Para jemaah Haul ke-14 Guru Sekumpul yang menginap di Kampus STAI Darussalam, Martapura. Mereka yang datang dari jauh banyak menginap di penginapan-penginapan gratis di sekitar Martapura. (SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN)


Haul Guru Sekumpul kembali menghadirkan banyak kisah dari para jemaah. Mulai dari viralnya Riduan Effendi yang memilih berjalan kaki dari Palangka Raya menuju Sekumpul, Martapura. Serta, tiga anak dari Kapuas yang tak kenal lelah bersepeda untuk menghadiri haul. Selain dua cerita itu, masih ada seribu satu kisah jemaah Sekumpul.

 

==================----

SABTU (9/3) beberapa jemaah dari luar daerah terlihat menginap di sejumlah penginapan gratis. Untuk, menghimpun kisah-kisah mereka dalam menghadiri Haul Guru Sekumpul, penginapan pertama yang didatangi Radar Banjarmasin (Grup Kalteng Pos) ialah Kantor Dinas Perdagangan Banjar. Bertempat di Jalan Perwira, Kelurahan Tanjung Rema, kantor tersebut menampung seratus lebih jemaah yang datang dari luar daerah.

Salah satunya Surya, jemaah dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dia bersama istri dan empat anaknya mengaku baru pertama kali datang ke Sekumpul. "Ternyata begini ya suasana di Sekumpul saat menjelang haul? Jalan macet, karena dipadati jemaah," katanya.

Dia mengaku tak sabar melihat suasana puncak haul pada Minggu (10/3) hari ini. Sebab, selama ini hanya mendengarkan cerita dari kerabatnya yang sudah pernah hadir. "Katanya ada jutaan jemaah yang memadati wilayah ini ya. Luar biasa, saya sudah tidak sabar," ucapnya.

Pria 50 tahun ini mengaku bersyukur akhirnya memiliki kesempatan untuk menghadiri haul. Setelah tahun lalu gagal, lantaran jadwalnya berbenturan dengan pekerjaan. "Tahun lalu sudah punya rencana, tapi batal. Karena tak mau batal lagi, tahun ini saya berkomitmen hadir. Walaupun harus beli tiket mahal," ujarnya.

Sebelumnya, dia terkejut dengan harga tiket yang harus dibayarnya. Bayangkan, tiket jurusan Makassar-Banjarmasin yang sebelumnya cuma Rp400 ribu. Kini sudah di atas Rp1 juta. "Saya belinya Rp1.025.000," tuturnya.

Namun, uang menurutnya bukanlah apa-apa. Yang terpenting, dirinya bersama keluarga bisa menghadiri Haul Guru Sekumpul. "Saya ngotot ke sini lantaran penasaran, kenapa banyak orang datang ke sini. Selain itu, saya juga ingin mengambil berkahnya," paparnya.

Sementara itu, di penginapan yang sama. Hendra, rombongan dari Samarinda, Kaltim mengaku takjub dengan gelaran haul ulama bernama lengkap KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani itu. Lantaran, dihadiri oleh jutaan umat Muslim. "Orang ziarah ke makam ulama di Jawa tak sebanyak ini. Saya terharu setiap kali ke sini," ucapnya.

Saking banyaknya jemaah, mereka sempat kesulitan mencari penginapan. Sebab, rata-rata sudah penuh sejak sebulan yang lalu. "Sebulan lalu saya sudah ke sini mencari penginapan. Ternyata sudah banyak yang penuh, untungnya masih dapat di sini," ungkapnya.

Lanjutnya, dia mengaku sudah empat kali menghadiri haul. Bersama istri dan sejumlah kerabatnya. "Padahal awalnya hanya penasaran. Setelah itu, saya merasa nyaman hadir ke haul. Karena, masyarakat di sini menyambut kami dengan baik," ucapnya.

Selain rombongan Hendra, salah seorang jemaah dari Jakarta bernama Ahmad Muamar yang menginap di Kampus STAI Darussalam juga sempat kesulitan mencari penginapan. "Saya datang dua hari yang lalu. Saat tiba di Sekumpul saya bingung harus menginap di mana. Saya cari-cari sampai ke Stadion Demang Lehman, tidak kunjung dapat," ceritanya.

Untungnya ketika dia kebingungan, ada relawan yang bersedia ikut mencarikannya penginapan. Dan akhirnya dapat di STAI Darussalam. "Alhamdulillah relawan di sini menjamu jemaah dengan baik, sehingga kami merasa nyaman ke sini," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Muamar ini sebenarnya baru pertama kali ke Sekumpul, namun dirinya mengaku tak kesulitan untuk menuju ke Martapura. "Dari bandara, saya naik taksi ke Sekumpul. Satu yang jadi patokan saya untuk bisa ke Sekumpul, yaitu mengikuti orang-orang yang berbaju Muslim," tuturnya.

Dia mengaku bersyukur bisa menghadiri Haul Guru Sekumpul, meski harus membayar tiket mahal dari Jakarta. "Harga tiket lumayan, Rp1,2 juta," pungkasnya. (ris/by/ran/KPG)

You Might Also Like