Pasangan capres dan cawapres. (foto: net)


BOGOR – Sejumlah lembaga survei telah merilis hasil survei Pilpres 2019. Hasilnya hampir sama semua. Pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul dengan angka 60-65 persen. Sedangkan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sekitar 30-35 persen.

Meski pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul secara nasional, namun di Jawa Barat yang menjadi barometer nasional, pasangan ini justru kalah telak.

Hal itu sesuai dengan hasil simulasi pencoblosan surat suara Pilpres 2019 yang dilaksanakan Radar Bogor grup. Simulasi pilpres 2019 dilaksanakan di 12 kota/kabupaten di Jawa Barat.

Hasilnya, sebanyak 61,64 persen warga mencoblos paslon 02 Prabowo-Sandiaga Uno. Sedangkan 38,36 persen-nya mencoblos Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Jangkauan area simulasi pencoblosan suara pilpres tahun ini lebih kompleks dan lebih luas, dibandingkan simulasi Pilpres 2014. Tim Relawan Radar Bogor melakukan simulasi serentak di 12 kota dan kabupaten di Jabar.

12 kota dan kabupaten itu yakni Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Bandung, Cimahi, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Depok, Cianjur, Karawang, Purwakarta, Kota Sukabumi, dan Kabupaten Sukabumi.

“Pemilihan 12 kota/kabupaten ini karena merupakan lumbung suara di Jabar,” ujar Pimred Radar Bogor Aswan Achmad. Seperti diketahui, kata Aswan, Jabar merupakan provinsi dengan jumlah pemilih terbanyak di Indonesia.

Jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 33.270.845 jiwa. Jika dikerucutkan lagi, dari 27 kota/kabupaten di Jabar, 12 kota yang disimulasi Radar Bogor merupakan kota dan kabupaten dengan jumlah pemilih terbanyak.

Kabupaten Bogor misalnya. Berdasarkan data KPU Jawa Barat, jumlah DPT di wilayah ini mencapai 3.467.603 jiwa. Jika ditambah dengan DPT Kota Bogor: 716.473 jiwa. Maka, total DPT Kota dan Kabupaten Bogor mencapai 4.184.076 jiwa.

Maka dari itu, Bogor mendapat jatah spesimen surat suara lebih banyak dari yang lain. Yakni: 3.550 surat suara dari total 9.023 spesimen yang tersedia. Sedangkan kota dan kabupaten lain, rata-rata mendapatkan 1.000 kertas suara.

“Untuk mempermudah perhitungan, pembagian kertas suara kami bagi per daerah pemilihan,” tambah Aswan.

Dalam perolehan suara, paslon 02 unggul di semua wilayah. Semisal di Kota dan Kabupaten Bogor. Masyarakat yang mencoblos foto Jokowi-Ma’ruf sebanyak 1.231 suara. Sedangkan coblosan untuk Prabowo-Sandiaga mencapai 2.215 suara.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Bandung dan Cimahi. Dari 1.000 kertas suara yang disebar, sebanyak 357 warga mencoblos foto pasangan 01. Sedangkan coblosan untuk pasangan 02 mencapai 592 suara.

Meski paslon Prabowo-Sandiaga di atas angin, tetapi perlawanan tetap dilakukan paslon 01 di beberapa kota/kabupaten. Misalnya Kabupaten Cianjur, selisih suara antara kedua paslon tidak terpaut jauh.

Masyarakat yang mencoblos foto Jokowi-Ma’ruf di Kota Santri itu sebanyak 281 suara. Sedangkan coblosan untuk Prabowo-Sandiaga 296 suara.

Begitu juga di Kota Depok. Masyarakat yang mencoblos paslon 01 mencapai 330 suara. Sementara coblosan untuk paslon 02 sebanyak 401 suara.

Aswan kembali menegaskan, hasil simulasi pencoblosan di 12 kota/kabupaten ini tidak akan memengaruhi suara Pilpres 2019.

“Simulasi ini adalah hal rutin yang kami lakukan menjelang pilkada atau pilpres. Semua itu semata-mata untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan kesiapan warga dalam menghadapi pemilu,” bebernya.

Sebagai perbandingan, hasil simulasi pencoblosan surat suara Pilpres 2019 Radar Bogor, tidak berbeda jauh dengan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Juli 2018 lalu. Dalam hasil survei yang menggunakan metode stratified two stage random sampling itu, elektabilitas Prabowo unggul di angka 51,2 persen. Sedangkan Joko Widodo 40,3 persen.

Selain itu, berkaca dari hasil Pilpres 2014 di Jawa Barat, Prabowo juga lebih unggul dibandingkan Jokowi. Pada saat itu, pasangan Prabowo- Hatta memperoleh 59,78 persen suara. Sementara paslon Jokowi-JK mendapat 40,22 persen suara.

Ketua Badan Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo-Sandiaga Uno Jawa Barat, Abdul Haris Bobihoe menjelaskan hasil simulasi Radar Bogor sesuai dengan prediksi tim pemenangan. Menurutnya, usai pelaksanaan Pemilihan Gubernur Jawa Barat tahun 2018, timnya terus bergerak.

“Ini suatu hasil yang kita prediksi. Karena para caleg mempromosikan Prabowo-Sandiaga . Jadi caleg itu door to door ke masyarakat,” ucapnya saat dihubungi Radar Bogor, tadi malam.

Tak hanya mengandalkan para caleg, pihaknya juga terus merangkul para relawan yang ada di Jawa Barat. Dan terus melakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh agama.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Amin, Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, meski hasil simulasi Pilpres 2019 Radar Bogor perolehan suara Jokowi-Ma’ruf berada di bawah Prabowo-Sandiaga, tetapi menurutnya banyak survei yang menyatakan keunggulan Jokowi.

Tapi, ia mengakui bahwa keunggulan itu masih sangat tipis. “Dari lembagalembaga survei Pak Jokowi memang sudah unggul, tapi selisihnya masih tipis sekitar empat persen. Empat persen itu margin error. Kalau margin error maka dua-duanya bersaing dengan ketat. Artinya imbang,” ucapnya.

Ia tak menampik bahwa Jokowi sempat kalah telak oleh Prabowo di Jawa Barat pada Pemilu 2014. Hal tersebut menurutnya menunjukkan hal positif, ketika tren hari-hari ini keduanya bersaing ketat di Jawa Barat. Ia menganggap Jokowi mengalami kenaikan elektabilitas dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya.

“Berarti masyarakat Jabar sudah mulai memahami tentang keberhasilan pembangunan yang dipimpin oleh Pak Jokowi. terutama kalangan menengah ke bawah. Mereka yang mendapatkan alokasi dana PKH dan mendapat jatah bantuan pangan non-tunai,” kata Dedi.

Penyebab lainnya, menurut Dedi ada beberapa kebijakan ekonomi Jokowi yang berimplikasi pada masyarakat Jawa Barat. Seperti halnya pembangunan di beberapa wilayah. Mulai dari membangun jalan tol, dan membuka akses jalan lainnya. Ia hanya menyayangkan ketika masyarakat Jawa Barat dicekoki oleh berita-berita di media sosial yang terkesan menyudutkan Jokowi.

“Misalnya tentang tuduhan Pak Jokowi bukan Islam, Pak Jokowi PKI. Itu cukup meracuni pikiran masyarakat Jabar,” tuturnya.

Dedi juga membeberkan bahwa di Bogor dan Sukabumi banyak ditemukan kelompok-kelompok yang anti-Jokowi atas dasar agama.

Ia beranggapan sentimen itu sengaja dibangun oleh orangorang yang tidak bertanggung jawab. Namun, menurutnya kini kondisinya sudah menjadi lebih baik. Ia mengimbuh terus melakukan langkah konsolidasi.

Terbukti, tren pemilih Golkar khususnya terhadap Jokowi melakukan peningkatan yang cukup signifikan. Berdasarkan survei Charta Politika, peningkatannya terjadi sekitar 27 persen, mulai dari 40 persen menjadi 67 persen. “Artinya ada kenaikan kepercayaan publik kepada Pak Jokowi,” tuturnya. (dka/fik/radarbogor/kpc)

You Might Also Like