Ilustrasi. (foto: net)


KALTENGPOS.CO - Organisasi Kesehatan Dunia WHO memperingatkan, bahwa kemungkinan besar ‘obat manjur’ untuk mengobati virus corona (Covid-19) tidak akan pernah ada.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, pemerintah dan masyarakat seharusnya fokus pada langkah-langkah yang diketahui ampuh, yaitu testing, pelacakan kontak, jaga jarak fisik dan pemakaian masker.

“Kita semua berharap memiliki sejumlah vaksin ampuh yang bisa membantu mencegah orang tertular. Namun, tidak ada obat yang manjur saat ini, dan mungkin tidak akan pernah ada. Jadi, yang bisa dilakukan saat ini untuk menghentikan wabah adalah menerapkan dasar-dasar kesehatan masyarakat dan pengendalian penyakit,” ujar Tedros sebagaimana dilansir VOA, Selasa (4/8).

Meskipun banyak negara sudah memberlakukan pembatasan sosial selama berbulan-bulan sehingga melumpuhkan ekonomi, pandemi virus corona terus meluas. Kini tercatat hampir 700.000 kematian di seluruh dunia.

Di negara-negara yang sebelumnya berhasil mengendalikan, wabah kembali merebak, misalnya Australia yang pada Senin (2/8/2020) kembali menerapkan jam malam di Negara Bagian Victoria. Sementara di Filipina, pemerintah juga menerapkan kembali penutupan wilayah atau lockdown setelah jumlah penularan melampaui 100 ribu.

Berdasarkan data Worldometer, per Selasa 4 Agustus 2020, jumlah akumulasi kasus telah lebih dari 18 juta pasien, dengan penambahan 171.815 orang telah dinyatakan positif dalam 24 jam.

Sehingga total akumulasi kasus mencapai 18.406.862 orang, dengan 697.937 kematian dan sudah 11.647.251 pasien yang dinyatakan sembuh virus corona.

Terdapat 5 negara yang melaporkan penambahan kasus baru cukup tinggi di dunia pada Selasa pagi ini, yakni India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia dan Afrika Selatan.

Amerika masih menjadi negara yang paling terimbas pandemi. Sejauh ini, dilaporkan 4,6 juta kasus dan hampir 155.000 kematian di Amerika.

Deborah Birx, kepala gugus tugas virus corona Gedung Putih, memperingatkan negara itu telah memasuki fase baru. “Apa yang kita saksikan sekarang berbeda dari apa yang terjadi pada Maret dan April,” kata Birx kepada stasiun televisi CNN.

Kepala teknis WHO untuk tanggap COVID-19 Maria Van Kerkhove mengatakan, kajian baru-baru ini memperkirakan tingkat kematian akibat virus corona adalah 0,6 persen.

“Mungkin angka itu terdengar tidak besar, tetapi cukup tinggi jika memperhitungkan virus yang mudah menular, yang bisa menular dengan cepat,” katanya.

Pandemi mendorong banyak pihak bergegas membuat vaksin. Rusia pada Senin menyatakan akan meluncurkan vaksin secara massal pada September dan memproduksi “jutaan” dosis vaksin setiap bulan sebelum tahun depan.

123

You Might Also Like