Ilustrasi survei. (foto: net)


BERBEDA! Rilis dua lembaga survei itu, ada dalam tafsir yang tidak sama. Tentu sah-sah saja. Pekan ini ekspose hasil riset PolMark dan LSI Denny JA muncul hampir bersamaan. Metode yang diambil hampir tipikal, tapi dalam interpretasi yang berbeda.

PolMark dalam keterangan rilisnya, membuka bahwa kegiatan survei yang dilakukan adalah hasil kerjasama dengan PAN untuk memotret situasi yang berkembang di tengah publik saat ini, terkait dengan Pilpres dan agenda politik nasional yang mendapatkan perhatian luas dari masyarakat.

Konklusi yang dibentuk, melalui hasil penelitian PolMark sekurangnya ada beberapa poin, termasuk diantaranya terdapat dua tema yang paling krusial dicermati berkaitan dengan kontestasi Pilpres, yakni (a) kompetitifnya pilpres meski Jokowi masih unggul, tapi angka elektabilitasnya hanya 40,4 persen saja, dan (b) fokus masalah yang ada benak publik adalah perbaikan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

Pada kedua persoalan itu, hasil yang diperoleh membuat kedua kubu harus memperbaiki diri jelang sebulan masa pencoblosan. Bagi petahana, tingkat keterpilihan yang hanya berada di bawah 50 persen, jelas merupakan sebuah warning, sebagai sebuah sinyalemen yang membahayakan. Pengelolaan janji kampanye perlu diperbaiki, terutama untuk memastikan ketertarikan dari pemilih yang belum menentukan pilihan, maupun para pemilih yang masih mungkin akan berubah. Hal ini mungkin sekaligus menjelaskan situasi saat ini, dimana secara tidak mengherankan kemudian program kartu sakti kembali diwacanakan.

Sementata itu bagi oposisi yang baru 25.8 persen nilai elektabilitasnya, terang perlu kerja keras di sisa waktu yang mendekati tenggat. Momentum debat akan menjadi kerangka pembuka, menghindari potensi blunder adalah bentuk strategi lain yang juga harus dipikirkan. Beruntungnya, isu yang menjadi perhatian publik selaras dengan suara yang selama ini diaspirasikan pasangan calon ini, utamanya soal perbaikan ekonomi dan lapangan pekerjaan. Bekalan itu harus dimaksimalkan dalam upaya mempersuasi sekitar 33.8 persen undecided voters.

Pilpres dalam Balut Identitas

Berbeda dengan PolMark, hasil survei LSI Denny JA mencoba menyoroti tentang korelasi pemilih muslim dan minoritas terkait dengan elektabilitas Pilpres. Temuan yang dihasilkan, sangat meyakinkan. Kemenangan mutlak Jokowi dinyatakan dengan tingkat elektabilitas yang mencapai 58.7 persen. Selisih jarak dengan penandingnya sangat jauh terpaut 28 persen.

Populasi yang belum menentukan pilihan hanya 9.9 persen dan lebih jauh lagi fluktuasi dinamika elektabilitas Jokowi sebagai petahana semakin terkonsolidasi dan menguat mendekati hari-H Pilpres. Sementara itu, pada sisi yang berbeda, lompatan elektabilitas oposisi relatif stagnan dari waktu ke waktu.

Temuan LSI Denny JA setidaknya menjadi menarik dalam beberapa kesimpulan besar, diantaranya; (a) pemilih terepresentasi sebagai pemilih muslim 87.8 persen, (b) sebanyak 71 persen dari pemilih muslim menilai kondisi ekonomi baik, dan (c) sekitar 55.7 persen dari memilih pasangan Jokowi-Maruf. Situasinya lebih telak untuk kemenangan Jokowi, pada kelompok pemilih minoritas.

Titik menarik yang kemudian muncul dalam bagian akhir survei LSI Denny JA dalam temuan butir ke (5) Prabowo-Sandi menang pada pemilih muslim konservatif, berorientasi Timur Tengah dan umumnya dari FPI. Sekali lagi, temuan survei tentu normal sebagai hasil kalkulasi statistik. Tetapi ada interpretasi yang bisa multitafsir, terutama dari kesimpulan diboboti oleh kepentingan atas hasil survei yang dirilis.

Perbedaan lain dari hasil survei LSI Denny JA, adalah tidak terbukanya siapa partner kerjasama survei, ataupun pihak yang membantu penyelenggaraan riset yang kerap kali dilakukan lembaga tersebut secara rutin. Publik mafhum, bila biaya penelitian berbasis survei tatap muka, membutuhkan biaya tidak sedikit.

Opini di Balik Survei

Hal terpenting dari hasil survei adalah terbentuknya opini publik. Kepentingan pembentukan opini publik adalah bagian dari kerangka membangun resonansi publik. Membuat publik sebagaimana khalayak audiens yang terpapar informasi sesuai dengan kepentingan survei tersebut. Survei menjadi instrumen persuasi publik.

Membaca hasil riset PolMark seolah memberi angin bagi oposisi, meski perlu kerja lebih terstruktur dan sistematik di putaran akhir. Sedangkan mencermati kesimpulan penelitian LSI Denny JA, seakan menempatkan petahana dalam posisi tidak terkejar oleh situasi apapun. Termasuk memformulasi dukungan kelompok muslim pada petahana.

Dalam tinjauan pribadi, temuan survei PolMark lebih lugas dalam memposisikan situasi elektoral saat ini, dibandingkan dengan apa yang didapat melalui riset LSI Denny JA dikarenakan nilai absolutnya bagi kemenangan petahana. Survei dalam nominal angka, sekali lagi kerap luput membaca situasi psikologis massa, karena disembunyikan saat diposisikan menjadi responden.

Terlebih, bila kemudian jeli dalam membaca hasil temuan LSI Denny JA, dimana melalui hasil tabulasi penelitian yang dilakukan, sekurangnya konstruksi format pertanyaan dibentuk detail. Semisal pemilih muslim menilai ekonomi, maka ada dalam kondisi baik ataupun buruk, secara bertingkat bahkan dalam hasil responden muslim yang menilai kinerja ekonomi baik, tidak berasosiasi langsung pada Jokowi secara mutlak. Teknik detail seperti itu, bisa dimaksudkan untuk memperoleh fragmentasi secara lebih halus, tetapi rawan pula untuk menstimulasi bias jawaban bagi responden.

Jika hasil PolMark menyatakan petahana dalam posisi rawan, dan terdapat peluang bagi oposisi, maka temuan LSI Denny JA seolah memberikan legitimasi bagi kubu petahana atas dukungan dari kelompok pemilih muslim. Hal itu dapat dikarenakan jika selama ini persepsi publik bertendensi menempatkan petahana berseberangan dengan kelompok muslim. Situasi dan kondisi ini, sekaligus dapat menerangkan opsi kombinasi pasangan calon pendamping Jokowi, yang kemudian menempatkan figur Kiai Maruf Amin sebagai elit pemuka Islam guna menetralisir isu tersebut.

Di saat bersamaan, kesimpulan LSI Denny JA juga diproyeksikan dalam plot framing jika dukungan kepada Prabowo-Sandi disokong oleh kekuatan muslim konservatif, dalam makna peyoratif bisa didekatkan dengan radikal dan anti-toleran.

Di balik semua itu, kontestasi dan kompetisi politik dalam wujud Pilpres yang sebentar lagi, akan semakin menguatkan pertarungan pemenangan opini publik menjelang periode pemilihan. Maka survei adalah alat ukur dari indikator yang tidak bebas dari kepentingan. Jernihlah membacanya! (***)

(Penulis adalah Mahasiswa program doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid)

You Might Also Like