RUSLAN/KALTENG POS DISAMBUT HANGAT: Bupati Kobar Hj Nurhidayah, bersama Wabup Kobar Ahmadi Riansyah, DPRD Kobar, unsur forkopimda, serta PD terkait, saat melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Aruta, Rabu (30/01).


PANGKALAN BUN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Barat (Kobar) mulai melirik potensi bisnis tanaman kopi yang saat ini sangat digandrungi oleh masyarakat. Saat ini pemkab mencari lahan yang paling cocok untuk pengembangan tanamam kopi di wilayah Kabupaten yang berjuluk Bumi Marunting Batu Aji tersebut.

Salah satu wilayah yang berpontensi untuk dijadikan lokasi budidaya tanaman kopi nantinya yakni Desa Penyombaan, Kecamatan Arut Utara (Aruta).

Bupati Kobar Hj Nurhidayah mengatakan, saat ini pihaknya sedang dalam tahapan survei untuk lokasi kebun kopi, bahkan bupati sempat meninjau langsung jembatan akses jalan penghubung Riam-Pandau-Penyombaan menuju lokasi tempat budi daya kopi di Penyombaan.

Untuk persiapan merealisasikan rencana tersebut diperlukan lahan antara 100 hingga 200 hektare yang akan digunakan untuk pengembangan tanaman khusus untuk kopi.

“Dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar khusus di wilayah Kecamatan Aruta, Pemda Kobar akan membuka mengembangkan budi daya tanaman kopi di Kobar,”ujar Hj Nurhidayah, saat kunjungan kerja di Kecamatan Aruta, Rabu (30/1).

Pemilihan wilayah Kecamatan Aruta sebagai lokasi, dianggap cocok untuk dilakukan pengembangan tanaman kopi. Mengingat kopi hanya dapat tumbuh subur di wilayah tertentu, seperti di dataran tinggi.

“Terlebih, saat ini tren harga kopi di pasaran sedang bagus dan kebutuhan akan pasokan kopi di pasaran cenderung terus meningkat setiap tahunnya, sehingga dengan pembukaan kebun kopi nantinya, selain mampu menyerap tenaga kerja, diharapkan juga dapat memajukan wilayah Kecamatan Aruta, sehingga mampu bersaing dengan wilayah lainnya,”jelasnya.

Dengan demikian, masyarakat sekitar yang mayoritas penduduknya mata pencahariannya adalah pekerja tambang emas dan karyawan perkebunaan sawit bisa terbantu dengan rencana ini.

“Kopi ini termasuk tanaman hutan, jadi masyarakat tidak hanya bergantung pada perkebunan sawit, tapi ada potensi kebun lain yang mudah dan menghasilkan.Secara perlahan untuk mengurangi penambang ilegal di wilayah tersebut,” kata bupati perempuan pertama di Kalteng ini. (lan)

 

You Might Also Like