Ilustrasi proses uji vaksin Covid-19 dari perusahaan vaksin asal Inggris, AstraZeneca (Nelson Almeida | AFP)


SEORANG relawan di Brasil meninggal dunia setelah disuntik vaksin Covid-19 dari perusahaan vaksin asal Inggris, AstraZeneca, dalam uji klinis. Universitas Federal Sao Paulo yang membantu mengoordinasikan uji coba tahap akhir di Brasil, secara terpisah mengatakan bahwa relawan itu adalah warga Brasil dan berprofesi sebagai dokter menurut laporan Reuters.

Kini, AstraZeneca mendapat sorotan. Saham AstraZeneca, pelopor dalam perlombaan vaksin Covid-19, anjlok setelah berita itu tersiar. Saham turun sekitar 1 persen pada perdagangan sore hari.

Seorang juru bicara dari AstraZeneca menolak mengomentari sukarelawan tersebut, dengan alasan ada kerahasiaan medis dan peraturan uji klinis. Juru bicara AstraZeneca mengklaim bahwa semua peristiwa medis yang signifikan sudah dinilai dengan cermat oleh penyelidik percobaan.

“Dan penilaian ini tidak menyebabkan kekhawatiran tentang kelanjutan penelitian yang sedang berlangsung,” katanya dalam pernyataan seperti dilansir dari CNBC, Kamis (22/10).

Dalam sebuah pernyataan, juru bicara dari Universitas Oxford, yang mengembangkan vaksin bersama AstraZeneca, mengatakan tidak ada kekhawatiran tentang keamanan uji klinis setelah penilaian kasus di Brasil. “Peninjauan independen selain regulator Brasil telah merekomendasikan bahwa persidangan harus dilanjutkan,” kata juru bicara Oxford Alexander Buxton.

Oxford tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kematian sukarelawan tersebut, dan tidak jelas apakah sukarelawan tersebut menerima vaksin tersebut. Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pelaksanaan akan ditangguhkan jika sukarelawan itu menjadi bagian dari kelompok yang mendapat suntikan.

Kabar tersebut muncul karena Food and Drug Administration atau BPOM masih memiliki uji klinis tahap akhir dari AstraZeneca yang ditahan di Amerika Serikat. Itu berarti perusahaan tidak dapat memberikan dosis kedua dari rejimen vaksin dua dosisnya kepada peserta di AS.

Sebelum kejadian itu, AstraZeneca juga pernah menghadapi masalah. Perusahaan mengumumkan pada 8 September bahwa pelaksanaan telah ditunda karena ada seorang subjek mengalami demam, penyakit yang tidak dapat dijelaskan pada seorang pasien di Inggris. Pasien diyakini telah mengembangkan radang sumsum tulang belakang, yang dikenal sebagai myelitis transversal. Uji coba tersebut akhirnya dilanjutkan di Inggris dan negara lain.

AstraZeneca adalah satu dari 4 pembuat obat yang didukung oleh AS dalam pengujian tahap akhir untuk vaksin potensial. Vaksin AstraZeneca, yang disebut AZD1222, menggunakan materi genetik dari virus Korona dengan adenovirus yang dimodifikasi.

Pada Juli, perusahaan menerbitkan data yang menunjukkan vaksinnya menghasilkan respons imun yang menjanjikan dalam uji coba tahap awal dan tampaknya dapat ditoleransi dengan baik. “Vaksin tidak menghasilkan efek samping yang serius pada sukarelawan,” menurut para peneliti saat itu. Kelelahan dan sakit kepala adalah efek samping yang paling sering dilaporkan. Efek samping umum lainnya termasuk nyeri di tempat suntikan, nyeri otot, menggigil, dan demam.

Pada September, uji klinis sempat ditunda setelah seorang sukarelawan vaksin Oxford mengalami efek samping yang membahayakan usai disuntik vaksin Covid-19. Dia menderita demam tinggi dan menggigil 14 jam setelah menjalani suntikan anti-Covid. Sukarelawan yang tidak disebutkan namanya itu mendapat suntikan pertamanya pada Mei.

Dia mengungkapkan setelah disuntik bangun pada dini hari menggigil. Dan suhunya demam tinggi mencapai 39 derajat. “Saya merasa sangat lemah dan tidak bisa benar-benar bangun dan bergerak sehingga pasangan saya harus memberikan saya parasetamol,” katanya seperti dilansir dari The Sun, Jumat (11/9).

“Demamnya berlanjut selama sekitar satu hari, dan saya merasa sangat lemah dan lesu dan tidak bisa berbuat apa-apa,” imbuhnya.

Relawan tersebut mengatakan bahwa dia merasa sangat tidak nyaman sehingga tinggal di tempat tidur hampir sepanjang hari kedua setelah disuntik. Dia dijadwalkan untuk mendapatkan suntikan booster tapi tiba-tiba dibatalkan lewat email pada malam sebelumnya.

Perusahaan obat AstraZeneca mengumumkan pada Selasa malam (8/9) bahwa studi uji coba global vaksin Oxford telah dihentikan sementara setelah seorang peserta dari Inggris dirawat di rumah sakit dengan dugaan gangguan neurologis. Para peneliti menghentikan percobaan penting yang seharusnya menjadi harapan terbaik dunia. Lalu akhirnya uji klinis kembali dilanjutkan.

123

You Might Also Like