paceklik dan kemunculan dajjal sebagai tanda-tanda datangnya hari kiamat.

“Saya pernah menerangkan bahwa jika Ramadan muncul meteor, maka dunia akan terjadi huru-hara selama 3 tahun, kemarau 3 tahun. Setelah itu muncul dajjal, dan seterusnya. Dan itu semua ada haditsnya,” ujarnya, sebagaimana dilansir Radar Malang, Kamis (14/3).

Terkait penjualan aset berharga milik warga untuk diserahkan kepada Ponpes MFM, Romli mengaku tidak tahu.

Namun di ponpes MFM memang ada kegiatan triwulan untuk menyongsong Ramadan dan itu sudah berjalan selama 3 tahun terakhir.

Sementara itu Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni mengaku akan terus melakukan pembinaan kepada warganya agar tidak ikut termakan isu kiamat sudah dekat.

Hal itu menyusul adanya 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, yang secara serentak pindah ke Malang lantaran adanya isu kiamat.

Sebelumnya Ipong membenarkan bahwa ada 52 warganya pindah ke Pondok Pesantren Miftakul Falakim Mubta’dziin yang diasuh oleh KH Muhammad Romli yang berada di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

“Mereka percaya bahwa dunia akan segera kiamat. Dan jika ikut pak kiai di ponpes tersebut katanya bisa selamat nggak ikut kiamat,” ujarnya ketika dikonfirmasi JawaPos.com, Rabu (13/3).

Dia juga mengaku prihatin dengan pemahaman masyarakat tentang hari kiamat yang dianggapnya sangat dangkal.

“Masih ada yang percaya hal begitu. Jelas itu nggak masuk akal,” kata dia.

Ipong mengungkapkan, ke-52 orang tersebut merupakan warga asli Ponorogo, bukan pendatang.

Ipong menerangkan, sebenarnya pihaknya sudah melakukan pembinaan sekaligus memberikan pemahaman kepada warganya. “Tapi ya sulit, mereka terlanjur percaya dan meyakini,” lanjutnya.

Dia pun meminta agar ada upaya serius dari ormas-ormas keagamaan, MUI, Pemkab Malang, dan Pemprov untuk menangani pusat ajaran tersebut di Kasembon, Malang.

Terlepas dari hal itu, pihaknya juga akan terus mengadakan pembinaan agar pengikut dari ajaran tersebut tidak meluas. Untuk saat ini, dirinya belum mengetahui aliran apa yang dianut oleh warganya itu.

“Sementara belum (tahu). Ini kita terus mengadakan pembinaan agar pengikutnya tidak meluas,” paparnya.

Ketika ditanya apakah ada rencana memulangkan mereka ke Ponorogo, Ipong mengaku ada rencana tersebut.

“Kalo mereka mau, ya ada (rencana memulangkan). Sementara ini kan nggak mau,” pungkasnya.

6 Warga Semanding Juga Hijrah

Selain 52 warga Watu Bonang, dua keluarga yang terdiri atas enam jiwa di Semanding, Kauman, juga turut pindah ke Malang.

Bahkan, satu keluarga menyuruh anaknya resign dari salah satu perusahaan milik BUMN. “Dua KK itu berangkat sejak Sabtu (2/3),” ungkap Kaur Trantib Semanding Wahyudi.

Berbeda dengan warga dari Watu Bonang, warga Semanding yang pergi itu sempat berpamitan ke lingkungan sekitar. “Juga menitipkan kegiatan keagamaan di musala,” ujarnya.

Wahyudi mengungkapkan, ada seorang warganya yang tidak ikut berangkat dengan alasan tidak memiliki biaya. Yang bersangkutan mengaku tidak mendapat doktrin tentang kiamat.

Hanya, kiai panutannya mengatakan, bakal terjadi kemarau panjang di Indonesia selama tiga tahun.

“Itu yang diceritakan kepada saya dari yang bersangkutan. Valid langsung dari orangnya,” bebernya.

Sekelompok warga yang mendadak pindah dan sebagian menjual tanah beserta rumahnya itu diketahui merupakan jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah. Sebagian besar pengikutnya merupakan warga Dusun Krajan, Desa Watu Bonang, Badegan.

Hijrahnya warga Watu Bonang disebut memiliki keterkaitan dengan Padepokan Gunung Pengging di desa itu.

Tiga tahun terakhir, padepokan itu menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah.

Kemarin sore Dandim 0802 Ponorogo Letkol (Inf) Made Sandy Agusto mendatangi Desa Watu Bonang. Dia menelusuri kebenaran doktrin kiamat yang telanjur beredar luas di masyarakat.

“Kami sudah ke lokasi. Kami pastikan seluruh ajaran di jamaah itu tidak ada yang menyimpang,” kata dia. (naz/mg7/c1/fin/msa/mh/c1/nay/c9/fal/JPG/KPC)

You Might Also Like