Jaya Suprana



SEMULA ibu saya dengan penuh kasih sayang mendidik saya untuk jangan membenci sesama manusia sesuai ajaran budi pekerti yang diajarkan oleh agama.

Sasaran kebencian yang pertama diajarkan lewat buku pelajaran membaca adalah apa yang disebut sebagai tengkulak.

Kemudian setelah mulai memperoleh mata pelajaran sejarah, saya dididik untuk membenci VOC alias kumpeni dengan alasan bahwa mereka adalah kaum penjajah yang menindas rakyat Nusantara.

Tokoh kumpeni yang paling saya benci adalah Daendels akibat konon kejam memaksa rakyat kerja rodi memeras keringat, air mata dan darah demi membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan meski belakangan saya baru sadar bahwa jalan yang dibangun penjajah itu bukan jalan tol sehingga rakyat tidak perlu bayar sesen pun jika ingin menggunakannya.

Setelah Malaysia diberi hadiah kemerdekaan oleh Inggris, saya dididik untuk membenci negara tetangga yang sebenarnya bukan penjajah bahkan kebetulan serumpun dengan bangsa saya sendiri.

Setelah Pak Harto menggantikan Bung Karno menjadi presiden Indonesia, muncul ajaran membenci PKI meski para anggota PKI adalah sesama warga Indonesia.

Makin

Setelah Pak Harto lengser, saya makin bingung sebab dididik membenci Orde Baru sambil tetap membenci PKI yang dibenci Orde Baru yang mendidik saya untuk membenci PKI.

Di masa Orde Reformasi terutama pada masa menjelang pilpres, kebingungan saya makin menjadi-jadi sebab ada ajaran untuk membenci para pendukung calon presiden bukan calon presiden yang saya dukung padahal sebenarnya yang membenci dan yang dibenci adalah sama-sama sesama rakyat Indonesia yang sewajibnya bukan saling membenci, namun justru bersatu padu membangun negara Indonesia demi bersama meraih cita-cita terluhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur yang hidup bersama di negeri gemah ripah loh jinawi tata tenteram kerta raharja . Merdeka! (rmol/kpc)

You Might Also Like