Masrani (kiri) beserta anaknya, Santi (kanan) saat singgah di salah satu warung di Jalan Patih Rumbih Kota Palangka Raya, Kamis (14/2). (ANISA/KALTENG POS)


Kasih sayang orang tua sepanjang masa. Kebahagiaan buah hati tak bisa dinilai. Itulah yang saat ini diperjuangkan Masrani. Mengayuh sepeda selama 18 tahun, demi mencari pengobatan bagi anaknya yang menderita epilepsi.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

========================-====

PRIA paruh baya ini terlihat melintas di Jalan Patih Rumbih, Kota Palangka Raya, Kamis (14/3). Mengayuh sepeda sembari memboncengi perempuan berkerudung putih. Berhenti di salah satu warung di samping Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Doris Sylvanus, Kota Palangka Raya.


Peluh keringatnya mengalir kala ia menghentikan sepeda. Kemudian menurunkan perempuan yang diboncengnya. Meninggalkan sepedah tua yang didesain lengkap dengan lampu, perlengkapan sound system supersederhana, serta kotak belakang berisi beberapa baju.


Duduk memesan secangkir kopi. Terlihat kelelahan. Seperti usai menempuh perjalanan panjang. Raut wajah keduanya menghipnosis penulis, seakan mengajak ingin berbincang-bincang. Siapakah bapak paruh baya ini? Dari mana dan hendak ke mana?


Namanya Masrani. Perempuan yang diboncengnya bernam Santi. Anak angkatnya yang ia rawat kurang lebih 18 tahun. Ibu Santi meninggal dunia lima bulan setelah melahirkan perempuan berkulit cokelat yang dia sebut, nak. Ayah kandung Santi marantau ke negeri seberang, Malaysia.


Kisah kelam dialami Santi. Terlahir dengan penyakit epilepsi. Melihat kondisi Santi yang terkadang mengalami kejang-kejang, Masrani pun mengadopsi Santi saat berusia dua tahun. Sejak itulah Masrani berkeinginan menyembuhkan anak gadis, yang saat itu masih pada masa lucu-lucunya.


Masrani menitipkan Santi kepada istrinya di Banjarmasin. Ia pun menjelajahi satu daerah ke daerah lainnya, demi mencari informasi terkait pengobatan. Tak disangka, semakin hari perjalannya semakin jauh. Bukan tak berhasil. Sudah beberapa kali ia menemukan pengobatan untuk anak angkatnya yang sangat disayanginya itu.


Tapi mungkin Tuhan masih belum berkehendak untuk kesehatan Santi. Mulai dari penyembuhan secara medis maupun obat tradisional, sudah coba dilakukan. Hasilnya nihil. Anak gadisnya yang semakin hari semakin tumbuh dewasa itu, tak kunjung sembuh.

Tekadnya ingin menyembuhkan anaknya semakin bulat.


Ia rela menyeberang pulau hingga ke Kalimantan. Tidak hanya mendatangi wilayah kota saja. Namun hingga pelosok pun didatanginya. Akhirnya keinginannya itu beralih. Bagaimana anaknya bisa menikmati dunia, tertawa bersama, melupakan penyakit yang dideritanya.


“Saya sudah 18 tahun mengayuh sepeda dari Kota Banjarmasin ke beberapa daerah di Indonesia. Bahkan seluruh provinsi sudah saya singgahi,” ungkapnya saat dibincangi penulis.


Awalnya ia mengayuh sepeda sendirian. Namun suatu ketika, ia mendapat laporan bahwa Santi tak bisa melanjutkan pendidikan madrasah tsanawiyah swasta (MTS), lantaran sering mengamuk atau kejang di kelas. Lalu ia pun memutuskan membawa putrinya keliling Indonesia menggunakan sepeda tuanya.


“Awalnya saya sendirian. Tetapi saat Santi kelas VIII di Tsanawiyah, saya membawanya serta, karena ia telah diberhentikan dari sekolah,” kisahnya.


Tujuannya kini tidak hanya ingin mencari obat saja. Tapi juga menghibur anaknya, agar bisa menikmati indahnya alam Indonesia. Berusaha untuk kesembuhan itu perlu, tetapi bersedih atau pasrah itu tidak penting.


“Saya ingin dia (Santi, red) terhibur, melihat Indonesia dengan ribuan kayuhan kaki saya setiap harinya,” sebutnya.


Kunjungannya ke beberapa daerah terbukti. Ada surat keterangan di mana ia singgah. Dari 65 tumpukan surat keterangan yang sudah di-laminating, ada surat keterangan baru yang belum di-laminating. Yakni surat keterangan dari Pemprov Kalteng, dengan tanda tangan dan cap resmi dari Setda Kalteng.


“Ini hanya beberapa surat keterangan yang saya bawa. Di rumah masih ada ratusan surat keterangan kunjungan saya ke beberapa daerah,” katanya sembari menunjuk surat keterangan yang saat itu sedang kupegang.


Tidak hanya surat keterangan. Masrani juga mengabadikan beberapa foto di daerah-daerah yang disinggahinya. Maksudnya menjadi bukti dan kenangan bahwa ia pernah singgah di seluruh daerah se-Indonesia. Bahkan, ia juga mengisahkan bahwa pernah mengunjungi Presiden RI Joko Widodo.


“Ini foto saya waktu di Muara Teweh. Ini juga foto saya waktu masih sedikit muda,” ucapnya sembari menunjukkan beberapa lembar foto dan melempar tawa.


Ia tidak pernah meminta-minta atau berkeluh kesah kepada orang. Ia bukan pengemis, tetapi ada saja orang yang memberi dan membantu. Baik itu uang maupun pakaian. Atas kebaikan hati orang, Masrani tak mau menolak.


“Saya tidak mengemis. Tapi saya juga tidak menolak jika diberikan sesuatu. Saya senang dan anak saya senang. Itu sudah cukup bagi kami,” imbuhnya.


Selama 18 tahun hidup di jalanan. Meski menguras tenaga mengayuh sepeda, namun Masrani tak pernah sakit. Begitu juga dengan anaknya. Selama ikut dengan dirinya beberapa tahun terakhir, belum pernah mengalami sakit di jalanan. Hanya saja terkadang epilepsinya kambuh. Itu terkadang membahayakan keduanya.


“Pernah jatuh. Karena saat berada di atas sepeda, sakit Santi kambuh,”  ucapnya sembari menunjukkan luka di dahi anaknya.

Beberapa tahun lalu, Masrani dan Santi sempat ke Palangka Raya. Kali ini ia kembali ke Kota Palangka Raya, setelah mengikuti Haul Guru Sekumpul di Kota Banjarmasin.


Rencananya, hari ini, Jumat (15/3), Masrani akan melanjutkan perjalanan bersama anaknya menuju Pangkalan Bun.

“Biasanya satu tahun sekali saya pulang ke Kota Banjarmasin. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Saya berkeinginan untuk melakukan perjalanan keliling dunia,” pungkasnya. (*/ce)

You Might Also Like