Oleh: Agus Setiawan, S.Pd


Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia. PKBM juga merupakan salah satu program pemerintah di bidang pendidikan nonformal yang menjembati dan membantu anak-anak putus sekolah atau kurang beruntung.

Ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi anak-anak putus sekolah diantaranya latar belakang pendidikan orang tua, perekonomian keluarga, lingkungan tempat tinggal, yatim dan piatu, pernikahan di usia dini, dan kurangnya minat anak untuk bersekolah, serta masih banyak faktor lainnya.

Jumlah anak putus sekolah yang terdata di Kota Palangka Raya pun cukup mencengangkan. “Menurut Kepala Bidang Pendidikan Nonformal dan Informal pada Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Ida Sutiana, menyebut ada sekitar 1.045 anak putus sekolah di ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Data tersebut merupakan data dari Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNIF) Provinsi Kalimantan Tengah”. (BorneoNews, 2017; https://www.borneonews.co.id/berita/75439-ada-1-045-anak-putus-sekolah-di-palangka-raya, di akses pada tanggal 22 Februari 2019)

Salah satu pendidikan nonformal yang berdiri di kota Palangka Raya adalah PKBM Luthfillah yang merupakan lembaga pendidikan kesetaraan yang menyediakan program Paket A setara SD, Paket B setara SLTP, dan Paket C setara SLTA. Warga belajar atau peserta didik di PKBM Luthfillah terdiri dari berbagai macam kalangan baik dari segi usia, suku, tempat tinggal atau latar belakang. Rata-rata peserta didik di PKBM Luthfillah yang terdata adalah mereka yang putus sekolah di pendidikan formal baik dari tingkatan SD, SLTP maupun SLTA.

            Berdasarkan hasil wawancara dari beberapa peserta didik di PKBM Luthfillah diantara mereka mengatakan putus sekolah di pendidikan formal selain faktor ekonomi keluarga, sebagian besar dari mereka adalah tulang punggung keluarga yang harus menafkahi orang tuanya yang sudah tua atau sedang sakit, membiayai saudara yang masih sekolah, dan tuntutan kebutuhan hidup saat ini. Misalnya, Fauzi Sadri (peserta didik Paket C kelas 11) dan Supriadi (peserta didik Paket C kelas 10), kakak beradik ini terpaksa putus sekolah di pendidikan formal karena harus bekerja untuk bertahan hidup dan menafkahi ibunya karena ayah mereka sudah meninggal dunia.

Fauzi Sadri (kakak dari Supriadi) sehari-harinya bekerja sebagai buruh dipasar dan sebagai tukang parkir roda dua. Sedangkan Supriadi bekerja di salah satu rumah makan persinggahan di kota Palangka Raya. Kakak beradik ini bekerja mulai pagi hingga sore hari sehingga mereka kehilangan kesempatan pertama untuk lanjut bersekolah di pendidikan formal. Kakak beradik ini mengatakan bahwa “sudah cukup kesempatan pertama hilang ,jangan sampai kesempatan yang kedua mengalami hal yang sama yakni putus sekolah di PKBM Luthfillah”. Semenjak mereka tahu informasi di sekitar tempat tinggal mereka ada sebuah lembaga pendidikan yang beralamat di jalan Rindang Banua No.26-33 Keluruhan Pahandut juga merupakan satu-satunya lembaga pendidikan kesetaraan di Kota Palangka Raya yang beroperasi pada malam hari yakni mulai dari pukul 18.30 (selepas sholat isya) hingga pukul 21.30 WIB. Kakak beradik ini memanfaatkan waktu istirahat mereka untuk bersekolah kembali di PKBM Luthfillah tanpa mereka harus melepas pekerjaan mereka. Dengan meluangkan waktu yang ada mereka sangat antusias mengikuti proses pembelajaran baik tatap muka ataupun pembelajaran jarak jauh (Online).

Sistem pembelajaran yang diterapkan di PKBM Luthfillah mencakup tatap muka, pembelajaran jarak jauh (Online), dan mandiri. Dengan sistem pembelajaran ini dapat membantu peserta didik untuk mengakses pembelajaran lebih mudah baik secara tatap muka maupun pembelajaran  jarak jauh (Online). PKBM Luthfillah sejauh ini sudah banyak mencetak dan meluluskan peserta didik yang mampu bersaing di dunia kerja dan dunia pendidikan. Saat ini ada beberapa peserta didik Paket C lulusan dari PKBM Luthfillah yang mampu bersaing dan melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi diantaranya: Fani Aditia sebagai mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HES) di IAIN Palangka Raya, Norjannah sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di IAIN Palangka Raya, Norahman sebagai mahasiswa jurusan Ekonomi Manajemen di Universitas Terbuka di Palangka Raya, Khairun Nisa sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) di Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, dan Ahmad Sabran sebagai mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HES) di IAIN Palangka Raya. Mereka sebagian dari bukti bahwa anak-anak yang pernah putus sekolah bisa menggapai cita-cita dan impian mereka dengan bermodal tekad dan ijazah Paket C dari PKBM Luthfillah.

Adanya PKBM Luthfillah bisa membantu atau menjembatani anak-anak yang putus sekolah khususnya di kota Palangka Raya dan turut serta membantu pemerintah merealisasikan cita-cita bangsa guna mencerdaskan anak bangsa melalui Pendidikan Nonformal dan Informal karena Pendidikan Nonformal dan Informal sangat penting untuk membantu keterbelakangan yang ada di masyarakat antara lain sebagai berikut: (1) Warga masyarakat yang belum sadar akan pentingnya pendidikan sehingga tidak sedikit anggota masyarakat yang tidak mengenyam dunia pendidikan sama sekali. (2) Masih banyaknya masyarakat usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan pendidikan SD, SLTP dan SLTA akibat dari ketidak mampuan orang tua dalam membiayai anaknya, karena keterbatasan faktor ekonomi. (3) Masih banyaknya anggota masyarakat yang tingkat pendidikannya relatif masih rendah juga tidak memiliki keterampilan khusus dalam suatu lapangan kerja serta kurangnya pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan keahlian. Dan (4) Perlunya meningkatkan kualitas dan pemberdayaan insan Indonesia dalam mempersiapkan sumber daya diri. Penulis, guru/tutor di PKBM Luthfillah  Email: agussetiawanyanata@gmail.com

 

You Might Also Like