Anggota Komisi IX DPR RI, Hang Ali Saputra Syah Pahan menyampaikan sosialisasi program pembangunan keluarga BKKBN bersama mitra kerja, di Kelurahan Kereng Bangkirai, Palangka Raya, Kamis (14/3/2019)


PALANGKA RAYA - Untuk membangun sebuah keluarga (menikah), tidak hanya memerlukan kesiapan fisik bersifat materi. Tetapi diperlukan kesiapan banyak hal, terutama mental pasangan yang akan menikah.


Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sejak beberapa tahun lalu telah mengampanyekan usia ideal untuk menikah bagi laki-laki adalah 25 tahun dan 21 tahun untuk perempuan.


"Kenapa harus 25 dan 21 tahun? Secara medis, pada usia itu orang diyakini telah siap baik fisik maupun mental. Dari sisi fisik, organ-organ reproduksi laki-laki dan perempuan telah matang dan siap. Demikian juga dengan mental, lebih matang untuk berpikir dan merencanakan keluarga," papar Kepala Perwakilan BKKBN Kalteng, Setyowati Kusumawijaya saat membuka acara sosialisasi program pembangunan keluarga bersama mitra kerja tahun 2019 di komplek Perumahan Kereng Indah Permai, Kelurahan Kereng Bangkirai Kecamatan Sabangau Palangka Raya, Kamis (14/3/2019).


Hal itu juga dipertegas mitra kerja BKKBN dari Komisi IX DPR RI, Hang Ali Saputra Syah Pahan yang menjadi pembicara utama di acara tersebut.


Menurut Hang Ali, perencanaan pembangunan keluarga sangat penting dilakukan, baik bagi pasangan yang telah menikah maupun yang belum. Saat ini kita melihat banyak perceraian pasangan yang kalau kita lihat diawali pernikahan usia dini. "Walaupun tidak mutlak, tetapi itu salah satu bukti bahwa kesiapan mental pasangan muda sangat penting. Perencanaan keluarga bukan hanya soal ingin punya anak berapa, tetapi bagaimana membangun keluarga yang bahagia, sejahtera dan harmonis," kata Hang Ali.


Dalam menjalani kehidupan berkeluarga, lanjut Hang Ali, persiapan mental adalah hal yang sangat penting. Dalam rumahtangga pasti akan ditemukan banyak masalah yang akan menghampirinya pasangan suami-istri.


"Agar kita mampu mengelola masalah secara cerdas dibutuhkan kekuatan mental serta kelapangan hati suami-istri. Tanpa kesiapan mental dan rohani, masalah kecil bisa menjadi besar, masalah sederhana bisa menjadi rumit. Inilah yang sering menjadi pemicu terjadinya perceraian di pasangan-pasangan muda. Jadi, pernikahan bukan hanya sekadar soal menghalalkan pasangan, tetapi bagaimana setelah menjadi pasangan bisa membangun keluarga yang terencana dengan baik," pungkas anggota DPR RI asal Kalteng itu. (b/nto)

You Might Also Like